Jejak Luhur Ki Hadjar Dewantara Hadir di Gelar Budaya Umbulharjo

Senin, 01 Sep 2025, 19:10 WIB

Gelar Budaya Jogja *Babad Siti Kemantren* ke-3 tahun 2025 berlangsung meriah di Taman Budaya Embung Giwangan, Minggu (31/8). Pada kesempatan ini, Kemantren Umbulharjo menampilkan konsep berbeda dengan mengusung tema *“Jejak Luhur Ki Hadjar Dewantara”*.

Melalui mini showcase, Umbulharjo memperkenalkan maket dan foto-foto *Rumah Pemikiran Ki Hadjar Dewantara* di Jalan Kusumanegara No. 157. Rumah bersejarah itu kini menjadi bagian dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST).

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Pemkot Yogya

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menegaskan bahwa kegiatan Babad Siti Kemantren menjadi ruang bagi setiap wilayah untuk memperlihatkan kekhasannya.

“Keistimewaan Yogyakarta tidak hanya ditopang Kraton sebagai pusat budaya, tetapi juga diperkuat oleh wilayah-wilayah yang memiliki penanda sejarah dan tradisi masing-masing,” ujar Yetti.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, turut memberikan apresiasi. Menurutnya, acara ini menjadi media penting untuk memperdalam pemahaman masyarakat tentang keistimewaan Yogyakarta.

“Keistimewaan tidak boleh hanya menjadi jargon seremonial, tetapi juga diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari masyarakat,” katanya.

Rumah Pemikiran Ki Hadjar

Ketua Tim Kreatif Umbulharjo, Purnomo, menjelaskan alasan pengangkatan tema ini.

“Selama ini publik lebih mengenal Griya Kirti yang dijadikan museum, padahal ada rumah lain di Jalan Kusumanegara yang berfungsi sebagai padepokan intelektual. Di tempat itulah Ki Hadjar menulis, berdiskusi, dan membimbing generasi muda,” paparnya.

Rumah tersebut merupakan hadiah dari Presiden Soekarno pada tahun 1946. Kini sebagian kompleks digunakan sebagai ruang akademik UST, namun nilai historisnya tetap terjaga.

Dalam aktivasi di lokasi asli, cucu pamong Ki Hadjar, Listya H. Krisnarjo atau Cak Lis, membagikan materi tentang metode pendidikan sang tokoh. Ia menekankan pentingnya permainan tradisional sebagai media belajar yang menyenangkan, sejalan dengan filosofi *among*—menuntun anak sesuai kodratnya dengan penuh kasih.

Keunikan lain dari kompleks rumah ini adalah mushola kecil dengan prasasti berisi kalimat penuh makna:

*“Orang beribadah gugur sholatnya ibarat musik megah rusak iramanya.”*

Pesan tersebut mengingatkan bahwa ibadah harus selaras antara gerakan lahiriah dan ketulusan batin, selaras dengan ajaran Ki Hadjar yang menekankan pendidikan dan perilaku berbasis hati nurani.

Nilai yang Relevan Hingga Kini

Prinsip Ki Hadjar Dewantara seperti *Tut Wuri Handayani*, konsep *Tri Pusat Pendidikan* (keluarga, sekolah, masyarakat), serta sistem *among* dianggap tetap relevan. Nilai-nilai itu dinilai mampu menjawab tantangan zaman, termasuk persoalan sosial kontemporer seperti perundungan dan kekerasan remaja.

“Pendidikan menurut Ki Hadjar bukan sekadar transfer ilmu, melainkan jalan membentuk budi pekerti dan kemandirian,” tegas Cak Lis.

Kuliner Tradisional Umbulharjo

Selain pameran sejarah, pengunjung juga diajak menikmati suasana budaya lewat musik tempo dulu, permainan tradisional, serta sajian kuliner khas Umbulharjo. Dua di antaranya adalah kudapan *bendhul* dan minuman rempah *wedang seruni*.

* **Bendhul** terbuat dari singkong, kelapa parut, gula jawa, dan sedikit tepung beras. Kudapan manis gurih ini dahulu menjadi favorit Sultan Hamengku Buwono VII, VIII, dan IX, serta kerap disajikan pada hajatan maupun upacara adat. Bentuknya yang bulat pipih menyerupai hiasan gunungan Grebeg Keraton menambah makna simboliknya.

* **Wedang Seruni** diracik dari rempah-rempah seperti serai dan kayu manis, disajikan hangat maupun dingin. Minuman ini dipercaya berkhasiat menghangatkan tubuh, melancarkan peredaran darah, sekaligus meningkatkan daya tahan.

Menjaga Keistimewaan Lewat Budaya

Melalui tema “Jejak Luhur Ki Hadjar Dewantara”, Umbulharjo tak hanya memperkenalkan sisi historis, tetapi juga menghidupkan kembali warisan budaya lokal. Dari rumah pemikiran hingga sajian tradisional, nilai-nilai Ki Hadjar terus menjadi inspirasi dalam menjaga keistimewaan Yogyakarta.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.