Momentum di Kuartal Akhir: Kredit dan Belanja Jadi Penentu Kecepatan Ekonomi 2025

Kamis, 30 Okt 2025, 00:00 WIB

Pengeluaran pemda perlu dipacu agar dana tidak mengendap di bank sehingga belanja produktif akan menciptakan multiplier effect yang mendorong konsumsi, lapangan kerja, dan ekonomi daerah.

JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal IV-2025 berpotensi tumbuh lebih tinggi jika aktivitas kredit dan belanja pemerintah daerah (pemda) meningkat secara signifikan. Keduanya berperan penting dalam mendorong perputaran uang di masyarakat, yang menjadi sumber utama penggerak konsumsi dan investasi domestik.

Ket. Foto: OPTIMALKAN PELUANG EKONOMI - Warga duduk santai dengan latar belakang gedung perkantoran di kawasan JL. Sudirman, Jakarta, beberapa waktu lalu. Sinergi antara kebijakan fiskal dan sektor keuangan menjadi kunci untuk memastikan momentum pertumbuhan ekonomi tetap kuat di pengujung tahun. — Sumber: KORAN JAKARTA/WAHYU AP

Tanpa dorongan likuiditas dari penyaluran kredit dan realisasi belanja daerah, daya beli masyarakat dan produktivitas sektor riil sulit tumbuh optimal. Karenanya, sinergi antara kebijakan fiskal dan sektor keuangan menjadi kunci untuk memastikan momentum pertumbuhan ekonomi tetap kuat di penghujung tahun.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti menilai dana 200 triliun rupiah itu bisa terserap lewat kredit jika tingkat suku bunga kredit rendah dan net interest margin bank kecil. Kemudian, ⁠prosedur dan persyaratan kredit lebih mudah. Lalu, debitur memang membutuhkan misalnya untuk ekspansi usaha.

"Namun kredit hanya salah satunya cara bagaimana dana 200 triliun rupiah itu terserap di masyarakat," ucapnya di Jakarta, Rabu (29/10).

Perbankan, terang Esther, juga bisa menyalurkannya ke pasar modal dengan membeli saham atau portofolio investasi lain sehingga capital market Indonesia berkembang. Kunci pertumbuhan juga tergantung pada belanja pemerintah.

“Jangan sampai Pemerintah daerah (Pemda) terus mengendapkan uang di bank. Intinya uang harus berputar dan masyarakat mendapatkan manfaatnya. Ada multiplier effect (dampak berganda) ke perekonomian," tandas dia.

Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menilai siklus perekonomian biasanya menguat pada triwulan akhir tiap tahunnya. Pada triwulan IV, akan terjadi percepatan konsumsi pemerintah.

Sejumlah proyek pemerintah akan dikebut di akhir tahun sehingga peredaran uang akan lebih cepat. Selain itu, ada momen libur natal dan tahun baru yang membuat konsumsi rumah tangga lebih tinggi. Permintaan barang akan lebih tinggi dibandingkan triwulan II dan III.

Peneliti Ekonomi Core, Yusuf Rendi Manilet mengatakan pada kuartal IV-2025, pertumbuhan ekonomi berpotensi meningkat dibandingkan Kuartal III. Secara historis, periode akhir tahun cenderung mencatatkan aktivitas ekonomi lebih tinggi, terutama karena faktor musiman seperti libur Natal dan Tahun Baru yang mendorong konsumsi masyarakat.

Selain faktor musiman, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV juga berpotensi mendapat dorongan tambahan dari stimulus fiskal yang digulirkan pemerintah pada Oktober.

Stabilitas Likuiditas

Sebelumnya, riset UOB Kay Hian memproyeksikan ekonomi Indonesia akan menguat pada kuartal IV-2025 seiring stabilitas likuiditas perbankan sekaligus kebijakan moneter yang tetap akomodatif. Sebagai catatan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 mencapai 5,12 persen secara tahunan (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan kuartal I-2025 sebesar 4,87 persen (yoy).

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.