Berpotensi Melemah Lanjutan, 6 November 2025

Kamis, 06 Nov 2025, 08:58 WIB

JAKARTA – Rupiah diperkirakan masih tertekan da­lam perdagangan, hari ini (6/11), menyusul berlanjutnya penguatan atas dollar AS. Pergerakan rupiah akan dipe­ngaruhi sentimen eksternal, terutama perkembangan eko­nomi dan moneter di Amerika Serikat (AS). 

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong melihat dollar AS masih perkasa di tengah sikap wait and see investor terhadap data pekerjaan dan kinerja manufak­tur di AS. Lukman memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Ka­mis (6/11) bergerak di kisaran 16.550 – 16.750 per dollar AS dengan kecenderungan melemah.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Seperti diketahui, dollar AS terus menguat sejak pekan lalu setelah The Fed menyatakan pemotongan suku bu­nga pada Desember 2025 belum pasti. Menurut CME Fed­watch, konsesus pasar menunjukkan 69,8 persen kemung­kinan bank sentral AS memangkas Fed Fund Rate (FFR) sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang, semen­tara sisanya melihat suku bunga bakal ditahan.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada penutupan per­dagangan, Rabu (5/11) sore, melemah sebesar 9 poin atau 0,05 persen dari sehari sebelumnya menjadi 16.717 rupiah per dollar AS.

Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange ICDX Taufan Dimas Hareva menga­takan pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah masih dido­minasi sentimen global. “Nilai tukar rupiah pada hari ini bergerak melemah terbatas terhadap dollar Amerika Seri­kat, seiring dominannya sentimen global pascakeputusan Federal Reserve memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin,” ujarnya di Jakarta, Rabu (5/11).

Secara umum, pemangkasan suku bunga oleh The Fed disebut memberi sinyal positif bagi negara berkembang, ter­masuk Indonesia, karena berpotensi meningkatkan aliran mo­dal ke aset berisiko. Namun, dampak tersebut saat ini masih tertahan seiring ekspektasi bahwa suku bunga riil di Amerika Serikat (AS) akan tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Taufan menilai kecenderungan pelemahan rupiah da­lam beberapa hari terakhir mencerminkan sensitivitas pa­sar terhadap perubahan persepsi arah kebijakan moneter AS. “Selama belum muncul indikasi yang lebih kuat me­ngenai percepatan pelonggaran kebijakan, tekanan ter­hadap rupiah diperkirakan masih akan bertahan hingga menjelang pertemuan FOMC (Federal Open Market Com­mittee) berikutnya, meskipun peluang penguatan dapat terbuka apabila data inflasi AS menunjukkan perlambatan yang konsisten,” jelasnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.