Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Penyimpangan dan Manipulasi Picu Anomali Harga Pangan dan Minyak di Indonesia

📅 Selasa, 19 Agu 2025, 01:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Penyimpangan dan Manipulasi Picu Anomali Harga Pangan dan Minyak di Indonesia Doc: istimewa
Ket. Presiden mengaku sangat heran dengan fenomena anomali seperti kelangkaan minyak goreng yang sempat melanda Indonesia beberapa waktu lalu, padahal tercatat sebagai negara produsen kelapa sawit terbesar dunia.

JAKARTA - Distorsi dalam sistem ekonomi nasional seperti penyimpangan dan manipulasi oleh oknum kelompok-kelompok yang serakah dinilai menjadi penyebab kerap terjadinya fenomena yang anomali. 

Presiden Prabowo Subianto, dalam sidang tahunan DPR/MPR, di Jakarta, Jumat (15/8) pekan lalu menyatakan fenomena seperti manipulasi kerap terjadi karena keserakahan aktor ekonomi atau yang dia sebut “Serakahnomics”.

Presiden mengaku sangat heran dengan fenomena anomali seperti kelangkaan minyak goreng yang sempat melanda Indonesia beberapa waktu lalu, padahal tercatat sebagai negara produsen kelapa sawit terbesar dunia.

“Sungguh aneh negara dengan produksi kelapa sawit terbesar di dunia pernah mengalami kelangkaan minyak goreng. Aneh sekali, tidak masuk di akal sehat, dan ternyata ada permainan manipulasi yang saya beri nama Serakahnomics,” kata Prabowo.

Sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia, Indonesia tegas Presiden tidak seharusnya mengalami kelangkaan berbulan-bulan. Kepala Negara dalam pidatonya juga menyoroti harga pangan yang masih tinggi meskipun negara telah memberi subsidi pupuk, alat pertanian, hingga pembangunan waduk.

“Keanehan-keanehan ini terjadi karena ada distorsi dalam sistem ekonomi kita, ada penyimpangan. Padahal UUD 1945 terutama pasal 33 ayat 1, 2, dan 3 adalah benteng pertahanan ekonomi kita,” kata Presiden.

Wakil Rektor Tiga, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam yang diminya pendapatnya mengatakan, meskipun kelangkaan minyak goreng disebabkan beberapa faktor yang berkaitan, namun masalah distribusi dan dugaan praktik kartel sebagai penyebab yang lebih dominan, sehingga patut menjadi perhatian.

“Faktor-faktor seperti kenaikan harga CPO memang membuat produsen lebih tertarik menjual komoditas mereka ke luar negeri, atau kebijakan B30 yang membuat sebagian produksi minyak nabati dialihkan untuk biodiesel. Namun saya kira problem klasik yang sering terjadi dalam instabilitas harga tetap pada persoalan distribusi dan logistik,” kata Surokim.

Sebagai negara kepulauan menghadapi tantangan dalam distribusi secara merata dan tepat waktu, diakui memang bisa sebagai penyebab kelangkaan di beberapa daerah. Kendati demikian, patut dicermati pula dugaan adanya praktik kartel, spekulan, dan aksi penimbunan yang memperuh harga. “Aparat harus menindaklanjuti kemungkinan-kemungkinan ini,” katanya.

Tata Kelola Timpang

Sementara itu, Deputi Bidang Pemantauan Indonesia Human Rights Committee for Social Justice (IHCS), Lalu Ahmad Laduni, menilai kelangkaan minyak goreng terjadi karena tata kelola yang timpang.

“Ada dominasi segelintir perusahaan besar yang menguasai industri sawit dari hulu sampai hilir. Saat harga CPO di pasar global melonjak, mereka lebih memilih ekspor dibanding memenuhi kebutuhan domestik,” kata Laduni di Jakarta, Senin (18/8).

Selain itu, kata Laduni, distribusi minyak goreng dalam negeri seringkali diganggu oleh praktik spekulan. “Ada pihak yang menahan barang untuk menunggu harga naik. Akibatnya masyarakat dikorbankan oleh permainan pasar,” katanya.

Laduni juga menyoroti kontradiksi kebijakan subsidi pemerintah. “Negara sudah mengucurkan subsidi untuk pupuk, alat pertanian, bahkan pembangunan infrastruktur pertanian. Tapi nyatanya harga pangan tetap tinggi dan tidak terjangkau. Artinya ada yang salah dalam rantai distribusi, keuntungan tidak jatuh ke tangan petani atau konsumen, melainkan terpusat di kelompok konglomerat,” tegasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Toko-toko di Bordeaux bersi...
Luar Negeri
Kenaikan Harga BBM Picu Aks...
Megapolitan
Pasar pangan murah menjangk...

Trisakti Bantu Warga Duri Kosambi Olah Sampah

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Megapolitan
Trisakti Bantu Warga Duri K...

Hari Santri Nasional

1.5 jam yang lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.