Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Iklim Bisnis Belum Kondusif, Debitur Masih Ragu Cairkan Pinjaman

📅 Senin, 03 Nov 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Iklim Bisnis Belum Kondusif, Debitur Masih Ragu Cairkan Pinjaman Doc: antara
Ket. Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

BI mencatat undisbursed loan pada September 2025 mencapai 2.374,8 triliun rupiah atau 22,54 persen dari plafon kredit yang tersedia.

Undisbursed loan yang masih tinggi menunjukan adanya ketidakseimbangan antara likuiditas perbankan dengan kemampuan sektor riil menyerap kredit.

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan laju pertumbuhan pinjaman yang sudah disetujui namun belum dicairkan nasabah (undisbursed loan) akan mengalami moderasi, seiring dengan penyesuaian strategi dan pertimbangan bisnis perbankan serta respon terhadap kondisi ekonomi.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), undisbursed loan pada September 2025 masih cukup besar yaitu mencapai 2.374,8 triliun rupiah atau 22,54 persen dari plafon kredit yang tersedia. Rasio tersebut sedikit turun dari bulan sebelumnya yang sebesar 22,71 persen.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam jawaban tertulis di Jakarta, Sabtu, memandang pertumbuhan undisbursed loan yang tetap tinggi menunjukkan bahwa permintaan kredit di sektor perbankan masih kuat.

Menanggapi hal itu, Pengamat Ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Y. Sri Susilo menilai moderasi laju pertumbuhan undisbursed loan sebagaimana diproyeksikan OJK mencerminkan sikap hati-hati perbankan dalam menyalurkan kredit di tengah dinamika ekonomi yang masih penuh ketidakpastian.

“Permintaan kredit memang masih kuat, tetapi perbankan tetap mempertimbangkan faktor risiko, baik dari sisi kualitas debitur maupun arah suku bunga ke depan,” ujarnya di Yogyakarta, Minggu (2/11).

Menurutnya, posisi undisbursed loan yang masih tinggi, menunjukkan potensi ekspansi kredit yang besar, namun belum sepenuhnya terealisasi karena faktor kehati-hatian tersebut.

Sri Susilo menambahkan, moderasi penyaluran kredit juga berkaitan dengan penyesuaian strategi bisnis perbankan menghadapi perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik.

“Bank-bank besar lebih selektif, terutama pada sektor yang dinilai berisiko tinggi. Ini langkah wajar agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga,” ujarnya.

Ia memperkirakan, apabila kondisi ekonomi domestik membaik dan konsumsi masyarakat kembali meningkat pada kuartal IV 2025, sebagian undisbursed loan itu berpotensi terserap, sehingga turut mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara itu, Dosen Magister Ekonomi Terapan dari Univeristas Katolik Atma Jaya, YB. Suhartoko, mengatakan undisburshed loan yang cukup tinggi bukan menunjukkan permintaan kredit yang cukup tinggi, melainkan ada keraguan dari debitur untuk mencairkan pinjamannya.

“Jika undisbursed loan didominasi pinjaman investasi, alasannya berkaitan situasi iklim bisnis yang belum mendukung mereka untuk melakukan ekspansi, sehingga kredit bank tidak perlu dicairkan,” kata Suhartoko.

Permintaan yang melemah terang dia merupakan salah satu penyebab tidak baiknya iklim dunia usaha. Persaingan yang ketat dapat juga menghambat ekspansi usaha pebisnis, sehingga menunda pencairan kreditnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Wisata
Prosesi adat kansoda'a di W...
Ekonomi
Neraca perdagangan Indonesi...
Nasional
Presiden Prabowo lantik Wan...
Olahraga
Fitriani/Fadona melaju ke f...
Rona
7 Drama Korea Baru Wajib Di...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.