- Home
-
- Megapolitan
-
- Suara, Ide, dan Komunitas:...
Suara, Ide, dan Komunitas: Jakarta Music Con 2025 Hari Kedua Jadi Ruang Tumbuh Bersama
Senin, 13 Okt 2025, 18:30 WIBJAKARTA - Hari kedua Jakarta Music Con (JMC) 2025 di Dome, Senayan Park, membawa suasana yang lebih reflektif dan penuh makna bagi pelaku industri musik Tanah Air. Tidak hanya melanjutkan semangat hari pertama, acara ini menjadi ruang bagi musisi, kreator, dan penikmat musik untuk saling belajar dan berkolaborasi.
Ratusan peserta kembali memenuhi ruang diskusi dalam dua rangkaian utama, yakni Bicara Musik dan Bisik Musik. Di sinilah musik dibahas secara mendalam, tidak sekadar dari sisi bunyi, tetapi juga dari bagaimana ia bersinggungan dengan budaya, teknologi, dan komunitas yang menopang ekosistemnya.
Kolaborasi antara Jakarta Music Con dan YouTube Music Academy menjadi sorotan utama di sesi Bicara Musik. Diskusi berjudul The Music Trend Playbook: Creating, Responding, and Amplifying menghadirkan Dimasz Joey (Mad Haus Group), Faris Adam, dan Tiara Dianita (The Maple Media) yang membahas bagaimana tren musik terbentuk dari konteks sosial dan budaya, bukan hanya dari algoritma digital.
Sesi berikutnya, Scaling Up: Building the Next Music Icons, menghadirkan Adryanto Pratono (JUNI Records), White Chorus, dan Ririe Cholid (Believe Indonesia). Mereka berbagi pandangan tentang bagaimana musisi bisa membangun karier panjang di tengah cepatnya arus digitalisasi musik dan kompetisi global yang semakin ketat.
Moderator Akbarry Noor menutup diskusi dengan pernyataan yang disambut tepuk tangan hangat peserta. âMusisi besar bukan hanya mereka yang viral, tapi mereka yang bertahan,â ucapnya, menggambarkan semangat konsistensi yang menjadi kunci keberhasilan di dunia musik modern.
Pada sore hari, suasana diskusi menjadi lebih hangat dengan sesi Fan Power: Growing Your Music Community. Kanya Belfa Maharani (Sun Eater/Lomba Sihir) dan Sahila (Admin Zivellas OFC) menguraikan pentingnya hubungan emosional antara musisi dan penggemar yang membentuk budaya kolaboratif dalam komunitas musik Indonesia.
Setelah itu, sesi Copyright Mythbusting: Ask Me Anything bersama Muara Sipahutar (YouTube Indonesia & Malaysia) menjadi salah satu yang paling interaktif. Ia menjelaskan pentingnya pemahaman hak cipta digital serta membantah berbagai mitos yang membuat banyak musisi ragu melindungi karya mereka di platform daring.
Masuk ke sesi Bisik Musik, diskusi berlanjut dengan topik seputar strategi artistik dan perlindungan hak kekayaan intelektual. Sesi 360 Musicianâs Playground: Brand. Release. Rights. All in One Circle yang dihadirkan Sosialoka Indonesia, menampilkan Rara Pratiwi, Bobby Pistar Sinaga, Eko Trafsilo, dan Rizkabum yang menekankan pentingnya keseimbangan antara ekspresi artistik dan branding profesional.
Sementara itu, SAE Indonesia membuka wawasan teknis dengan sesi Algorithm-Powered Music Production with Ableton Live bersama Lawrence Philip. Ia menunjukkan bagaimana teknologi dan kecerdasan buatan kini membantu produser musik untuk berinovasi tanpa menghilangkan sentuhan manusia dalam proses kreatif.
Menjelang malam, suasana semakin hangat di area BIANG CIPTA Mini Talks melalui sesi Yang Seger-Seger Ajah: Special Live Session. Dipandu oleh Arie Dagienkz dan Fadli Rizki, para musisi berbagi cerita ringan tentang proses kreatif dan tantangan di balik lagu-lagu mereka yang kini dikenal luas oleh publik.
Setelah sesi diskusi, perhatian beralih ke panggung utama Jakarta Music Con x TuneCore Indonesia. Program submission yang melibatkan musisi independen ini menghadirkan penampilan MADMAX, grup dream/noise-pop beranggotakan perempuan, yang sukses mencuri perhatian lewat aransemen segar dan gaya khas mereka.
Selanjutnya, duo indie rock Normatif menghidupkan suasana dengan performa energik yang membuat penonton berjingkrak dan bernyanyi bersama. Energi positif dari penampilan ini menegaskan bahwa musik independen Indonesia tengah berada di era yang sangat produktif dan inovatif.
Tak kalah menarik, kolaborasi antara Jakarta Music Con dan Baybeats Festival Singapura menghadirkan sub:shaman, grup dengan nuansa prog-rock dan math-jazz yang memberikan pengalaman musikal kompleks namun memikat. Penampilan mereka menjadi bukti bahwa musik lintas negara bisa bersatu dalam satu panggung dengan harmoni yang kuat.
Sebagai penutup malam, band Swellow tampil dengan gaya 90-an yang penuh nostalgia. Lagu-lagu mereka yang sederhana namun emosional membuat seluruh penonton ikut bernyanyi, menutup hari dengan suasana akrab dan hangat tanpa perlu efek megah atau gemerlap kembang api.
Hari kedua Jakarta Music Con 2025 menjadi bukti nyata bahwa musik bukan sekadar hiburan, melainkan ruang tumbuh bagi ide, kolaborasi, dan komunitas. Dari ruang diskusi hingga panggung utama, JMC memperlihatkan bagaimana musik bisa menjadi medium refleksi dan kebersamaan yang menyatukan berbagai generasi dalam satu harmoni besar.
- Komunitas
- konser musik
- Jakarta Music Con 2025
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Dipadati 2 Juta Penonton, Konser Shakira Mengguncang Pantai Copacabana Brazil
-
Konser musik bertema sejarah Jakarta
-
Konser Kanye West Mengguncang Stadion Gelredome Belanda, Penggemar Abaikan Isu Anti-semit
-
Pemkot Cirebon Percepat Normalisasi Sungai Sukalila Guna Tata Kawasan
-
Daftar Event Jakarta Akhir Pekan 27–28 Juni 2026: Ada Semasa Piknik hingga Konser KARD
-
PSS Sleman Pastikan Promosi ke Liga 1 Usai Tekuk PSIS 3-0
-
Samsung Hadirkan TV QLED Aman dan Pintar di Segmen Rp3-4 Jutaan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.