Yogyakarta Didorong Jadi Pusat Wellness Tourism Berbasis Edukasi dan Medis

Senin, 15 Sep 2025, 14:55 WIB

Upaya menjadikan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai pusat *wellness tourism* atau wisata kebugaran terus diperkuat melalui sinergi antara akademisi, praktisi medis, dan pelaku olahraga. Kolaborasi lintas disiplin ini diharapkan mampu membawa Yogyakarta bukan hanya sebagai kota sehat, tetapi juga rujukan nasional bagaimana kesehatan dan pariwisata dapat terintegrasi secara berkelanjutan.

Isu tersebut mengemuka dalam *Webinar Penanganan Cedera pada Olahraga dan Diseminasi Ilmiah Magister Ilmu Biomedik dalam Pengembangan Wisata Kebugaran*, Rabu (10/9). Acara ini digelar Pusat Kedokteran Herbal UGM, Program Magister Ilmu Biomedik FK-KMK UGM, serta Perhimpunan Pembina Kesehatan Olahraga Indonesia (PPKORI) DIY dalam rangka memperingati Hari Olahraga Nasional.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Freepik

Sejumlah pembicara hadir, antara lain Ketua Prodi Pendidikan Dokter FK-KMK UGM sekaligus Sekretaris PPKORI DIY, Prof. Denny Agustiningsih; dosen Departemen Bedah FK-KMK UGM, Dr. dr. Yudha Mathan Sakti; Ketua Indonesia Sport Nutritionist Association, Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis P., S.Gz., Dietisien; serta dosen Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM, Dr. Arko Jatmiko Wicaksono.

Denny Agustiningsih menekankan, wisata kebugaran yang aman harus dimulai dari kesadaran setiap individu terhadap kondisi tubuhnya. “Bukan hanya soal kemampuan fisik, tetapi juga kesiapan mental, hidrasi, gizi seimbang, dan tidur cukup. Semua itu menjadi fondasi agar aktivitas olahraga memberi manfaat dan bukan cedera,” ujarnya.

Ketua PPKORI DIY, dr. Santosa Budiharjo, M.Kes., PA(K), menilai *wellness tourism* berpotensi menjadi kekuatan ekonomi baru bagi DIY apabila ditopang regulasi dan edukasi yang tepat. Pandangan senada juga disampaikan Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian kepada Masyarakat FK-KMK UGM, Dr. dr. Sudadi. Ia menegaskan UGM siap mendukung Yogyakarta sebagai destinasi unggulan wisata kesehatan melalui Rencana Strategis *Academic Health System* (AHS) FKKMK UGM 2025–2029 yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan layanan kesehatan.

Selain penguatan edukasi publik, kata Sudadi, webinar ini juga menghasilkan rekomendasi praktis bagi pengelola wisata kebugaran. Misalnya, menyiapkan informasi syarat fisik peserta, menyediakan alternatif olahraga sesuai kondisi, serta memastikan ketersediaan hidrasi di setiap titik kegiatan.

Dalam pemaparannya, Yudha Mathan Sakti menyoroti fenomena *weekend warrior*, yaitu orang yang hanya aktif berolahraga di akhir pekan tanpa persiapan memadai. “Meskipun risiko cedera tinggi, penerapan upaya pencegahan, manajemen cedera, serta rehabilitasi efektif dapat meminimalkan risiko tersebut sekaligus mendukung pengembangan *wellness tourism*,” jelasnya.

Sementara itu, Mirza Hapsari Sakti Titis menekankan pentingnya pola makan, konsumsi *sport food*, dan suplementasi dalam mempercepat pemulihan pascaaktivitas sekaligus mencegah cedera berulang. Adapun Arko Jatmiko Wicaksono menyoroti pentingnya penggunaan obat yang tepat sesuai regulasi, khususnya bagi atlet profesional yang terikat aturan Badan Anti-Doping Dunia (WADA) maupun IADO.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.