Tak Gentar Perang Dagang, Wamendag: Indonesia Justru Perkuat Relasi Perdagangan Internasional!

Kamis, 16 Okt 2025, 16:35 WIB

TANGERANG – Menjaga relasi perdagangan internasional di tengah kondisi perang dagang menjadi tantangan sekaligus keharusan bagi setiap negara, termasuk Indonesia.

Di saat berbagai negara mulai menutup diri dan menerapkan kebijakan proteksionis, kemampuan menjaga hubungan dagang yang stabil dan saling menguntungkan justru menjadi penentu keberlanjutan ekonomi.

Ket. Foto: Aktivitas bongkar muat kontainer di Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah. — Sumber: ANTARA FOTO/ Aditya Pradana Putra

Relasi perdagangan yang sehat memungkinkan arus ekspor-impor tetap berjalan, menjaga kestabilan nilai tukar, dan membuka peluang investasi lintas negara.

Ketika tensi perang dagang meningkat, negara yang mampu mempertahankan kepercayaan mitra dagang akan lebih tahan terhadap guncangan ekonomi global.

Bagi Indonesia, menjaga komunikasi diplomatik, memperkuat kerja sama bilateral, dan menegosiasikan kesepakatan yang adil adalah langkah penting agar kepentingan nasional tetap terlindungi tanpa kehilangan akses ke pasar internasional.

Dengan strategi yang adaptif dan kolaboratif, Indonesia bisa tetap menjadi pemain aktif dalam rantai pasok global, meski dunia tengah diwarnai ketidakpastian.

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti mengatakan Indonesia tetap menjaga relasi perdagangan internasional di tengah kondisi perang dagang yang terjadi saat ini.

“Tentu kami menyadari bahwa dengan berbagai macam tantangan geopolitik, namun Indonesia selalu memposisikan diri sebagai negara yang terbuka untuk bersinergi, terbuka untuk berdiskusi dan terbuka untuk mencarikan solusi yang terbaik,” kata Wamendag Roro di sela-sela rangkaian acara Trade Expo Indonesia (TEI) ke-40 di Tangerang, Banten, Kamis (16/10).

“Bagaimana kita tetap menjalankan ekspansi market, dan bagaimana kita tetap dekat dengan negara-negara yang kita kenal sebagai negara yang sebetulnya saling perang (dagang) satu sama lain, tapi kita selalu menjaga hubungan yang baik dengan superpower dari beberapa negara yang ada,” imbuhnya.

Untuk itu, ia berharap ketegangan di negara-negara tersebut, seperti Amerika Serikat dan China yang masih saling membalas tarif dagang, dapat mereda dan menjadikan kondisi perdagangan internasional berjalan dengan baik.

Sementara itu, berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari-Agustus 2025, nilai ekspor non-migas ke Tiongkok tercatat 40,44 miliar dolar AS, atau naik sebesar 8,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sedangkan Amerika Serikat sebesar 20,60 miliar dolar AS dan India 12,59 miliar dolar AS.

Sebanyak tiga terbesar penyumbang surplus neraca perdagangan kumulatif pada periode yang sama, yakni Amerika Serikat 12,20 miliar dolar AS, India 9,43 miliar dolar AS, dan Filipina 5,85 miliar dolar AS.

Di sisi lain, ketegangan AS-China kembali muncul setelah China pada Kamis (9/10) mengumumkan pembatasan ekspor unsur tanah jarang yang memperluas kontrol atas teknologi pemrosesan dan manufaktur. Kebijakan tersebut juga melarang kerja sama dengan perusahaan asing tanpa izin pemerintah terlebih dulu.

Sebagai "balasannya", pada Jumat (10/10), Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut China menjadi "sangat bermusuhan" serta menjadikan AS dan seluruh dunia "sandera" lewat kebijakan pengetatan ekspor secara mendadak.

Di tengah kondisi tersebut, Wamendag Roro pun mengaku optimistis dengan ketangguhan Indonesia, terutama jika melihat dari investasi dan produksi di sektor teknologi digital, hingga pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi eksportir.

Kemendag mencatat total transaksi penjajakan bisnis (business matching) pelaku UMKM dengan calon pembeli luar negeri selama periode Januari-Agustus 2025 mencapai 90,90 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp1,49 triliun.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.