Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tarif Resiprokal Jadi Kunci, Dunia Usaha Waspada Skenario Terburuk

📅 Senin, 11 Agu 2025, 23:56 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tarif Resiprokal Jadi Kunci, Dunia Usaha Waspada Skenario Terburuk Doc: Antara
Ket. Ilustrasi-Aktivitas produksi di industri makanan dan minuman.

JAKARTA – Dunia usaha tengah memasang kuda-kuda untuk memperluas target pasar, sembari menahan napas menunggu hasil negosiasi antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) terkait tarif resiprokal.

Kesepakatan ini berpotensi membuka pintu lebar bagi produk Indonesia menembus pasar AS dengan beban tarif lebih ringan—atau sebaliknya, menambah beban biaya jika diplomasi gagal.

Bagi pelaku usaha, hasil negosiasi ini bukan sekadar soal angka tarif, tapi juga penentu arah ekspansi, strategi produksi, dan daya saing di panggung global.

Satu kesepakatan strategis bisa menghidupkan mesin ekspor, tapi satu pasal yang keliru bisa menjadi batu sandungan bagi sektor industri yang baru saja bangkit pasca pandemi.

Sementara itu, pelaku pasar global tidak menunggu. Negara pesaing bisa saja memanfaatkan jeda negosiasi ini untuk mengamankan pangsa pasar mereka.

Artinya, ketepatan strategi pemerintah dalam diplomasi dagang akan menentukan apakah dunia usaha Indonesia melaju sebagai pemain utama atau tersisih di tikungan persaingan internasional.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani saat dihubungi di Jakarta, Senin (11/8), mengatakan dunia usaha pada prinsipnya mau tidak mau harus bersiap menghadapi berbagai skenario, termasuk jika tarif resiprokal yang berlaku saat ini sebesar 19 persen tidak berubah.

“Namun, kami menilai bahwa negosiasi lanjutan yang sedang dilakukan pemerintah masih menjadi ruang yang sangat penting untuk memperjuangkan penurunan tarif atau bahkan pengecualian untuk komoditas tertentu, terutama yang tidak diproduksi di Amerika Serikat, seperti kopi, mineral kritis, karet, dan produk-produk strategis lainnya,” ujarnya.

Dalam menghadapi tekanan tarif yang tinggi, kata Shinta, pelaku usaha makin cermat memperluas penetrasi ke pasar non-tradisional, seperti kawasan Timur Tengah, Asia Selatan, Afrika, dan Amerika Latin.

Negara-negara itu dikatakan sebagai wilayah yang selama ini belum tergarap optimal, namun memiliki potensi permintaan yang terus tumbuh.

Kawasan tradisional di negara anggota ASEAN dan Uni Eropa juga menjadi sasaran pelaku dunia usaha.

“Meskipun sebagai catatan, penetrasi pasar baru ini juga tidak bisa dikerjakan dalam waktu singkat,” ujar Shinta pula.

Di sisi lain, pengusaha juga berupaya memperkuat daya saing rantai pasok, termasuk melalui konsolidasi pasokan bahan baku, optimalisasi kapasitas produksi, dan digitalisasi logistik, agar produk Indonesia tetap kompetitif meskipun berada dalam tekanan eksternal yang besar.

Dia menyebut pihaknya dan asosiasi sektoral bersama pemerintah sudah melakukan pemetaan awal berbasis data HS Code dan kontribusi sektor terhadap ekspor ke AS.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Belajar merangkai kain batik di Semarang

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Ekonomi
Digitalisasi ekonomi melalu...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.