Tekanan Ganda! Rupiah Dihimpit Sentimen Global dan Domestik, Simak Proyeksinya, Selasa (16/9)

Senin, 15 Sep 2025, 23:59 WIB

JAKARTA – Rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini (16/9), dipengaruhi kombinasi sentimen domestik maupun global. Dari dalam negeri, pasar menyoroti arah kebijakan fiskal dan kebutuhan pembiayaan pemerintah, sementara dari luar negeri, penguatan dollar AS seiring spekulasi kebijakan The Fed menjadi faktor penekan utama.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong melihat investor masih mencerna sejumlah kebijakan pelonggaran pemerintah belakangan ini. Meskipun direspons positif oleh investor, kebijakan tersebut justru dapat menekan rupiah.

Ket. Foto: Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Akbar Nugroho G

Dari mancanegara, lanjutnya, rapat dewan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau FOMC juga diperkirakan memberikan pandangan baru terhadap prospek kebijakan The Fed ke depan. Khususnya, pasca data-data ekonomi AS yang sangat lemah akhir-akhir ini.

Karenanya, Lukman memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Selasa (16/9), bergerak di kisaran 16.350–16.450 rupiah per dollar AS dengan kecenderungan melemah.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Senin (15/9) sore, melemah sebesar 40,50 poin atau 0,25 persen dari akhir pekan lalu menjadi 16.414 rupiah per dollar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menyatakan kurs rupiah bergerak melemah di tengah pelaku pasar bersikap wait and see terhadap kebijakan moneter bank sentral. "Data terbaru Amerika Serikat (AS) telah memberikan The Fed banyak alasan untuk melonggarkan kebijakan moneter," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Indeks Harga Konsumen (IHK) AS Agustus 2025 mengonfirmasi inflasi utama masih sedikit tinggi, namun narasi yang lebih luas menunjukkan ekonomi yang melambat. Secara keseluruhan, indikator-indikator ini telah menutupi kekhawatiran inflasi yang ditakutkan oleh The Fed selama ini, serta menggarisbawahi bahwa risiko penurunan lapangan kerja AS semakin meningkat, sehingga pemangkasan suku bunga The Fed 25 bps pada pekan ini hampir pasti terjadi.

Di sisi lain, tensi geopolitik kembali memanas, setelah Ukraina meningkatkan serangan terhadap infrastruktur minyak Rusia, termasuk terminal ekspor terbesarnya, Primorsk, dan kilang utama Kirishinefteorgsintez. "Serangan itu berpotensi menghentikan produksi minyak Rusia dalam jumlah besar, serta dapat memicu potensi gangguan pasokan, terutama untuk pasar utama Moskow, yaitu India dan Tiongkok," ujar Ibrahim.

Lebih lanjut, fokus pelaku pasar tertuju pada upaya AS untuk meredakan perang Russia-Ukraina, meskipun Moskow pada Jumat pekan lalau, mengisyaratkan perundingan gencatan senjata dengan Ukraina telah terhenti.

Dari dalam negeri, pemerintah sudah menyiapkan paket stimulus, yang akan digelontorkan pada akhir tahun, namun nilainya belum dipastikan. Beberapa program yang sedang disusun pemerintah untuk memacu perekonomian, diantaranya perluasan sektor sasaran insentif pajak penghasilan pasal 21 (PPh 21) ditanggung pemerintah (DTP). Kemudian, insentif pembebasan pajak itu saat ini hanya berlaku untuk buruh di sektor padat karya dengan gaji di bawah 10 juta rupiah per bulan.

Ibrahim mengatakan publik tidak perlu takut apabila target pertumbuhan tidak tercapai, karena kebijakan fiskal masih bisa menopang percepatan pembangunan. Pemerintah telah menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2 persen (yoy) sepanjang 2025.

"Lantaran sisa Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah masih cukup banyak, kendati senilai 200 triliun rupiah sudah dipindahkan dari Bank Indonesia (BI) ke lima Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), tujuannya untuk memacu kredit sektor riil,"ujar Ibrahim. 

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.