Eddy Soeparno: Ketahanan Energi Syarat Utama bagi Indonesia untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional 8 Persen
Senin, 29 Des 2025, 20:15 WIBJAKARTA - Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno menegaskan bahwa ketahanan energi merupakan syarat utama bagi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen.
âCapaian pertumbuhan 5,04 persen patut kita syukuri. Namun jika kita ingin mencapai target pertumbuhan 8 persen, kita harus jujur melihat tantangan perekonomian kita, salah satunya adalah paradoks energi,â ujar Eddy.
Eddy menjelaskan, Indonesia sejatinya memiliki kekayaan sumber daya energi yang sangat besar, mulai dari energi surya, hidro, angin, panas bumi, hingga potensi penyimpanan karbon.
Namun di sisi lain, struktur ekonomi nasional masih sangat bergantung pada impor energi, khususnya BBM dan LPG, yang membuat ketahanan energi sekaligus ketahanan fiskal menjadi rentan.
âSelama kita masih mengimpor energi dalam jumlah besar, selama itu pula ketahanan ekonomi kita tidak akan sepenuhnya kuat. Ketahanan energi bukan sekadar isu teknis tetapi harus menjadi isu strategis nasional,â tegasnya.
âPotensi energi kita sangat besar, baik energi terbarukan, sumber daya fosil, hingga kapasitas penyimpanan karbon. Tetapi faktanya, perekonomian nasional masih bergantung pada impor BBM dan LPG. Inilah paradoks energi yang harus segera kita selesaikan untuk wujudkan ketahanan energi,â ujar Eddy.
Dalam konteks tersebut, Waketum PAN ini menilai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025â2034 menjadi instrumen kebijakan yang sangat krusial. RUPTL tidak hanya memetakan kebutuhan pasokan listrik nasional, tetapi juga menjadi peta jalan transformasi energi Indonesia dalam satu dekade ke depan.
Dalam upaya transisi menuju energi bersih, Doktor Ilmu Politik UI ini juga menyampaikan bahwa perubahan iklim telah menjadi ancaman nyata terhadap ekonomi nasional, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan pembangunan Indonesia.
Menurut Eddy, sepanjang 2025 Indonesia menyaksikan langsung eskalasi bencana iklim di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Jawa, hingga Bali. Banjir, longsor, dan cuaca ekstrem tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur dan kerugian ekonomi dalam skala yang sangat besar.
âKrisis iklim bukan lagi risiko yang akan datang. Ia sudah hadir di tengah kita, dan dampaknya sangat nyata bagi masyarakat,â ujar Eddy.
Ia mengingatkan bahwa tanpa kebijakan mitigasi dan adaptasi yang kuat, krisis iklim berpotensi menekan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia lebih dari 1 persen pada 2030. Dampak lanjutan dari kondisi tersebut adalah hilangnya ratusan ribu lapangan kerja, meningkatnya beban fiskal negara, serta menurunnya daya tarik investasi.
Dalam situasi ini, Eddy menilai kebijakan energi dan iklim harus menjadi bagian integral dari strategi pembangunan nasional. RUPTL 2025â2034, penguatan bauran energi bersih, serta pembangunan infrastruktur pendukung energi rendah karbon dipandang sebagai instrumen penting untuk mengurangi risiko ekonomi akibat perubahan iklim.
âMengakhiri paradoks energi adalah bagian dari upaya kita mewujudkan lingkungan yang lebih baik dan mencegah meluasnya dampak krisis iklim,â jelas Eddy.
- Ketahanan Energi Nasional
- Eddy Soeparno
- Pertumbuhan ekonomi 8 Persen
Redaktur: Sriyono
Penulis: Sriyono
Berita Terkait:
-
PMPP TNI Gelar Demonstrasi EHAT-IED Di Hadapan Delegasi UNMAS
-
Pepper, Robot Humanoid Pertama di Dunia yang Diproduksi Massal
-
Persija vs Arema FC: Ambisi Mauricio Souza Kejar Puncak Klasemen
-
Dubes Uni Emirat Arab Temui Pimpinan MPR Eddy Soeparno Tindak Lanjuti Perluasan Kerja Sama Bidang Energi Terbarukan
-
Gempa Tektonik di Bener Meriah Aceh akibat Aktivitas Sesar Aktif
-
Bulog Tegaskan Swasembada Merupakan Kunci Kedaulatan
-
Puluhan Rumah dan Fasilitas Umum Rusak Diterjang Hujan dan Angin Kencang di Pamekasan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.