Basarnas: Bekerja 24 Jam Nonstop di Garda Terdepan Bencana

Jumat, 05 Des 2025, 06:00 WIB

Kepala Basarnas, Mohammad Syafii

Tantangan utama dalam operasi pencarian korban banjir dan longsor di wilayah Sumatera, terkait kondisi lapangan yang sangat berat akibat endapan lumpur tebal. Sebagai garda terdepan dalam bencana alam, Tim SAR bekerja 24 jam nonstop agar operasi kemanusiaan berjalan optimal hingga seluruh korban ditemukan.

Ket. Foto: — Sumber: Koran Jakarta/m fachri

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan atau biasa dikenal sebagai Basarnas menjadi garda terdepan dalam setiap bencana alam di Tanah Air.

Lembaga Pemerintah Nonkementerian yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pencarian dan pertolongan (Search And Rescue/SAR) itu bekerja 24 jam nonstop dalam situasi medan berat, transportasi jalur darat terputus, komunikasi terputus, aliran listrik mati, dan cuaca ekstrem. Kondisi itu mengharuskan dan membutuhkan stamina ekstra.

Kondisi tersebut terjadi setelah tim SAR yang ditempatkan di titik-titik terisolasi harus berjalan kaki berjam-jam menyusuri medan licin dan terjal tanpa kontak radio memadai, sehingga tekanan fisik dan mental cukup tinggi.

Hal itu tecermin dalam penanganan bencana alam longsor dan banjir bandang di Sumatera Barat dan Sumatera Utara, Aceh. Tim telah bekerja sejak operasi SAR dimulai pada 25 November lalu. Untuk mengetahui bagaimana kondisi terkini bencana alam di Pulau Sumatera yang telah merengkut ratusan jiwa, ratusan orang hilang, dan ratusan ribu mengungsi tersebut, Wartawan Koran Jakarta Erik W merangkum paparan dari Kepala Basarnas Mohammad Syafii terkait langkah-langkah penanganan bencana yang menjadi terbesar di tahun 2025 dalam sejumlah kesempatan. Berikut petikannya.

Apakah masih ada daerah yang terisolir akibat bencana di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat?

Bagi Badan SAR Nasional, tidak ada kata-kata daerah terisolasi karena kita bisa menjangkau entah itu dengan pesawat maupun kita dengan sarana laut.

Yang terputus adalah transportasi darat, biasanya seperti itu daerah terisolasi. Sehingga kadang-kadang daerah terisolasi itu sarana darat tidak masuk, kemudian listrik padam, kemudian jaringan komunikasi terputus.

Sudah tidak ada daerah terisolasi lagi akibat bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Daerah terisolasi sebenarnya saat ini sudah terbuka. Kalau misalkan ada, berarti kan ada laporan. Saat ini sudah tidak ada laporan tentang itu.

Apa yang berhasil dilakukan Basarnas saat bencana Aceh, Sumut, dan Sumbar?

Basarnas mencatat 33.173 jiwa korban berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat dari wilayah terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Jumlah tersebut merupakan hasil rekapitulasi dalam rangkaian operasi yang dilakukan petugas gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan otoritas pemerintah daerah.

Keberhasilan evakuasi selamat ini tidak lepas dari peran potensi SAR yang mencapai lebih dari 5.000 personel di Sumatera Utara dan ratusan di Aceh serta Sumatera Barat sejak operasi SAR dimulai 25 November.

Untuk di Aceh, total korban lebih dari seribu orang, termasuk evakuasi dari titik terpencil seperti Kecamatan Mane, Geumpang (Kabupaten Pidie) dan Seulimeum (Kabupaten Aceh Besar) yang dilakukan melalui jalur darat, sungai, dan udara.

Sementara di Sumatera Utara, evakuasi terbesar terjadi di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan dengan lebih dari 3.000 warga terdampak, termasuk ratusan warga yang dievakuasi menggunakan helikopter.

Sumatera Barat juga mencatat ribuan warga dievakuasi dari daerah banjir bandang dan longsor, terutama di Kabupaten Agam dan Pasaman Barat yang mengalami kerusakan permukiman paling parah.

