Inflasi Mengintai! Harga Pangan Wajib Terkendali Jika Tak Mau Krisis Merembet

Kamis, 27 Nov 2025, 00:00 WIB

Kinerja rantai pasok yang efisien dan intervensi pasar yang tepat sasaran menentukan kemampuan pemerintah menahan tekanan harga.

JAKARTA – Pemerintah perlu memastikan sistem distribusi dan logistik pangan berjalan tanpa hambatan untuk mencegah lonjakan harga di tengah tren inflasi yang masih tinggi menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru (Nataru) 2026. Penguatan koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, pelaku logistik, dan produsen menjadi krusial agar suplai tetap terjaga di seluruh wilayah, terutama untuk komoditas pangan strategis.

Ket. Foto: STOK BERAS MENCUKUPI - Kepala Bulog KC Batam Guido XL Pereira (kanan) memeriksa stok beras di gudang penyimpanan Bulog Batam, Kepulauan Riau, Rabu (26/11). Bulog menyebutkan ketersediaan beras mencapai 3.193 ton yang diproyeksikan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Batam selama empat hingga lima bulan ke depan. — Sumber: ANTARA FOTO/TEGUH PRIHATNA

Dalam kondisi ini, stabilitas harga sangat bergantung pada kelancaran rantai pasok serta efektivitas operasi pasar. Di sisi lain, masyarakat diimbau agar tak melakukan pembelian berlebihan, karena pola panic buying justru dapat memperburuk ketidakseimbangan pasokan dan memicu tekanan harga lebih lanjut.

Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Teuku Riefky mengatakan Indonesia memasuki kuartal terakhir 2025 dengan inflasi yang terus meningkat. "Inflasi umum naik pada Oktober karena harga pangan tetap tinggi akibat gangguan pasokan terkait cuaca dan harga emas yang naik terus mendorong kenaikan komponen inti," papar Riefky di Jakarta, Rabu (26/11).

Menjelang akhir tahun ini setelah periode inflasi moderat pada awal tahun, terang dia, Indonesia kini meningkat laju inflasi. Pada Oktober 2025, inflasi tahunan tercatat sebesar 2,86 persen (yoy), naik dari 2,65 persen (yoy) pada bulan sebelumnya, mencapai tingkat tertingginya sejak April 2024 meskipun tetap berada dalam rentang target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5–3,5 persen.

Kontributor utama tekanan inflasi tahunan pada Oktober 2025 merupakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan kontribusi sebesar 1,43 poin persentase, diikuti oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,77 poin persentase. Beberapa komoditas, di antaranya cabai merah, beras, bawang merah, dan daging ayam, menjadi pendorong utama inflasi tahunan pada kelompok makanan,minuman, dan tembakau.

Menjelang akhir tahun, jelasnya, inflasi diperkirakan terus meningkat karena didorong oleh peningkatan musiman dalam permintaan dan pertumbuhan ekonomi moderat yang didorong distribusi program bantuan sosial. Namun, tekanan inflasi tetap perlu diantisipasi.

"Menjaga stabilitas dari sisi permintaan dan pasokan menjadi krusial untuk memastikan inflasi tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5–3,5 persen," ucapnya.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi terjadinya bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem serta musim hujan yang datang lebih awal. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi hasil panen pertanian dan perkebunan sehingga mengganggu stabilitas pasokan dan mendorong kenaikan harga.

Stok Memadai

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari menegaskan cadangan beras pemerintah berada pada level memadai. Dia menyebut, berdasarkan laporan Kementerian Pertanian dalam rapat terakhir, stok di gudang-gudang Bulog masih mencukupi untuk kebutuhan hingga periode Nataru.

Senada, Anggota Komisi IV DPR RI Rajiv menegaskan lonjakan permintaan pangan menjelang Nataru tak akan mengganggu ketersediaan. Dia menyebut hasil rapat kerja dengan Kementerian Pertanian menunjukkan stok beras nasional dalam kondisi surplus dan pergerakan menuju swasembada.

Sementara itu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) memastikan kondisi harga barang kebutuhan pokok di berbagai daerah masih stabil jelang periode Nataru.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.