Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kepulauan Marshall Dihantui Limbah Nuklir Masa Lalu

📅 Senin, 24 Nov 2025, 21:53 WIB | Oleh:
Kepulauan Marshall Dihantui Limbah Nuklir Masa Lalu Doc: shutterstock

TOKYO - Kenaikan permukaan laut memperkuat kekhawatiran lama mengenai pencemaran nuklir di Kepulauan Marshall.

Kondisi tersebut memicu seruan dari para pemimpin setempat agar negara-negara penghasil emisi besar bertanggung jawab mengatasi perubahan iklim.

Negara kepulauan kecil dan merdeka di Pasifik itu, yang memiliki 29 atol dataran rendah dan lebih dari 1.000 pulau, termasuk negara paling rentan terhadap kenaikan permukaan air laut.

Para ilmuwan memprediksi bahwa permukaan laut bisa naik sekitar 2 meter pada 2100, menyebabkan banjir lebih lama, dan mempercepat erosi yang sudah mengubah garis pantai.

Kepulauan itu menjadi lokasi pengujian nuklir skala besar di era Perang Dingin oleh Amerika Serikat.

Riwayat itulah yang membuatnya mewarisi kontaminasi nuklir dan memicu pertanyaan soal langkah-langkah yang diambil untuk membuang dan menyegel bahan radioaktif dengan aman.

Kekhawatiran tersebut kini kian meningkat karena permukaan air laut diperkirakan akan segera menenggelamkan kubah beton yang dirancang untuk menampung sisa-sisa bahan radioaktif itu.

Di Majuro, ibu kota negara itu, dampak kenaikan permukaan laut dapat dilihat setiap hari. Jalan utama di bagian barat bandara berada di jalur tanah tipis dengan laut di kedua sisi, menyempit hingga sekitar 15 meter saat air pasang.

Air laut merembes melalui tembok dan meluap ke trotoar yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga.

"Tentu saja ini menakutkan, tetapi tidak ada yang bisa kami lakukan," kata Kamje Kaisha, seorang tukang kayu setempat.

Erosi bertahun-tahun telah menghilangkan pantai yang dulunya berfungsi sebagai penyangga alami, meninggalkan akar pohon-pohon besar yang terbuka, dan mengancam rumah-rumah di tepi pantai.

Keluarga Marshallese secara tradisional memakamkan kerabat dekat laut, mencerminkan hubungan mereka dengan samudra.

Hilangnya daratan juga mengganggu praktik budaya. Penduduk setempat biasa memakamkan kerabat mereka di dekat laut, yang mencerminkan hubungan erat mereka dengan samudra.

Namun, kenaikan air laut telah menenggelamkan puluhan makam dalam beberapa dekade terakhir, sehingga beberapa keluarga terpaksa meninggalkan makam atau memindahkannya lebih jauh ke daratan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
jjroyal-luwak
Rona
Mino WINNER Kembali Jalani ...
Advertisement
Kabut Asap Sampai Jakarta, Bandara Soetta Batalkan Dua Penerbangan

Kabut Asap Sampai Jakarta, Bandara Soetta Batalkan Dua Penerbangan

17 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.