Kami mengapresiasi seluruh unsur pemerintah dan masyarakat yang turut membantu upaya penyelamatan sejak hari pertama bencana melanda. Dalam kesempatan itu, dia memastikan operasi SAR akan terus berjalan mengingat masih adanya laporan warga hilang di beberapa kabupaten.

Pusat Pengendalian Operasi Basarnas sebelumnya melaporkan total 33.620 warga terdampak, 708 korban meninggal, dan 499 orang masih hilang. Dari jumlah tersebut hingga Senin atau hari ketujuh tanggap darurat ini ada sebanyak 33.173 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.

Dalam kesempatan operasi yang sama di Provinsi Aceh, Basarnas mengevakuasi 1.146 warga, dimana 218 meninggal dunia dan 227 masih dalam pencarian. Sebanyak 165 personel Basarnas diterjunkan untuk memperkuat Kantor SAR Banda Aceh.

Wilayah Sumatera Utara mencatat kondisi darurat paling luas, dengan 3.029 warga terdampak, 294 meninggal, dan 155 masih hilang. Basarnas mengerahkan helikopter, kapal, drone, perahu karet, dan 121 personel untuk mendukung operasi.

Di Sumatera Barat, 29.445 warga terdampak dan 196 meninggal dunia dan 117 orang hilang. Operasi difokuskan pada desa-desa terisolasi serta lokasi longsor besar yang menyulitkan akses tim penyelamat menuju titik pencarian.

Seberapa banyak pengerahan personil Basarnas kali ini?

Pengerahan personel peralatan dan perlengkapan alutsista udara, laut, dan darat dalam operasi SAR tanggap darurat bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat merupakan yang terbesar sepanjang tahun 2024–2025.

Pengerahan besar-besaran ini dilakukan setelah evaluasi pada hari keempat tanggap darurat menunjukkan akses darat tidak dapat dipulihkan cepat, sehingga sebagian besar bantuan dan evakuasi dilakukan melalui udara.

Lebih dari 6.000 personel SAR untuk operasi tanggap darurat bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terdampak bencana hidrometeorologi sejak 25 November 2025.

Bila melihat luas cakupan wilayah jumlah personel kita sangat kurang. Jadi kekuatan tersebut selain personel Basarnas yang diperkuat kantor SAR dari berbagai daerah, juga mesti melibatkan unsur potensi SAR, serta dukungan TNI-Polri dan relawan.

Di Provinsi Aceh, total personel yang terlibat mencapai 389 orang, terdiri atas 165 personel Basarnas dan 224 potensi SAR. Mereka bertugas menangani banjir dan longsor di wilayah yang aksesnya masih terputus, termasuk Aceh Utara, Bireuen, Pidie, dan kawasan pegunungan tengah.

Untuk Sumatera Utara, kekuatan yang dikerahkan jauh lebih besar. Operasi dipimpin Kantor SAR Medan dengan dukungan 121 personel Basarnas, yang diperkuat oleh 5.378 potensi SAR dari berbagai unsur.

Adapun total kekuatan SAR mencapai 5.500 personel, menjadikannya operasi terbesar di antara ketiga provinsi tersebut, mengingat luasnya cakupan kerusakan di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Mandailing Natal, hingga Humbang Hasundutan.

Sementara di Sumatera Barat, Kantor SAR Padang mengerahkan 128 personel dibantu tambahan kekuatan dari kapal dan helikopter Basarnas.

Dengan begitu total personel gabungan dalam operasi SAR mencapai sekitar lebih dari 150 orang yang difokuskan pada penanganan longsor dan banjir bandang di Kabupaten Agam, Tanah Datar, Pesisir Selatan, dan kota/kabupaten lainnya.

Sementara untuk kelengkapan peralatan SAR yang dikerahkan terdiri atas tiga unit helikopter, 10 unit drone thermal, tiga kapal laut, 61 perahu karet, 26 truk, 29 unit mobil dobel gardan, 34 unit motor trail. Masing-masing dari Basarnas Pusat di Jakarta, Kantor SAR Aceh, Medan, Nias, Padang, Tanjung Pinang, Pekanbaru, Bengkulu, Jambi, Mentawai dan Palembang.

