Ratusan Sumur Minyak Tua Ada di Blora, Potensi Besar yang Terancam Terbuang
Rabu, 27 Agu 2025, 23:10 WIBBLORA â Pengelolaan sumur minyak tua di Blora menjadi isu strategis dalam konteks optimalisasi sumber daya energi nasional sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat daerah.
Sumur-sumur tua yang sebagian besar peninggalan kolonial Belanda masih menyimpan potensi produksi meski dengan cadangan terbatas.
Selama ini, pengelolaannya banyak dilakukan oleh kelompok masyarakat atau koperasi lokal dengan teknik tradisional, sehingga produktivitasnya relatif rendah dan kerap menimbulkan masalah lingkungan maupun aspek keselamatan kerja.
Dari perspektif ekonomi, keberadaan sumur tua mampu memberikan lapangan kerja dan tambahan pendapatan bagi warga sekitar. Namun tanpa tata kelola yang profesional, potensi tersebut sulit dimaksimalkan.
Oleh karena itu, integrasi pengelolaan antara masyarakat, pemerintah daerah, BUMD, maupun Pertamina menjadi sangat penting untuk memastikan kegiatan produksi berjalan efisien, aman, dan ramah lingkungan.
Lebih jauh, pengelolaan sumur minyak tua juga terkait dengan aspek legalitas dan regulasi. Banyak praktik pengeboran dan pengangkatan minyak dilakukan tanpa izin resmi, sehingga tidak hanya berpotensi merugikan negara dari sisi penerimaan, tetapi juga membuka celah bagi aktivitas ilegal.
Penegakan aturan yang jelas, disertai program legalisasi dan pembinaan bagi penambang rakyat, diperlukan agar kegiatan tersebut dapat memberi manfaat optimal bagi negara maupun masyarakat.
Dalam konteks energi nasional, meski kontribusi sumur minyak tua relatif kecil dibanding ladang modern, pengelolaan yang baik dapat mendukung ketahanan energi, mengurangi impor minyak, serta menjaga produksi migas tetap berkelanjutan.
Selain itu, praktik pengelolaan yang profesional dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat berbasis energi yang sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Dengan demikian, pengelolaan sumur minyak tua di Blora bukan sekadar persoalan eksplorasi energi, tetapi juga menyangkut tata kelola sumber daya, pemberdayaan masyarakat, peningkatan PAD daerah, hingga aspek keamanan dan lingkungan yang harus diharmonisasikan secara komprehensif.
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah Kendeng Selatan mencatat jumlah sumur minyak tua peninggalan Belanda yang tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mencapai 334 sumur.
"Dari jumlah tersebut, sebanyak 264 sumur dikelola oleh badan usaha milik daerah (BUMD), 54 sumur oleh Koperasi Unit Desa (KUD) Jiken, dan 16 sumur oleh KUD Jati," kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Cabang Dinas ESDM Wilayah Kendeng Selatan Blora Hadi Susanto, di Blora, Rabu (27/8).
Ia mencatat sebagian besar sumur tersebut berada di wilayah utara Blora yang sejak lama dikenal sebagai ladang minyak rakyat.
Di antaranya, tersebar di Kecamatan Jati, Jiken, Randublatung, Kradenan, dan Jepon. Beberapa titik lainnya juga ditemukan di Kecamatan Cepu dan sekitarnya.
"Berdasarkan catatan kami, yang masih aktif ditambang masyarakat dengan sistem tradisional hanya sebagian. Sisanya sudah tidak produktif, bahkan ada yang ditutup karena alasan keselamatan," ujarnya.
Menurut dia, aktivitas pengeboran sumur tua seharusnya dilakukan melalui mekanisme kerja sama antara BUMN Migas dengan koperasi rakyat. Namun, masih ditemukan praktik penambangan ilegal di sejumlah titik.
"Kondisi itu berbahaya karena berpotensi menimbulkan kebakaran hingga pencemaran lingkungan. Sumur tua ini memang warisan sejarah, tetapi pengelolaannya harus sesuai aturan. Jika dibiarkan ilegal, potensi bahayanya sangat besar," ujarnya.
Sementara itu, Tokoh Masyarakat Blora Keluk Pristiwahana menilai keberadaan sumur tua menjadi bagian dari kehidupan warga setempat.
"Sejak zaman kakek buyut, orang sini hidup dari minyak. Kami berharap pemerintah bisa memberikan solusi agar pengelolaan lebih aman sekaligus menyejahterakan warga," ujarnya.
Ia berharap ke depan sumur tua di Blora dapat dilengkapi dengan teknologi yang lebih baik serta mengutamakan aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3), sehingga aktivitas pertambangan tidak hanya bermanfaat bagi ekonomi warga, tetapi juga aman bagi lingkungan.
Sebagai informasi, Blora merupakan salah satu daerah penghasil minyak tertua di Indonesia. Sejak masa kolonial, wilayah ini telah menjadi pusat eksplorasi migas, dan hingga kini masih menyisakan ratusan sumur tua meski sebagian besar produksinya terus menurun.
- sumur minyak Blora
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.