Reboisasi di Banten Menguat Saat Sumatra Dilanda Banjir

Rabu, 03 Des 2025, 01:30 WIB

JAKARTA - Banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dalam beberapa hari terakhir kembali menyoroti rentannya kondisi ekologis Indonesia akibat menurunnya tutupan hutan. Di tengah meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi, dorongan untuk memperkuat reboisasi kembali menguat.

Momentum Hari Pohon Sedunia dan Hari Menanam Pohon Nasional dimanfaatkan Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Pusat (MPW PP) Muhammadiyah bersama PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah) untuk menanam 1.113 bibit pohon di lahan wakaf Muhammadiyah seluas 10 hektare di Desa Karya Jaya, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, akhir pekan lalu.

Ket. Foto: — Sumber: Jawa Pos

Gerakan ini menjadi bagian dari upaya restorasi lingkungan yang lebih luas, mencakup pemulihan ekosistem, pengurangan risiko banjir, dan penguatan peran masyarakat dalam menjaga kawasan hijau. Kerusakan hutan, erosi, serta alih fungsi lahan kerap memperparah banjir di berbagai wilayah, termasuk bencana terbaru di Sumatra Utara. Pohon membantu menyerap air, menahan limpasan permukaan, dan menjaga struktur tanah agar tidak mudah longsor.

Data Nationally Determined Contribution (NDC) menunjukkan komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 31,89 persen pada 2030 melalui upaya mandiri atau 43,20 persen dengan dukungan internasional. Rehabilitasi hutan, salah satunya melalui penanaman pohon, menjadi strategi penting mencapai target tersebut. Inisiatif reboisasi dari masyarakat, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, maupun sektor swasta dinilai berkontribusi pada pemulihan ekologi jangka panjang.

Penanaman pohon di Lebak melibatkan Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, tokoh masyarakat, serta 200 guru dan murid Sekolah Rakyat dan Pelajar Muhammadiyah Banten. Varietas pohon yang ditanam dipilih untuk memperkuat struktur tanah dan meningkatkan keragaman hayati, sehingga kawasan tersebut dapat berfungsi sebagai ruang hijau sekaligus zona resapan air.

Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Prof. Hilman Latief, menegaskan bahwa pelestarian alam merupakan tanggung jawab kolektif. Ia menyebut kolaborasi lintas lembaga sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran ekologis, terutama di masyarakat akar rumput.

Selain aspek konservasi, kegiatan ini menjadi sarana edukasi bagi pelajar untuk memahami pentingnya menjaga ekosistem sejak dini. Generasi muda tidak hanya dilibatkan sebagai peserta, tetapi diajak mengenali fungsi pohon dalam kehidupan sehari-hari, seperti penyerapan karbon, penyediaan oksigen, dan menjaga kualitas air.

Chief Strategy Officer Prudential Syariah, Mayang Ekaputri, menyatakan bahwa pelestarian lingkungan memerlukan dukungan berbagai pihak agar dampaknya berkelanjutan. Melalui kolaborasi ini, masyarakat sekitar juga dibekali pengetahuan mengenai cara merawat bibit agar tumbuh optimal dan memberi manfaat jangka panjang.

Banten, termasuk Lebak, merupakan daerah rawan banjir dan longsor saat musim hujan. Reboisasi di wilayah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas ekologis kawasan sekaligus menjadi model pengelolaan lahan wakaf untuk tujuan konservasi. Para ahli menegaskan bahwa penanaman pohon perlu disertai pemantauan dan perawatan berkelanjutan agar manfaatnya benar-benar dirasakan.

Gerakan ini menegaskan pentingnya peran komunitas keagamaan dan masyarakat sipil dalam menjaga lingkungan hidup di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Muhammad Daniel Ramadhan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.