Kekuatan tersebut masih dapat bertambah, karena Basarnas terus mengirim dukungan dari sejumlah kantor SAR sekitar, termasuk pengerahan kapal, helikopter, dan peralatan pendukung untuk menjangkau wilayah yang masih terisolasi.

Seperti apa kondisi di lapangan?

Tim SAR bekerja 24 jam nonstop dalam situasi medan berat, komunikasi terputus, dan cuaca ekstrem, sehingga membutuhkan stamina ekstra.

Kondisi tersebut terjadi setelah tim SAR yang ditempatkan di titik-titik terisolasi harus berjalan kaki berjam-jam menyusuri medan licin dan terjal tanpa kontak radio memadai, sehingga tekanan fisik dan mental cukup tinggi.

Beberapa personel, sudah bertugas lebih dari 72 jam tanpa jeda ketika banjir bandang dan longsor terjadi secara bersamaan, terutama di Agam dan Tapanuli Selatan.

Basarnas kemudian menambah pasukan cadangan dari menggunakan KN Ganesha dari Jakarta dan Kantor SAR Pekanbaru untuk menggantikan personel yang sudah kelelahan di Aceh dan Sumatera Barat.

Sementara di Sumatera Utara, beban kerja meningkat karena banyaknya desa terisolasi yang hanya dapat dijangkau dengan helikopter, sehingga tim harus melakukan evakuasi udara berkali-kali dalam sehari.

Keselamatan penyelamat/rescuer tetap menjadi prioritas utama, dan rotasi tim mulai dilakukan secara berkala untuk menjaga kualitas operasi dan menghindari kecelakaan.

Dukungan berbagai pihak terus mengalir agar operasi kemanusiaan ini dapat berjalan optimal hingga seluruh korban ditemukan.

Pusat Pengendalian Operasi Basarnas mencatat total 33.620 warga terdampak. Dari jumlah tersebut hingga hari ini sebanyak 33.173 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.

Dalam kesempatan operasi yang sama di Provinsi Aceh, Basarnas mengevakuasi 1.146 warga, dan sebanyak 165 personel Basarnas diterjunkan untuk memperkuat Kantor SAR Banda Aceh.

Wilayah Sumatera Utara mencatat kondisi darurat paling luas, dengan 3.029 warga terdampak. Basarnas mengerahkan helikopter, kapal, drone, perahu karet, dan 121 personel untuk mendukung operasi.

Di Sumatera Barat, 29.445 warga terdampak. Operasi difokuskan pada desa-desa terisolasi serta lokasi longsor besar yang menyulitkan akses tim penyelamat menuju titik pencarian.

Kayu gelondongan itu apakah tidak menghambat pencarian korban?

Gelondongan kayu yang terbawa banjir di Sumatera tak akan menghambat Tim SAR dalam melakukan pencarian korban.Kalau dari proses pencarian, saya rasa tidak. Karena operasi SAR yang kita lakukan ini sebenarnya dalam rangka mencari di mana posisi korban.

Tantangan utama dalam operasi pencarian korban banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera, adalah kondisi lapangan yang sangat berat akibat endapan lumpur tebal.

Ketika korban telah tertimbun lumpur yang mulai mengering, upaya evakuasi membutuhkan tenaga dan peralatan tambahan.

Operasi SAR yang kita lakukan ini sebenarnya dalam rangka mencari di mana posisi korban. Justru yang menjadi permasalahan adalah ketebalan lumpur pada saat mengering.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Basarnas mengerahkan personel dari kantor SAR terdekat serta melibatkan berbagai unsur potensi SAR di wilayah terdampak.

Selain itu, tim juga telah menggunakan K-9 (anjing pelacak) untuk mempercepat proses menemukan korban yang masih hilang. Jadi pada saat korban sudah tertimbun lumpur, di situ yang membutuhkan usaha ekstra.

Bagaimana Anda melihat tantangan pada bencana Sumatera ini?

Karakter bencana kali ini jauh lebih kompleks. Banjir besar yang disertai banjir lumpur serta longsor membuat proses evakuasi membutuhkan personel dan waktu lebih banyak dibandingkan operasi SAR pada bencana lain.

Pada saat kita penanganan operasi bencana banjir, kemudian diikuti banjir bandang lumpur serta longsor, yang pertama dibutuhkan jumlah personel SAR yang lebih dari normal.

