Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Balai Karantina Ingatkan Bahaya Rabies di Sulsel

📅 Rabu, 05 Nov 2025, 21:20 WIB | Oleh:
Balai Karantina Ingatkan Bahaya Rabies di Sulsel Doc: ANTARA/Nur Suhra Wardyah
Ket. Kepala Balai Karantina Sulsel Chadidjah di Makassar, Rabu (5/11).

Makassar -- Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sulawesi Selatan secara konsisten memperketat pengawasan lalu lintas (lalin) atau keluar-masuk hewan untuk menekan kasus rabies di provinsi  tersebut.

Kepala Balai Karantina Sulsel Chadidjah mengemukakan bahwa pihaknya terus melakukan upaya pencegahan melalui vaksinasi sekaligus sebagai wadah edukasi kepada masyarakat terkait bahaya rabies dan pentingnya vaksinasi rabies.

"Hingga saat ini, kita sudah melakukan vaksinasi rabies kepada 60 ribu hewan peliharaan pada anjing dan kucing, menggandeng pihak Universitas Hasanuddin," ujarnya di Makassar, Rabu.

Berdasarkan data yang ada, kematian akibat rabies di Sulawesi Selatan terbilang cukup tinggi, bahkan di 2023 tercatat tujuh orang harus meninggal dunia karena terkena rabies.

"Jika baru muncul gejala, bisa dicegah. Tetapi jika telah parah maka 99,9 persen akibatnya meninggal," kata Drh Indra Dewa selaku Ketua Tim Kerja Bidang KH Balai Karantina Sulsel menambahkan.

Selanjutnya, vaksinasi rabies juga akan kembali digelar sebagai upaya pencegahan kasus rabies di masyarakat.

Belum lama ini, Balai Karantina juga berhasil mengamankan empat anjing pitbul tanpa dokumen yang diselundupkan melalui jalur laut. Dokumen karantina merupakan syarat wajib dalam setiap pengiriman hewan.

Selain kasus rabies, pengawasan terhadap hewan ternak juga menjadi perhatian utama Balai Karantina Sulsel, guna mencegah terjadinya wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) pada hewan, terlebih Sulsel masih menjadi kawasan zona kuning terhadap penyebaran PMK.

Maka dari itu, Gubernur Sulsel telah mengeluarkan surat edaran terkait larangan masuknya hewan ternak dari zona merah seperti Sumatera, Kalimantan dan Pulau Jawa.

Upaya ini dianggap penting, kata Indra, agar roda ekonomi tetap berputar yang berdampak pada kesejahteraan para peternak. Pasalnya, Sulawesi Selatan menjadi daerah pemasok ternak mencapai 9000 ekor ke Kalimantan setiap tahunnya.

"Ini yang kita jaga. Jika wabah itu terjadi maka itu akan berdampak pada daya jual para peternak. Sementara kita berharap peternak kita bisa makmur dan perekonomiannya terus meningkat," urainya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Pemulihan sawah pascabencana di Aceh

45 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

55 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.