Petani Badui Kembangkan Kirai, Kearifan Lokal yang Menjadi Sumber Rezeki

Kamis, 30 Okt 2025, 21:55 WIB

LEBAK – Sejumlah petani di pedalaman Suku Badui, Kabupaten Lebak, Banten mulai mengembangkan tanaman kirai atau pohon sagu sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

Langkah ini didorong oleh tingginya permintaan pasar terhadap bahan pangan lokal tersebut, yang memiliki potensi nilai jual tinggi dan manfaat ekologis.

Ket. Foto: Perajin atap kirai di Kabupaten Lebak, Banten tengah memproduksi untuk memenuhi permintaan masyarakat Suku Badui yang sedang membangun rumah. — Sumber: ANTARA/Mansur

Pengembangan kirai tidak hanya memperluas sumber pendapatan masyarakat adat, tetapi juga mendukung ketahanan pangan berbasis kearifan lokal serta pelestarian lingkungan di wilayah pedalaman.

"Kita menanam kirai sebanyak 800 pohon," kata Kubil (40) seorang petani Badui di pedalaman Kabupaten Lebak saat dihubungi di Rangkasbitung, Lebak, Kamis (30/10).

Pengembangan tanaman kirai dapat menghasilkan pendapatan ekonomi setelah usia tanam satu tahun ke depan.

Tanaman kirai itu dimanfaatkan daunnya untuk dijadikan bahan atap rumah masyarakat adat Badui.

Saat ini, masyarakat di permukiman Badui sangat membutuhkan daun kirai untuk diproduksi atap rumah.

Sebab, mereka saat ini kebanyakan masyarakat Badui untuk keperluan atap kirai dengan mendatangkan dari luar daerah.

"Kami mengembangkan tanaman kirai itu, nanti bisa memenuhi permintaan pasar khususnya masyarakat Badui," kata Kubil.

Menurut dia, harga atap kirai dijual ke pasar itu berkisar antara Rp4.000-5.000 per lembar.

Karena itu, pihaknya nanti memproduksi atap kirai dan semua masyarakat Badui di 69 kampung bisa terpenuhi permintaan pasar.

"Kami berharap tanam kirai tumbuh subur dan bisa menghasilkan pendapatan ekonomi," kata Kubil.

Pulung (55) seorang petani Badui mengatakan pihaknya kini mengembangkan tanaman kirai, durian dan manggah.

Bahkan, tanaman kirai ditanam sekitar 500 pohon dan bisa memenuhi permintaan untuk membangun rumah.

"Semua warga Badui itu bangunan rumahnya menggunakan atap kirai/rumbia," katanya.

Sementara itu, Arul (30) seorang warga Cibadak Kabupaten Lebak mengatakan selama ini permintaan pesanan atap kirai cukup meningkat untuk memenuhi permintaan warga Badui karena bangunan rumah mereka menggunakan atap rumbia.

"Kami pekan ini memenuhi permintaan warga Badui sebanyak 5.000 dengan harga Rp4.000 per lembar sehingga menghasilkan pendapatan Rp20 juta," katanya.

Pengembangan pohon sagu sangat penting karena menawarkan solusi multi-dimensi untuk tantangan pangan, ekonomi, dan lingkungan yang dihadapi Indonesia saat ini.

  • Petani Badui

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.