Kemenekraf Dorong Radio Bangkit, Industri Siaran Masuki Era Transformasi Baru

Sabtu, 15 Nov 2025, 20:30 WIB

JAKARTA – Penguatan bisnis radio menjadi kebutuhan strategis di tengah perubahan perilaku konsumsi media yang semakin digital. Meski menghadapi persaingan dari platform streaming dan media sosial, radio tetap memiliki keunggulan berupa kedekatan dengan pendengar, biaya operasional yang relatif rendah, dan kemampuan menjangkau komunitas lokal secara cepat.

Transformasi model bisnis melalui digitalisasi konten, integrasi multiplatform, serta pemanfaatan data audiens memungkinkan radio memperluas sumber pendapatan, mulai dari iklan berbasis target hingga live event dan podcast.

Ket. Foto: Kementerian Ekonomi Kreatif mendukung penyelenggaraan Radio Summit XVII di Jakarta pada Sabtu (15/11/2025). — Sumber: ANTARA/ HO Kementerian Ekonomi Kreatif

Di sisi lain, kolaborasi dengan kreator dan brand lokal dapat meningkatkan relevansi serta memperkuat loyalitas pendengar. Dengan strategi adaptif, radio tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang sebagai media yang dinamis dan kompetitif di era ekonomi digital.

Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) mendukung upaya penguatan bisnis radio, yang dinilai berperan penting dalam pendistribusian konten kreatif dan pengembangan usaha ekonomi kreatif di daerah.

Dengan jumlah pendengar yang mencapai 16 juta orang di 10 kota besar, Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai radio bisa menjadi sarana pendukung pengembangan usaha ekonomi kreatif.

"Radio tidak lagi dipandang sebagai medium tradisional, tetapi bagian penting dari ekonomi kreatif yang harus mampu mengembangkan model bisnis baru di era digital," katanya sebagaimana dikutip dalam keterangan pers kementerian di Jakarta, Sabtu (15/11).

"Kementerian Ekonomi Kreatif berkomitmen mendukung penguatan industri radio agar tetap relevan, berdaya saing, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif dari daerah," ia menambahkan.

Belanja iklan di radio nilainya sekitar Rp750 miliar per tahun menurut data Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI). Dengan nilai belanja iklan yang dinilai tergolong tinggi, bisnis radio diyakini masih dapat berkembang.

Guna menegaskan posisi radio di tengah perubahan lanskap media massa, PRSSNI dan Forum Diskusi Radio (FDR) mengadakan Radio Summit XVII di Jakarta Pusat pada 15 November 2025.

Pertemuan bertajuk "Radio Is Not Just A Vibe, It’s A Business" itu menghadirkan perwakilan pelaku industri radio dari berbagai daerah, pengiklan, akademisi, dan regulator.

Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif Agustini Rahayu berharap Radio Summit 2025 bisa mendorong kebangkitan bisnis radio nasional.

"Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi agar industri radio tetap relevan, tangguh, dan mampu beradaptasi di era digital," katanya.

Radio berperan penting dalam sejarah perjalanan bangsa. Selain menjadi medium informasi, radio berfungsi sebagai sarana komunikasi darurat saat krisis, ruang edukasi publik, sarana pelestarian budaya, hingga media promosi kesenian dan kebudayaan lokal.

Namun, kehadiran platform-platform digital dan media sosial mendatangkan tantangan besar dalam pengembangan bisnis radio, termasuk di antaranya pengalihan belanja iklan ke platform-platform digital.

Ketua PRSSNI M Rafik menyampaikan bahwa para pelaku usaha radio harus bertindak cepat untuk mengatasi tantangan-tantangan yang hadir bersamaan dengan transformasi digital.

"Kolaborasi adalah kunci. Bersama saja belum tentu mudah, apalagi jika berjalan sendiri. Tapi dengan sinergi antar stasiun radio, asosiasi, dan pelaku kreatif, kita bisa menjadikan radio sebagai kekuatan ekonomi baru," katanya.

Kementerian Ekonomi Kreatif berkomitmen mendukung penguatan usaha penyiaran nasional dengan menghadirkan regulasi pendukung dan memfasilitasi kemitraan strategis.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.