KemenPPPA Dorong Perempuan Berperan Aktif dalam Penanganan Bencana

Jumat, 22 Agu 2025, 17:30 WIB

JAKARTA - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menekankan pentingnya keterlibatan perempuan dalam upaya penanganan bencana. Dorongan ini dilakukan untuk memastikan penanggulangan bencana yang inklusif dan berkeadilan bagi semua kelompok.

Sekretaris Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Titi Eko Rahayu, menyatakan bahwa perempuan tidak bisa hanya dipandang sebagai kelompok rentan. Menurutnya, perempuan memiliki peran penting, bahkan inisiatif, dalam pencegahan maupun penanganan bencana.

Ket. Foto: Sekretaris Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Titi Eko Rahayu — Sumber: KemenPPPA

"Kita mendorong keterlibatan perempuan. Perempuan tidak hanya sebagai obyek semata ya, yang dianggap kelompok rentan, ternyata dia juga memiliki peran yang luar biasa dalam penanganan bencana, bahkan juga punya inisiatif-inisiatif untuk melakukan pencegahan bencana," ujar Titi Eko Rahayu di Jakarta, Jumat.

Ia menambahkan, kerentanan perempuan dan anak dalam situasi bencana sering kali meningkat, terutama dalam risiko kekerasan dan eksploitasi. Oleh karena itu, dibutuhkan ruang aman yang mampu memberikan perlindungan sekaligus rasa aman bagi kelompok tersebut.

"Dalam situasi bencana, kerentanan perempuan dan anak mengalami kekerasan, mengalami eksploitasi semakin besar ya, sehingga kemudian tentu kita harus memastikan bahwa ada ruang aman, ada rasa aman ketika dalam situasi bencana," ungkapnya.

Salah satu praktik baik yang menjadi contoh keberhasilan perlindungan perempuan dan anak di situasi bencana terjadi pada gempa Sulawesi Tengah tahun 2018. Pada saat itu, pemerintah daerah bersama lembaga kemanusiaan membangun Ruang Ramah Perempuan dan Anak (RPPA) di lokasi pengungsian.

RPPA berfungsi memberikan berbagai layanan, mulai dari perlindungan, konseling, layanan kesehatan reproduksi, hingga aktivitas bermain bagi anak-anak. Upaya ini terbukti membantu memulihkan kondisi psikologis korban, khususnya perempuan dan anak, dalam situasi darurat.

Selain itu, pengalaman pada saat tsunami Aceh 2004 juga menjadi catatan penting dalam penanganan bencana berbasis perlindungan perempuan dan anak. KemenPPPA bersama UNICEF dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) membangun Children's Center di lokasi terdampak.

"Fokusnya tidak hanya untuk anak-anak ya, tapi kita namakan Children's Center, itu juga memberikan ruang untuk anak-anak berekspresi, perempuan, lansia juga melakukan aktivitas sehingga mereka bisa cepat pulih pada situasi bencana," jelas Titi Eko Rahayu.

Children's Center menyediakan fasilitas untuk aktivitas psikososial dan pemulihan, bukan hanya bagi anak, tetapi juga bagi perempuan dan kelompok lanjut usia. Langkah ini menjadi bukti pentingnya fasilitas inklusif untuk mendukung ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana.

KemenPPPA menegaskan bahwa keberadaan ruang ramah dan pusat pemulihan seperti RPPA dan Children's Center harus terus dikembangkan di berbagai daerah rawan bencana. Dengan demikian, perempuan dan anak tidak hanya dilihat sebagai pihak yang dilindungi, tetapi juga sebagai aktor penting dalam upaya pemulihan.

Upaya mendorong keterlibatan perempuan ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk memastikan penanganan bencana yang inklusif dan berkeadilan. KemenPPPA menilai, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa perlindungan berbasis gender mampu mempercepat pemulihan sosial dalam kondisi krisis.

Melalui strategi ini, perempuan diharapkan dapat semakin aktif dalam mengambil peran di lini depan penanggulangan bencana. Selain memperkuat ketahanan keluarga, peran perempuan juga akan memperluas cakupan perlindungan terhadap kelompok rentan lainnya.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.