Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Sekwan Bandung: Tunjangan DPRD Bukan Pendapatan Tambahan, Tapi Hak Normatif

📅 Kamis, 11 Sep 2025, 04:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Sekwan Bandung: Tunjangan DPRD Bukan Pendapatan Tambahan, Tapi Hak Normatif Doc: Antara
Ket. Gedung DPRD Kota Bandung, Jawa Barat.

Kota Bandung - Sekretaris DPRD (Sekwan) Kota Bandung Yasa Hanafiah menegaskan bahwa tunjangan anggota DPRD, bukanlah penghasilan tambahan melainkan hak normatif yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

“Pemerintah Daerah Kota Bandung hanya melaksanakan amanat peraturan perundang-undangan. Jadi bukan kebijakan yang muncul begitu saja, melainkan ketentuan normatif yang berlaku secara nasional,” kata Yasa di Bandung, Rabu (10/9).

Yasa menjelaskan bahwa untuk tunjangan perumahan diberikan khusus bagi anggota DPRD yang tidak difasilitasi rumah dinas. Besarannya ditetapkan dengan mempertimbangkan asas kewajaran, kepatutan, dan kemampuan keuangan daerah.

“Tunjangan ini bukan bentuk tambahan penghasilan semata. Pada dasarnya, anggota DPRD berhak atas rumah dinas. Karena fasilitas itu tidak tersedia, maka diberikan tunjangan perumahan sesuai standar yang berlaku,” kata dia.

Lebih lanjut, Yasa menyampaikan bahwa seluruh komponen penghasilan dewan ditetapkan melalui mekanisme hukum, mulai dari PP, Perda, hingga Perwal. Menurut dia, hal itu dilakukan dengan asas keterbukaan dan akuntabilitas.

“Setiap rupiah yang diterima oleh pimpinan maupun anggota DPRD dipertanggungjawabkan sesuai aturan. Jadi ini bukan soal besar atau kecilnya angka, tetapi soal hak normatif dan tata kelola keuangan negara yang harus dipenuhi,” kata Yasa.

Ia menyebut berdasarkan data DPRD Kota Bandung, beban kerja anggota dewan di lapangan jauh melampaui agenda resmi reses.

Di sisi lain, Pemkot Bandung bersama DPRD terus melakukan efisiensi, termasuk pada pos perjalanan dinas, agar pengelolaan anggaran lebih transparan dan sesuai asas kepatutan.

Dengan demikian, kata Yasa, hak yang diterima anggota DPRD melalui tunjangan diiringi pula kewajiban yang berat serta mekanisme pertanggungjawaban yang ketat sebagai wakil rakyat.

“Artinya, beban kerja nyata yang dijalankan lebih besar dibandingkan gambaran formal yang sering terlihat di publik,” kata dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Kronologi Kecelakaan Maut Honda Mobilio Tabrak Pick Up di Rasuna Said, 1 Orang Tewas

Kronologi Kecelakaan Maut Honda Mobilio Tabrak Pick Up di Rasuna Said, 1 Orang Tewas

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.