Tim SAR yang bertugas di wilayah terisolasi harus menyusuri area tanpa bisa memprediksi medan di depan. Dalam kondisi tersebut, personel tidak dapat bekerja dengan sistem pergantian yang ideal seperti pada operasi runtuhan bangunan.

Selain itu, akses darat yang terputus menjadi hambatan signifikan. Kondisi ini membuat tim sangat bergantung pada dukungan sarana udara serta logistik yang harus dikirim melalui jalur alternatif. Hal ini berdampak pada durasi operasi yang menjadi lebih panjang serta kebutuhan biaya yang meningkat.

Untuk memperkuat operasi, Basarnas telah mengerahkan tambahan personel dan armada dari berbagai kantor SAR yang tidak terdampak bencana. Penguatan dikirim dari Tanjung Pinang, Pontianak, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, hingga Semarang.

Beberapa hari ini kalau teman-teman memonitor bahwa Badan SAR Nasional mengerahkan perkuatan. Ada beberapa kapal, mulai dari kekuatan yang ada di kantor-kantor SAR yang tidak terdampak, mereka akan kita kirim mendekat.

Selain itu, kapal SAR dari Batam juga dikerahkan, termasuk Kapal Ganesha dari Jakarta yang dijadwalkan bergerak besok pagi membawa tambahan logistik, personel, serta peralatan SAR perorangan.

Sampai kapan pencarian korban?

Operasi SAR secara standar berjalan tujuh hari. Namun batas itu bukan berarti operasi langsung dihentikan. Tapi tujuh hari ini akan dievaluasi, dan pada saat situasi masih memungkinkan untuk dilaksanakan operasi lanjutan.

Operasi akan dihentikan pada saat diyakini bahwa korban sudah tidak memungkinkan lagi untuk dilaksanakan operasi pencarian.

Apakah Basarnas tidak alami keterbatasan sarana dan prasarana?

Pasti sangat kurang karena sesuai harapan dari masyarakat tentunya kami diharapkan hadir di setiap kabupaten. Misalkan di Sumatera Barat, satu kantor besar meng-cover 18 kabupaten kota dengan jumlah personel yang ada juga sangat terbatas.

Basarnas memang memiliki kemampuan menjadi SAR Mission Coordinator. Aman, tetapi tidak mungkin untuk melaksanakan seluruh tugas penyelamatan.

Sehingga yang kami lakukan bahwa kami harus dibantu oleh seluruh potensi. Artinya potensi SAR itu yang paling dasar itu siapa? Adalah seluruh warga negara yang tidak terdampak.

Makanya diharapkan warga yang tidak terdampak bisa mengambil tindakan awal sambil menunggu tindakan khusus dari lembaga atau badan yang berkepentingan.

Khususnya kami adalah yang berkepentingan terhadap penanganan khusus kedaruratan operasi dalam operasi SAR.

Bagaimana kesiapan Basarnas hadapi Natal dan Tahun Baru 2026?

Basarnas memastikan kesiapsiagaannya dalam menghadapi periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Sebanyak 4.021 personel beserta armada laut, darat, dan udara telah disiagakan untuk mendukung kelancaran dan keselamatan masyarakat selama masa libur Nataru. Penguatan respons cepat difokuskan pada titik-titik strategis meliputi pelabuhan, bandara, terminal, stasiun, jalan tol, tempat wisata, serta wilayah rawan bencana.

Selain itu, Basarnas juga mengerahkan 17.076 personel Potensi SAR dari berbagai unsur untuk memperkuat operasi lapangan. Sejumlah potensi ancaman yang diantisipasi antara lain bencana hidrometeorologi, kejadian geologi, kecelakaan transportasi, dan kondisi membahayakan manusia.

Basarnas menegaskan pentingnya pendataan manifes penumpang serta penggunaan perangkat deteksi dini marabahaya oleh seluruh operator transportasi. Seluruh unsur SAR di seluruh Indonesia dipastikan siaga penuh 24 jam selama periode Nataru.

Basarnas juga mengimbau masyarakat untuk selalu mematuhi aturan keselamatan dan mengikuti arahan petugas demi menjaga keamanan bersama selama masa liburan.

