Demo Antikorupsi Ricuh, Polisi Filipina Tangkap Lebih dari 200 Orang termasuk Anak-anak

Senin, 22 Sep 2025, 14:30 WIB

MANILA - Polisi Filipina menangkap lebih dari 200 orang selama bentrokan dengan pengunjuk rasa bertopeng yang meletus pada aksi demonstrasi antikorupsi yang sebagian besar berlangsung damai, kata seorang juru bicara Senin (22/9).

Setidaknya 88 anak di bawah umur termasuk di antara jumlah awal 216 orang yang ditahan pada hari Minggu (21/9) ketika polisi mengerahkan meriam air dan sirene yang memekakkan telinga ke kerumunan pengunjuk rasa yang melemparkan batu.

Ket. Foto: Polisi Filipina menangkap lebih dari 200 orang selama bentrokan dengan pengunjuk rasa bertopeng yang meletus pada aksi demonstrasi antikorupsi — Sumber: Instagram/@ezra_acayan

Wali Kota Manila Isko Moreno mengatakan seorang anak laki-laki berusia 12 tahun adalah yang paling muda yang ditahan.

Ribuan warga Filipina berunjuk rasa di Manila pada hari Minggu untuk melampiaskan kemarahan mereka atas skandal yagn melibatkan proyek pengendalian banjir yang diyakini telah merugikan pembayar pajak miliaran dollar.

Skandal ini telah menyebabkan banyak anggota parlemen terlibat dan para pemimpin kedua majelis Kongres mengundurkan diri dari jabatan mereka selama penyelidikan.

Namun bentrokan di jalanan pada hari Minggu yang mengakibatkan sejumlah kendaraan polisi dibakar dan jendela-jendela kantor polisi dihancurkan, membayangi demonstrasi yang sebelumnya dihadiri oleh keluarga, aktivis, pendeta, dan politisi.

"Sejauh ini, tidak ada satu pun dari mereka yang mengungkapkan alasan di balik tindakan mereka atau apakah ada yang membayar mereka untuk melakukannya," kata juru bicara kepolisian daerah Mayor Hazel Asilo kepada AFP.

"Begitu kita tahu afiliasi mereka, kita bisa tahu apakah mereka bagian dari pengunjuk rasa atau mereka hanya membuat onar," tambahnya.

Menurut pernyataan yang dirilis Senin oleh Departemen Kesehatan, sekitar 50 orang dibawa ke rumah sakit Manila setelah bentrokan.

Juru bicara polisi lainnya, Mayor Philipp Ines, mengatakan 93 petugas terluka pada hari Minggu. Jumlah yang ditangkap masih bisa bertambah karena orang-orang masih diproses.

Kemarahan terhadap apa yang disebut proyek hantu meningkat di negara itu sejak Presiden Ferdinand Marcos menyebutnya dalam pidato kenegaraan bulan Juli lalu menyusul banjir mematikan selama berminggu-minggu.

Departemen Keuangan memperkirakan ekonomi Filipina kehilangan hingga 118,5 miliar peso (US$2 miliar) dari tahun 2023 hingga 2025 karena korupsi dalam proyek pengendalian banjir.

Greenpeace memperkirakan jumlah sebenarnya mendekati US$18 miliar.

Filipina diperkirakan akan dilanda banjir besar pada hari Senin saat Topan Super Ragasa menerjang provinsi paling utara negara itu.

Negara kepulauan ini dilanda rata-rata 20 badai dan topan setiap tahun, yang mengakibatkan jutaan orang di daerah rawan bencana terus-menerus berada dalam kemiskinan.

  • Aksi Demonstrasi

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.