Pemerintah Harus Berani Ambil Langkah Strategis Berpihak pada Produksi Nasional

Rabu, 26 Nov 2025, 01:15 WIB

JAKARTA - Indonesia sedang melawan perdagangan pasar bebas di mana yang mengatur adalah mereka yang kuat dan memiliki modal yang besar. Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan untuk menghadapi pasar bebas tersebut, masyarakat diminta menghindari produk-produk yang dihasilkan dari impor dan lebih memprioritaskan produk makanan lokal. 

Pemerintah katanya mendorong para pemangku kepentingan di desa untuk mengembangkan ekonomi, salah satunya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ket. Foto: Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan untuk menghadapi pasar bebas tersebut, masyarakat diminta menghindari produk-produk yang dihasilkan dari impor dan lebih memprioritaskan produk makanan lokal. — Sumber: antara

Sebab, program MBG bakal membutuhkan 82,9 juta produk seperti telur, ikan, ayam, sayur, hingga buah. Program tersebut jika dijalankan dengan benar akan menumbuhkan ekonomi desa dan memberikan dampak ke masyarakat.

Saat ini, katanya komoditas ayam dan telur di Indonesia hanya diperoleh dari Thailand dan Malaysia. Indonesia juga mengimpor kedelai dan gandum dari Amerika Serikat (AS), karena komoditas-komoditas tersebut sulit tumbuh di Tanah Air.

“Masyarakat seharusnya mengonsumsi komoditas-komoditas yang memang melimpah di Indonesia. Indonesia harus bisa swasembada pangan, tak boleh ditawar-tawar lagi, agar ekonomi rakyat tumbuh,” kata Menko Pangan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras Indonesia mencapai 34,7 juta ton pada 2025, naik 13,47 persen dibandingkan tahun 2024, yang dibarengi dengan tidak adanya impor komoditas tersebut pada tahun ini. Produksi jagung juga meningkat 9,34 persen pada tahun ini menjadi 16,55 juta ton.

Kenaikan harga gabah menjadi 6.500 rupiah per kg juga merupakan keberpihakan Presiden Prabowo untuk swasembada pangan dan peningkatan kesejahteraan petani. Data terbaru mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) telah menyentuh 124 pada tahun ini dari 116 pada 2024, meningkat 6,9 persen.

Walaupun perbaikan karbohidrat sudah hampir teratasi dengan membaiknya kondisi petani padi dan petani jagung, persoalan lain yang masih dihadapi terkait persoalan protein, menimbang nelayan dan peternak masih dalam kondisi miskin.

Paradigma Usang

Pada kesempatan berbeda, Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar), Denpasar, Bali, I Nengah Muliarta mengatakan obsesi pemerintah terhadap swasembada beras sebagai bentuk “kemalasan kebijakan” yang berbahaya.

“Kita terjebak dalam paradigma usang bahwa ketahanan pangan sama dengan ketersediaan beras. Padahal, Indonesia adalah surga umbi-umbian (ubi, talas, singkong, jagung, porang, sagu) yang justru kita abaikan demi mengejar angka produksi satu jenis tanaman rumput bernama padi,”tandas Muliarta.

Padi terangnya adalah tanaman manja. Ia butuh air sangat banyak, butuh irigasi teknis, dan rentan hama. Namun, kita memaksakan padi ditanam di semua tempat, dari lahan rawa hingga lahan kering.

“Kebijakan Padi sentris membuat kita memboroskan anggaran triliunan rupiah untuk mencetak sawah baru di lahan yang tidak cocok, padahal di sana sagu atau ubi bisa tumbuh subur secara alami. Kita melawan alam demi nasi, dan itu biaya ekologisnya mahal sekali,” kata Muliarta.

Data kesehatan juga menunjukkan prevalensi diabetes di Indonesia sangat tinggi. Salah satu pemicunya adalah konsumsi nasi putih (indeks glikemik tinggi) yang berlebihan tanpa serat yang cukup. Sementara Talas dan ubi memiliki indeks glikemik yang lebih rendah (lebih sehat), kaya serat, dan mengandung antioksidan yang tidak dimiliki beras putih.

“Swasembada beras yang kita banggakan itu semu jika rakyatnya diabetes. Talas dan ubi bukan makanan orang miskin, itu superfood masa depan yang justru kita hinakan dengan label pangan inferior,”tegas Muliarta.

Selama indikator keberhasilan Kementerian Pertanian hanya diukur dari surplus beras, maka talas dan ubi akan selamanya menjadi yatim piatu dalam kebijakan negara. Pemerintah gagal menciptakan pasar. Petani mau menanam talas/ubi kalau ada industri yang menyerap (tepung, kosmetik, farmasi).

“Selama pemerintah hanya sibuk mengurus Bulog untuk beras, umbi-umbian akan tetap jadi tanaman pagar, bukan komoditas industri,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI), Iyuk Wahyudi, menilai perlawanan terhadap perdagangan pasar bebas menunjukkan bahwa persoalan pangan Indonesia pada akhirnya bermuara pada keberanian politik pemerintah.

Iyuk mengatakan tantangan utama Indonesia bukan hanya soal kebergantungan terhadap impor komoditas, tetapi keberanian untuk mengambil langkah strategis yang berpihak pada produksi nasional.

“Pada akhirnya, muaranya adalah keberanian politik. Pemerintah harus berani mengambil keputusan yang melindungi produsen dalam negeri,” katanya.

  • Ketahanan Pangan

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Bangladesh Punya Presiden Baru Setelah Pemilu Sengit 35 Tahun Terakhir

Simbol Hubungan Akrab, Sultan Brunei-Anwar Ibrahim Gelar Pertemuan di Istana Nurul Iman

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.