Asa Garuda ke Piala Dunia Belum Tertutup. Pelatih Tak Mampu Membaca Kelemahan Tim, Lambat Ganti Pemain

Jumat, 10 Okt 2025, 06:21 WIB

JAKARTA - Timnas Indonesia memang gagal meraih hasil bagus dalam  aga perdana Grup B putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Namun, kekalahan 2-3 dari Arab Saudi di King Abdullah Sports City Stadium, Jeddah, Kamis (9/10) dini hari WIB, belum menutup seluruh peluang Skuad Garuda menuju panggung dunia. Harapan itu kini bertumpu pada laga hidup-mati kontra Irak serta jalur play-off antarkonfederasi.

Dengan hasil tersebut, Indonesia terpuruk di dasar klasemen karena belum meraih poin. Meski demikian, secara matematis peluang tetap terbuka, baik untuk merebut posisi runner-up Grup B maupun melaju ke babak play-off. Syaratnya, kemenangan wajib diraih saat menghadapi Irak,  Minggu (12/10) dini hari WIB, di stadion yang sama.

Ket. Foto: sektor belakang berjuang mati-matian karena tengah memble — Sumber: ist

Jika Jay Idzes dan kawan-kawan mampu menaklukkan Irak dan laga terakhir Irak gagal menumbangkan Arab Saudi, maka skuad Merah Putih berpeluang finis sebagai peringkat kedua grup dengan tiga poin. Posisi itu akan membawa Indonesia ke putaran kelima untuk menantang runner-up Grup A, yang sementara masih diperebutkan Qatar dan Oman. Duel antar-runner-up itu dijadwalkan berlangsung dalam dua leg, pada tanggal 13 dan 18 November 2025. Pemenangnya akan menjadi wakil Asia di babak play-off antar konfederasi, jalur terakhir menuju Piala Dunia 2026.

Di babak play-off nanti, enam negara dari berbagai konfederasi akan bersaing memperebutkan dua tiket tersisa ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Turnamen mini itu akan digelar pada tanggal 23–31 Maret 2026, menggunakan sistem gugur satu pertandingan. Dua tim unggulan FIFA akan menunggu pemenang semifinal, dan hanya juara tiap bagan yang berhak tampil di Piala Dunia.

Pengamat sepak bola dan pendiri Rakyat Sepakbola Indonesia (RSI), Frans Immanuel Saragih, menilai kekalahan dari Arab Saudi seharusnya bisa dihindari. Menurutnya, pelatih Patrick Kluivert kurang jeli dalam memilih komposisi pemain dan strategi permainan. “Indonesia sudah unggul lebih dulu, tapi akhirnya kalah 2-3. Pertahanan sangat rapuh, pemain Saudi terlalu mudah menembus kotak penalti kita,” ujar Frans.

“Pemain sayap tidak mampu membangun serangan. Tim seolah bermain tanpa pola yang jelas. sangat menyedihkan,” lanjutnya. Frans juga menyesalkan keputusan terlambat menurunkan Ole Romeny dan Tom Haye. “Miliano tampil jauh di bawah ekspektasi, suplai bola ke Ragnar Oratmangoen sangat minim. Ini benar-benar tim tanpa pola permainan,” tegasnya.

Terkait peluang ke depan, Frans menegaskan laga melawan Irak menjadi penentu nasib. “Kalau ingin menjaga asa, Indonesia wajib menang minimal 2-0. Lalu berharap Irak bisa mengalahkan Arab Saudi 1-0 atau 2-0. Jika tidak, perjalanan ke Piala Dunia akan berakhir,” tandasnya. Dia juga mengingatkan, Patrick Kluivert jangan sampai salah strategi lagi dan harus tepat memilih starter.

Tetap Semangat

Pelatih Patrick Kluivert mengakui kekalahan dari Arab Saudi terasa pahit, terutama karena Indonesia sempat unggul lebih dulu. Namun, dia menolak anak asuhnya kehilangan semangat. “Kami masih punya satu pertandingan lagi. Kami kalah dari tim yang bagus, tapi kami tidak boleh menundukkan kepala,” ujar Kluivert.

Pelatih asal Belanda itu menegaskan fokus kini hanya tertuju pada duel kontra Irak. “Dalam tiga hari kami akan menghadapi Irak. Sekarang waktunya menganalisis kekurangan dan bangkit lebih kuat. Melawan Irak kami harus menang, itu sudah pasti,” tegasnya.

Kluivert juga memberikan pujian khusus kepada kiper Maarten Paes. “Saya benar-benar angkat topi untuknya. Setelah lama absen, dia tampil luar biasa dan memainkan pertandingan fantastis,” ucapnya.

Paes, kiper FC Dallas itu, memang tampil heroik. Berdasarkan data FotMob, dia melakukan tujuh penyelamatan dari 10 peluang emas yang diciptakan The Green Falcons. Namun, kerja kerasnya belum cukup menyelamatkan Skuad Garuda dari kekalahan.

Dengan satu laga tersisa di Grup B, Timnas Indonesia kini berada di ujung tanduk. Harapan masih ada, tetapi hanya jika semua faktor berpihak: kemenangan atas Irak, hasil lain yang mendukung, dan keberanian Patrick Kluivert untuk melakukan perubahan nyata. ben/G-1

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.