Satgas G-20 Serukan Pembentukan Panel Global Atasi Ketimpangan

Rabu, 05 Nov 2025, 01:00 WIB

JOHANNESBURG - Satuan tugas (satgas) G-20 yang dibentuk oleh Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa pada Senin (3/11), menyerukan pembentukan panel internasional untuk menangani ketimpangan, dengan memperingatkan bahwa kesenjangan kekayaan ekstrem dapat mengganggu demokrasi dan menyebabkan ketidakstabilan ekonomi.

“Dunia sudah memahami bahwa kita menghadapi darurat iklim; kini saatnya kita juga mengakui bahwa kita menghadapi darurat ketimpangan,” kata Dr. Joseph Stiglitz, ketua Komite Luar Biasa Ahli Independen untuk Ketimpangan Global.

Ket. Foto: Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa — Sumber: istimewa

Dikutip dari The Straits Times, laporan komite tersebut yang disusun sebagai bagian dari presidensi G-20 Afrika Selatan — menemukan bahwa 1 persen penduduk terkaya di dunia telah menguasai 41 persen kekayaan baru sejak tahun 2000.

Sebaliknya, 50 persen penduduk termiskin hanya meningkatkan kekayaan mereka sebesar 1 persen, menurut data dari World Inequality Lab.

“Hal ini bukan hanya tidak adil dan merusak kohesi social, tetapi juga menjadi masalah bagi ekonomi dan politik kita,” tambah Dr. Stiglitz, ekonom peraih Nobel.

Gugus tugas itu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa panel baru untuk isu ketimpangan sebaiknya meniru model Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).

Panel tersebut nantinya akan bertugas memantau penyebab dan dampak ketimpangan, serta memberikan wawasan kepada pemerintah dan pembuat kebijakan di seluruh dunia.

Laporan tersebut juga memperingatkan bahwa 83 persen negara di dunia yang mencakup 90 persen populasi global — memenuhi definisi ketimpangan versi Bank Dunia, dan bahwa negara-negara dengan tingkat ketimpangan tinggi lebih rentan mengalami kemunduran demokrasi.

Para penulis laporan menyoroti adanya “badai sempurna” dari berbagai guncangan global, seperti pandemi Covid-19, perang di Ukraina, dan sengketa perdagangan, yang memperburuk kemiskinan serta memperlebar jurang ketimpangan.

Mereka juga mencatat bahwa satu dari empat orang di dunia kini secara rutin melewatkan waktu makan, sementara kekayaan para miliarder mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.