Hunian Sementara Berbasis Desain Lokal Disiapkan untuk Penyintas Bencana

Jumat, 19 Des 2025, 17:30 WIB

YOGYAKARTA - Kebutuhan akan tempat tinggal yang layak bagi penyintas banjir dan longsor kerap terabaikan ketika masa tanggap darurat berlalu. Padahal, ribuan keluarga harus menjalani kehidupan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, sebelum rumah permanen dapat dibangun kembali. Kondisi inilah yang mendorong Universitas Gadjah Mada (UGM) merancang model hunian sementara yang tidak sekadar bersifat darurat, tetapi mampu menopang kehidupan keluarga secara manusiawi.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 18 Desember, bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah menyebabkan 1.059 korban jiwa. Selain itu, 192 orang masih dilaporkan hilang dan sekitar 147 ribu unit rumah mengalami kerusakan. Skala dampak tersebut membuat proses pemulihan diperkirakan berlangsung lama, sementara para penyintas membutuhkan ruang hidup yang aman dan layak selama masa transisi.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. ugm.ac.id

Melalui grup penelitian Tangguh, kolaborasi lintas keilmuan antara Arsitektur, Teknik Sipil, serta Perencanaan Wilayah dan Kota, UGM menyusun desain hunian sementara yang dapat dibangun cepat, mudah, dan sesuai dengan kondisi lokal wilayah terdampak.

Salah satu peneliti, Nares, menjelaskan bahwa konsep hunian ini lahir dari pengamatan langsung terhadap keterbatasan solusi yang selama ini digunakan. Menurutnya, penggunaan tenda dan terpal tidak dirancang untuk menopang kehidupan warga dalam jangka panjang, terlebih ketika pembangunan hunian tetap memerlukan waktu bertahun-tahun. “Berarti, bisa jadi warga itu akan berada di lokasi itu sebelum ada hunian yang tetap, itu pasti dalam jangka waktu yang lama. Jadi, terpal atau tenda sementara rasanya kok kurang manusiawi,” katanya, Jumat (19/12), saat pembuatan mock-up hunian di Laboratorium Struktur Fakultas Teknik UGM.

Hunian transisi ini dirancang berbasis keluarga, bukan komunal, dengan ukuran standar agar aktivitas domestik dapat berjalan normal. Prinsip utama desain adalah memanusiakan penyintas, sekaligus memberi rasa aman dan privasi. Material yang digunakan berasal dari sumber lokal dan dapat didaur ulang, salah satunya kayu hanyutan banjir yang tersedia melimpah di lokasi terdampak.

Dari sisi konstruksi, hunian dirancang dengan teknologi sederhana agar dapat dibangun langsung oleh masyarakat. Peneliti lainnya, Ashar Saputra, menjelaskan bahwa struktur bangunan menggunakan papan kayu berukuran 3 x 12 sentimeter dengan sistem sambungan baut. “Strukturnya hanya pakai baut saja dan alatnya hanya bor. Harapannya itu, sangat sederhana sehingga orang awam dapat membuat rumahnya sendiri. Tempel, gapit, baut,” ungkapnya.

Kayu yang digunakan diperkirakan mampu bertahan selama 3–4 tahun dalam berbagai kondisi cuaca. Dengan masa pakai hunian sekitar 3–5 tahun, desain ini dinilai cukup untuk menjembatani masa tunggu hingga hunian permanen dapat direalisasikan. Menurut Ashar, keterlibatan warga dalam proses pembangunan juga mempercepat pemenuhan kebutuhan rumah sekaligus menumbuhkan rasa memiliki. “Masyarakat juga akan merasa lebih memiliki, karena ikut serta dalam pembuatannya,” tegasnya.

UGM menekankan bahwa desain hunian sementara tidak bersifat seragam. Setiap wilayah memiliki karakteristik berbeda, mulai dari kondisi tanah, topografi, hingga budaya dan kebiasaan bermukim. Karena itu, desain disesuaikan dengan konteks lokal, termasuk kebutuhan ruang seperti teras untuk interaksi sosial, tanpa meninggalkan standar minimum luas hunian 36 meter persegi. “Kalau di Lombok waktu itu pakai baja, lokasinya masih memungkinkan untuk membawa baja dari Pulau Jawa. Kalau Sumatera, lebih susah. Jadi, pemilihan material itu juga sangat tergantung lokasinya,” jelas Nares.

Saat ini, pengembangan hunian sementara tersebut masih berada pada tahap mock-up dan perancangan teknis. Tahap berikutnya adalah penyusunan modul, brosur, dan materi pelatihan agar masyarakat lokal dapat membangun hunian transisi secara mandiri. “Kita ingin warga lokal sendiri yang melaksanakan supaya mereka bisa lebih cepat mendapat rumah mereka kembali,” tutup Nares.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

Berita Terbaru

BNPB Evakuasi Lansia Korban Gempa Pulau Palue ke RSUD Maumere, Begini Kondisinya

Mau Bayar Pajak Kendaraan Bermotor? Ini 14 Lokasi Samsat Keliling Jadetabek Senin

Jumlah rumah rusak akibat gempa di NTT

Cabai Rawit Makin Pedas! Harga Capai Rp69.950/Kg dan Telur Ayam Rp29.250

Mengkhawatirkan! Burung Ekek Keling Sunda Terancam Punah, Populasinya Kian Menurun

Perusahaan Milik Kampus UGM Go Public! Target IPO Capai Rp45 Miliar

Tinjau Karhutla Kalsel, Menhut Raja Antoni: Api Sudah Tak Terlihat, tapi Gambut Masih Berasap.

Dalang Karhutla Diburu! Komisi III DPR Apresiasi Langkah Tegas Polri

Coco Gauff Juara Cincinnati Open untuk Kedua Kalinya, Masuk Klub Elite WTA

Gratis dan Siaga 24 Jam! Pertamina Buka Posko Medis bagi Warga Manggarai NTT

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

Mengerikan Tragedi Kebakaran Rumah di Tebet, 4 Orang Tewas

Arthur Fils Juara Cincinnati Masters 1000, Tekuk Tiafoe dalam Final Bersejarah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.