Tahun 2025 banyak pemotongan anggaran. Apakah operasional Basarnas tidak terganggu dengan efisiensi ini?

Pada tahun 2025 Basarnas memperoleh pagu anggaran sebesar 1,49 triliun rupiah. Dari jumlah tersebut, dilakukan efisiensi sebesar 409 miliar rupiah sebagai bagian dari kebijakan nasional penghematan belanja. Namun melalui beberapa kali relaksasi, pemblokiran anggaran berhasil ditekan hingga menyisakan 9,88 miliar rupiah.

Kami memastikan bahwa efisiensi tidak mengurangi kinerja, terutama dalam kegiatan yang berhubungan langsung dengan pelayanan pencarian dan pertolongan. Relaksasi anggaran kami arahkan untuk pengadaan dan pemeliharaan sarana prasarana, sistem komunikasi, serta teknologi informasi SAR.

Hingga November 2025, realisasi fisik anggaran Basarnas telah mencapai 79,04 persen. Kabasarnas menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya menjaga tingkat penyerapan anggaran agar tetap optimal dan berdampak nyata bagi peningkatan kesiapsiagaan dan kecepatan respon operasi.

Sepanjang Januari hingga November 2025, Basarnas telah melaksanakan 2.292 operasi SAR di seluruh Indonesia, dengan total 9.930 korban. Dari jumlah tersebut, 7.772 orang berhasil diselamatkan, 1.682 orang meninggal dunia, dan 476 orang masih dinyatakan hilang.

Angka ini menggambarkan kerja keras dan dedikasi seluruh personel Basarnas yang terus siaga di lapangan, menghadapi berbagai situasi darurat untuk menyelamatkan nyawa manusia.

Bagaimana Basarnas menghadapi tahun 2026?

Tahun 2026, Basarnas merencanakan peningkatan anggaran sebesar Rp397,9 miliar. Dana tambahan ini akan diarahkan untuk memperkuat kesiapsiagaan, meningkatkan kualitas sarana dan prasarana, serta memodernisasi sistem komunikasi dan teknologi informasi.

Kami ingin memastikan seluruh unit SAR di daerah memiliki kemampuan dan peralatan yang memadai. Dengan dukungan sarana yang modern dan komunikasi yang kuat, setiap operasi dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi.

Kami menegaskan komitmen lembaga Basarnas untuk terus memperkuat profesionalisme, kapasitas sumber daya manusia, dan sinergi dengan berbagai pihak.

Beberapa waktu lalu ada kecelakaan di lembaga pendidikan. Bagaimana Basarnas melihat ini?

Masih kurangnya aspek keselamatan dalam bangunan pendidikan, contoh dalam hal ini pada kasus runtuhnya Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap keselamatan bangunan sekolah, banyak fasilitas pendidikan yang belum memiliki rencana mitigasi dan sistem evakuasi.

Sebagai upaya pencegahan, perlu adanya pembentukan unit siaga darurat di sekolah dan jalur evakuasi serta peta risiko di setiap bangunan sekolah.

Tragedi yang terjadi pada Pondok Pesantren Al-Khoziny menjadi momentum refleksi nasional dalam menegakkan standar konstruksi bangunan pendidikan yang aman bencana. (S-2)

Riwayat Hidup

Nama: Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii 

Lahir di: Lamongan, Jawa Timur, 5 Juli 1969

Istri: Erwin Rahmawati

Anak: Dua

Pendidikan: Akademi Angkatan Udara (1991)

Karier:

  • Pabandya Banops Paban II Ops Staf Operasi Angkatan Udara Sopsau (2008-2009)
  • Kepala Dinas Operasi (Kadisops) Lanud Suryadarma (2009-2011)
  • Kepala Dinas Personel (Kadispers) Lanud Adisutjipto (2011-2016)
  • Komandan Lanud Sulaiman (2016-2017)
  • Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (2017-2022)
  • Kepala Dinas Pendidikan TNI Angkatan Udara (2022-2023)
  • Kepala Dinas Administrasi Personel Angkatan Udara (2023)
  • Asisten Personalia Kepala Staf TNI AU (2023-2024)
  • Aspers Panglima TNI (2024)
  • Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Februari 2025-sekarang)

  • Basarnas
  • Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii

Redaktur: Sriyono

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.