Tiongkok Pulangkan Diplomat Panda Lei Lei & Xiao Xiao dari Jepang Seiring Ketegangan Bilateral

Senin, 29 Des 2025, 16:50 WIB

TOKYO – Sejak lebih dari setengah abad, panda raksasa Tiongkok telah menjadi wajah populer di kebun binatang Jepang, menghibur generasi demi generasi pengunjung dengan tingkah lucu dan imutnya.

Namun, senyum penggemar panda harus menghadapi kenyataan baru. Dua panda terakhir yang tersisa di Jepang, kembar Lei Lei dan Xiao Xiao, akan kembali ke Tiongkok pada Januari 2026.

Ket. Foto: Arsip - Pengunjung melihat anak panda kembar, Xiao Xiao (jantan) dan Lei Lei (betina), dan induknya di Kebun Binatang Ueno di Tokyo, Jepang, 12 Januari 2022. — Sumber: Tokyo Zoological Park Society/HO via Xinhua

Bagi banyak pengunjung, kabar ini bukan sekadar tentang hewan yang pergi, tetapi tentang kenangan yang akan sulit tergantikan.

Anak-anak yang tumbuh menunggu momen melihat panda bermain, hingga orang dewasa yang menjadikan kunjungan tahunan ke kebun binatang sebagai ritual nostalgia, kini harus bersiap melepas ikon yang telah menjadi bagian dari hidup mereka.

Kepulangan Lei Lei dan Xiao Xiao juga mencerminkan dinamika lebih luas: memanasnya hubungan diplomatik antara Jepang dan Tiongkok turut berimbas pada dunia satwa.

Di balik gerakan lucu dan senyum manis panda, tersimpan cerita tentang hubungan manusia dan hewan, serta bagaimana politik dapat memengaruhi kebahagiaan sederhana di kebun binatang.

Pada 1972, Tiongkok menghadiahkan sepasang panda ke Jepang setelah kedua negara menormalisasi hubungan bilateral usai Perang Dunia II.

Kang Kang dan Lan Lan, panda pertama yang tiba di Jepang, mencetak rekor 7,64 juta pengunjung Ueno Zoological Gardens pada 1974, menurut pihak pengelola kebun binatang di Tokyo tersebut.

Sejak itu, Tiongkok meminjamkan panda ke Jepang sebagai bagian dari apa yang dikenal sebagai "diplomasi panda."

Diplomasi tersebut kini berada di titik nadir menyusul keputusan Tiongkok untuk memulangkan panda kembar itu menyusul pernyataan kontroversial Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terkait Taiwan.

Takaichi mengatakan bahwa Jepang mungkin akan membela Taiwan jika terjadi "situasi yang mengancam kelangsungan hidup." Pernyataan itu memicu kemarahan Tiongkok, yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya.

Panda-panda di Ueno telah menyebabkan "demam panda" di Jepang dan melahirkan generasi pecinta panda, sehingga Tiongkok meminjamkan hewan itu ke fasilitas lain seperti Adventure World di Wakayama dan Oji Zoo di Kobe.

Namun, sejak panda dimasukkan ke dalam Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Terancam Punah (CITES) atau Konvensi Washington pada 1984, perdagangan komersial dilarang dan status panda menjadi pinjaman untuk kepentingan riset dan pengembangbiakan.

Krisis sempat terjadi pada 2008 ketika panda jantan Ling Ling mati, sehingga Ueno tidak memiliki koleksi panda. Setelah pemerintah dan pemangku kepentingan melakukan lobi, pasangan Ri Ri dan Shin Shin tiba di Jepang pada 2011.

Anak mereka, Shan Shan, lahir pada 2017, disusul si kembar Lei Lei (betina) dan Xiao Xiao (jantan) pada 2021.

Menurut Konvensi Washington, Tiongkok tetap menjadi pemilik panda dan semua panda pinjaman kelak harus dikembalikan.

Shan Shan dipulangkan pada 2023, disusul Ri Ri dan Shin Shin pada 2024. Di Wakayama, tiga panda dipulangkan pada 2023 dan empat lainnya pada tahun ini.

Kepulangan panda-panda itu memicu antrean panjang dan tangisan pengunjung di Ueno dan Wakayama.

Sejak Juni lalu, Lei Lei dan Xiao Xiao menjadi panda terakhir yang hidup di Jepang. Pada Desember, Tiongkok memutuskan untuk memulangkan keduanya.

Biasanya, Tiongkok akan mengirimkan panda pengganti. Namun, para pecinta hewan tersebut di Jepang khawatir hal itu tidak akan terjadi lagi di tengah ketegangan kedua negara.

Tiongkok juga telah mengimbau warganya untuk tidak bepergian ke Jepang dan menangguhkan impor makanan laut Jepang.

"Jika ketegangan terus berlanjut, Tiongkok bisa menolak meminjamkan panda baru dan panda mungkin takkan lagi terlihat di Jepang," kata seorang pakar seperti dikutip Beijing Daily.

Sejumlah pengamat menyebut situasi itu sebagai "sanksi panda."

Mengingat popularitasnya di Jepang, panda mungkin akan digunakan sebagai "kartu diplomatik" oleh Tiongkok untuk memaksa Takaichi mencabut pernyataannya.

Pada 2011, meski terjadi krisis diplomatik, Tiongkok tetap meminjamkan Ri Ri dan Shin Shin kepada Jepang.

Karena itulah, Pemerintah Metropolitan Tokyo tetap berencana mengajukan permohonan untuk meminjam panda baru.

"Kami tengah berkomunikasi dengan Asosiasi Konservasi Satwa Liar Tiongkok — bukan dengan pemerintah Tiongkok — untuk upaya pelindungan satwa dan riset," kata seorang pejabat. "Kami tak tahu seberapa besar aspek politiknya ikut terlibat."

Upaya mendatangkan panda bukan hanya urusan pemerintah, tetapi juga sektor swasta. Hal itu diungkapkan Yukinori Yokomi, Sekretaris Jenderal Asosiasi Persahabatan Jepang-Tiongkok.

"Panda adalah duta perdamaian Jepang dan Tiongkok," kata dia, seraya memperingatkan kemungkinan hilangnya kegiatan pertukaran (exchange events) di antara kedua negara.

Kekhawatiran juga diungkapkan oleh para pecinta panda.

"Panda adalah hewan spesial yang membuat hati tenang saat melihatnya," kata seorang pria 42 tahun asal Kyoto yang sedang mengunjungi Ueno bersama putrinya.

Dia mengaku memahami kompleksitas hubungan diplomatik Jepang-Tiongkok, tetapi berharap panda tetap berada di Ueno "demi anak-anak yang menantikan kehadiran mereka."

"Aku sedih kalau panda-panda yang lucu itu menghilang," kata putrinya yang berusia lima tahun sembari memeluk boneka panda.

  • Panda Raksasa
  • konflik tiongkok-jepang

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.