Di Balik Kilau Trofi Australian Open: Sentuhan Tangan Pengrajin Sydney dan Nilai Seni Miliaran Rupiah

Minggu, 14 Des 2025, 07:15 WIB

SYDNEY – Di panggung megah Australian Open, sorotan dunia memang tertuju pada para juara. Namun di balik kilau trofi yang diangkat tinggi di Rod Laver Arena, tersimpan kerja senyap para pengrajin perak Sydney yang menjaga tradisi, presisi, dan nilai seni tingkat tinggi.

Paul Smith, pengrajin perak yang terlibat langsung dalam pembuatan trofi juara tunggal putri Australian Open, memahami betul bahwa detail kecil menentukan kebesaran sebuah turnamen. Ia bertanggung jawab atas replika Daphne Akhurst Memorial Cup, trofi legendaris yang sejak 1934 dianugerahkan kepada juara tunggal putri.

Ket. Foto: Ilustrasi trofi Australia Open. — Sumber: AFP

Trofi asli memang tetap berada di Australia, tetapi replika identik yang dibawa pulang sang juara dibuat oleh bengkel perak W.J. Sanders di Sydney.

“Ini bukan trofi yang mudah dibuat,” kata Smith. “Desainnya terlihat sederhana, tetapi justru karena itu tingkat akurasinya harus sangat tinggi. Siluetnya bersih dan elegan. Menurut saya, inilah bentuk ideal sebuah trofi.”

Smith bekerja bersama sembilan pengrajin lainnya di sebuah bengkel di kawasan pinggiran Sydney. Tim ini tengah menggarap sekitar 150 trofi untuk Australian Open 2026, termasuk replika persis Norman Brookes Challenge Cup yang akan diterima juara tunggal putra di Melbourne Park.

Bagi Darren May, General Manager W.J. Sanders, proses tersebut bukan pekerjaan musiman. Persiapan trofi bahkan telah dimulai sebelum Australian Open 2025 digelar dan baru akan rampung ketika para juara mengangkat hasil karya itu pada final di awal tahun depan.

“Saat final tunggal putra, tunggal putri, maupun ganda, dan trofi itu diangkat, kami selalu teringat waktu panjang yang kami habiskan serta keterampilan yang dicurahkan untuk membuatnya,” ujar May.

Trofi-trofi utama, tunggal putra dan putri, ganda putra dan putri, serta ganda campuran—seluruhnya dibuat secara manual dari sekitar 18 kilogram perak.

Keahlian membuat trofi secara tradisional ini kini semakin langka. Bahkan, keterampilan tersebut telah masuk kategori “kerajinan terancam punah” dalam Heritage Crafts Red List di Inggris. Meski demikian, May menegaskan, sentuhan manusia tak tergantikan.

“Produksi massal memang memungkinkan, tetapi itu menghilangkan jiwa dari sebuah benda,” katanya. “Sentuhan tangan manusia tidak bisa direplikasi oleh mesin.”

Pada edisi awal tahun ini, Jannik Sinner mengangkat Norman Brookes Challenge Cup, sementara Aryna Sabalenka menerima Daphne Akhurst Memorial Cup. Keduanya dijadwalkan kembali tampil di Melbourne pada 18 Januari hingga 1 Februari, dengan ambisi menambah satu lagi gelar Australian Open, dan satu lagi karya seni bernilai miliaran rupiah, ke dalam lemari trofi mereka.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.