CSIS Ingatkan: Dewan Buruh Jangan Jadi Musuh Pengusaha, Perlu Jaga Hubungan Industrial

Selasa, 02 Sep 2025, 20:55 WIB

Jakarta - Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menyambut baik langkah pemerintah membentuk Dewan Kesejahteraan Buruh Nasional (DKBN), namun memberikan catatan agar pemerintah nantinya tidak menimbulkan kesan seolah-olah buruh adalah lawan dari pengusaha.

Peneliti Departemen Ekonomi CSIS Deni Friawan menuturkan bahwa relasi buruh dan pengusaha seharusnya dilihat sebagai kerja sama, bukan pertentangan. Dirinya mewanti-wanti jika Dewan Buruh dibangun dengan narasi yang konfrontatif, justru berisiko memperlebar jurang perbedaan yang pada akhirnya merugikan semua pihak.

Ket. Foto: Media briefing CSIS yang bertajuk Wake up call dari Jalanan: Ujian Demokrasi dan Ekonomi Kita di Jakarta, Selasa (2/9). — Sumber: Antara

“Kalau membentuk Dewan Buruh (DKBN) ya tidak masalah, tapi yang perlu diingat adalah jangan sampai ada kesan bahwa pelaku usaha ini adalah musuh,” kata Deni dalam media briefing bertajuk Wake up call dari Jalanan: Ujian Demokrasi dan Ekonomi Kita di Jakarta, Selasa (2/9).

Ia menjelaskan, sebenarnya isu utama ketenagakerjaan di Indonesia saat ini tidak hanya soal upah minimum, melainkan juga rendahnya produktivitas tenaga kerja.

Mengacu pada data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), Deni memandang meski upah minimum relatif rendah, hanya sekitar 36 persen pekerja yang benar-benar mendapatkannya.

Rendahnya produktivitas tenaga kerja itu juga dipengaruhi minimnya investasi pada mesin dan teknologi. Faktor seperti tingginya bunga pinjaman dan ketidakpastian hukum membuat pengusaha enggan berinvestasi, sehingga produktivitas dan upah sulit terdorong naik.

"Permasalahannya adalah kenapa investasinya rendah di mesin-mesin ini? Bukan karena sekadar ada surplus yang besar dari tenaga kerja kita, tapi juga misalnya tingkat bunga sangat tinggi karena ada crowding out effect akibat pemerintah jual SBN (Surat Berharga Negara), misalnya karena ada ketidakpastian hukum dan resiko bisnis yang besar," jelas Deni.

Lebih jauh, Deni menerangkan bahwa kesejahteraan buruh tidak bisa hanya diukur dari besaran gaji. Faktor biaya hidup harus mendapat perhatian serius dari pemerintah.

"Bisa enggak pemerintah memfasilitasi atau membantu biaya hidup ini bisa terkendali? Misalnya lewat transportasi yang memadai, lewat tunjangan kesehatan dan lain-lain yang memadai sehingga biaya hidup masyarakat atau buruh jadi rendah, sehingga dia tidak perlu misalnya meminta kenaikan upah yang tinggi yang akan membahayakan bagi perekonomian," imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif CSIS Yose Rizal Damuri turut menambahkan bahwa pembentukan Dewan Kesejahteraan Buruh Nasional maupun Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan PHK harus ditempatkan dalam kerangka kebijakan ketenagakerjaan yang lebih komprehensif.

"Memang kebijakan ketenagakerjaan ini tidak hanya semata-mata terkait dengan tenaga kerja yang ada, tetapi juga tenaga kerja yang belum masuk ke dalam perekonomian. Jadi bukan hanya kita melihat para buruh seharusnya, bukan hanya kita melihat para pekerja, tetapi juga bagaimana kondisi dari para pencari kerja pada saat ini," tambahnya.

Adapun Presiden RI Prabowo Subianto sebelumnya telah menyetujui pembentukan Dewan Kesejahteraan Buruh Nasional dengan status setara kementerian/lembaga berdasarkan hasil pertemuan sejumlah organisasi serikat pekerja di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (1/9)

Pemerintah juga akan membentuk Satgas Pencegahan PHK sebagai bagian dari komitmen pemerintah memperkuat perlindungan buruh.

  • Dewan Buruh

Redaktur: Andreas Tanjung

Penulis: Antara

Berita Terbaru

BMKG Prakirakan Cuaca Sebagian Besar Daerah di Wilayah Indonesia Cerah hingga Berawan Tebal

Jangan Biarkan Karhutla Meluas! KSP Minta Penanganan Cepat dan Tegas

NBA Rilis Jadwal Musim 2026-27, Laga Ulangan Final dan Reuni Para Bintang Jadi Sorotan

BMKG Beberkan Cuaca Hari Ini, Mayoritas Wilayah Diprediksi Cerah hingga Berawan

Butter Baby Hadirkan Klepon Donut, Jajanan Tradisional Indonesia dalam Semangat Kemerdekaan.

Calon Penumpang Tak Sabara Tunggu Operasi LRT dari Kelapa Gading ke Manggarai Mulai Besok

Manchester United Bersaing dengan Aston Villa dan Benfica untuk Boyong Alejandro Balde

Utang Whoosh Rp116 Triliun Disorot, Pemerintah Diminta Uji Risiko APBN

Busyet… 150 Roda Dua Dikandangkan dari Balap Liar di Jambi

Pelatih Mengeklaim, Tim Panahan Masih Bisa Bersaing di Asian Games Jepang

Jaga Elang Jawa, PGE Raih Penghargaan dari Kementerian Kehutanan di HKAN 2026.

Asean Mulai Kerepotan dengan Asap Eksporan Indonesia, tapi Rikuh

Kabut Asap Karhutla Jadi Pembunuh Diam-Diam, Pakar Ungkap Bahayanya

Liverpool Didesak Datangkan Gelandang Bertahan, Ini Jawaban Iraola

Asap Karhutla Makin Pekat, Penderita Asma Diminta Waspadai Serangan Akut

Misteri Ketidakhadiran Menhut dan Menteri LH di Rakor Karhutla Akhirnya Terjawab, Simak Alasannya

Liga Inggris, Fulham Tak Mampu Menyamai Chelsea

Kemnaker Paparkan Langkah Konkret Indonesia Hadapi Perubahan Dunia Kerja di Forum ASEAN

Fiorentina Tanpa Ampun Dibantai AS Roma 0-4

Karhutla Jadi Ancaman Serius, Menteri LH Minta Warga Waspada dan Patuhi Pemda

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.