• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Telaga Menjer, Danau Tenan...

Telaga Menjer, Danau Tenang di Kaki Dieng

Jumat, 19 Des 2025, 06:17 WIB

Pagi di Wonosobo yang berada di ketinggian selalu datang perlahan, seolah kabut enggan beranjak pergi. Udara dingin yang terjebak di lereng-lereng Dataran Tinggi Dieng seakan mengajak siapa pun untuk tidak tergesa-gesa meninggalkan tempat ini.

Di antara wilayah yang didominasi perkebunan sayur dan hutan berpepohonan rendah, muncul hamparan air yang menjadi oase bagi masyarakat sekitar. Di sela kebun kentang, ladang tembakau, dan hutan pinus yang sunyi, Telaga Menjer terhampar tenang, seperti sebuah rahasia alam yang menunggu untuk didekati dengan sabar.

Ket. Foto: Telaga Menjer. — Sumber: Doc. RRI

Perjalanan menuju Telaga Menjer bukan sekadar perpindahan lokasi, melainkan sebuah pengantar suasana. Dari pusat Kota Wonosobo, kendaraan melaju ke arah Garung melalui jalan yang mulai menanjak perlahan dengan sesekali kelokan tajam. Di kiri dan kanan, pepohonan berdiri rapat, sementara udara semakin tinggi semakin terasa sejuk.

Tepat di Jalur Wonosobo–Dieng kilometer 12, Desa Maron, Kecamatan Garung, telaga tersebut berada. Begitu air mulai terlihat dari kejauhan, langkah kaki seakan melambat dengan sendirinya. Hamparan air seluas 70 hektar pada ketinggian rata-rata 1.300 mdpl dengan kedalaman mencapai 50 meter ini seolah menyapa dari kejauhan. Airnya yang berwarna hijau kebiruan muncul dengan anggun di antara dekapan perbukitan Gunung Seroja.

Tidak ada suara mesin, tidak ada hiruk-pikuk. Hanya desir angin dan sesekali suara burung yang melintas rendah. Di sini, udara begitu sejuk, bahkan terkadang menusuk tulang. Tentu saja, siapa pun yang datang ke sini harus menyiapkan baju hangat untuk menghalau dingin.

Telaga Menjer yang luas lebih menyerupai danau daripada telaga pada umumnya yang berukuran kecil. Permukaan airnya yang tenang hampir selalu tanpa riak, menjadi tempat bagi puncak pegunungan di sekitarnya untuk “bercermin”—seolah menyimpan kesabaran selama ribuan tahun.

Ketenangan itu tercermin dari namanya. Meski asal-usul nama “Menjer” tidak memiliki sumber tertulis yang baku, terdapat cerita lisan yang hidup di masyarakat. Penjelasan yang paling dipercaya adalah kata tersebut berasal dari bahasa Jawa yang berarti diam, tenang, atau tetap di tempat. Hal ini terbukti dari permukaan airnya yang sekilas sering terlihat diam seperti cermin tanpa gelombang, tanpa arus kuat seperti sungai yang mengalir deras.

Menariknya, warna air Telaga Menjer senantiasa berubah. Pada pagi hari, ia tampak kehijauan pucat diselimuti kabut tipis. Menjelang siang, warnanya berubah menjadi biru kehijauan jernih yang memantulkan langit. Saat sore tiba, cahaya matahari jatuh miring dan menciptakan pantulan emas yang lembut di permukaannya.

Dikelilingi perbukitan hijau yang rapat, telaga ini tampak seperti mangkuk raksasa yang menjaga kemurnian air di dalamnya. Lereng-lerengnya ditumbuhi hutan pinus, semak pegunungan yang rendah, serta kebun milik warga. Di sini, kabut adalah bagian tak terpisahkan; ia datang dan pergi tanpa aba-aba. Namun, dalam dekapan kabut itulah Telaga Menjer terasa paling puitis: sunyi, misterius, sekaligus damai. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.