- Home
-
- Megapolitan
-
- Makin Parah! Kualitas Udar...
Makin Parah! Kualitas Udara Jakarta Sabtu Pagi Paling Buruk Pertama di Dunia
Sabtu, 09 Agu 2025, 07:52 WIBJAKARTA - DKI Jakarta menduduki posisi pertama sebagai kota besar paling berpolusi di dunia pada Sabtu (9/8) pagi, berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.50 WIB.
Indeks Kualitas Udara (AQI) di Jakarta berada pada angka 168 atau masuk dalam kategori tidak sehat dengan polusi udara PM2.5 dan nilai konsentrasi 80 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut menunjukkan tingkat kualitas udara di ibu kota berada dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, yakni dapat merugikan manusia maupun kelompok hewan yang sensitif serta dapat menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.
Pada kategori sedang, kualitas udara tidak berpengaruh terhadap kesehatan manusia maupun hewan, tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 51-100.
Kemudian kategori baik, yakni tingkat kualitas udara tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia maupun hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.
Selanjutnya, kategori sangat tidak sehat, yakni dengan rentang PM2,5 sebesar 200-299 atau kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Terakhir, kategori berbahaya (300-500) atau secara umum kualitas udaranya dapat menimbulkan dampak kesehatan yang serius terhadap seluruh populasi.
Kota dengan kualitas udara terburuk urutan kedua, yaitu Kinshasa, Kongo-Kinshasa dengan angka 166, urutan ketiga Kampala, Uganda pada angka 137, urutan keempat Manama, Bahrain dengan angka 132, dan urutan kelima Kota Batam, Indonesia pada angka 124.
Terkait kondisi udara tersebut, masyarakat diimbau agar menghindari aktivitas di luar ruangan. Namun jika harus berada di luar ruangan, gunakanlah masker, kemudian tutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor.
Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto menyebutkan saat ini terdapat 111 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) di Jakarta.
Data dari SPKU tersebut dapat diakses masyarakat melalui laman resmi milik Pemprov DKI Jakarta yang dilengkapi fitur-fitur unggulan, seperti peta lokasi SPKU secara geospasial, pemeringkatan kualitas udara dari yang terbaik hingga terburuk, serta langkah-langkah yang perlu diambil saat kualitas udara memburuk.
"Saya mengimbau warga Jakarta untuk mengakses platform resmi karena fitur-fitur yang tersedia sudah terstandarisasi, lengkap, dan mudah dipahami. Dengan data yang valid dan akurat, platform ini bisa menjadi panduan utama masyarakat dalam mengambil keputusan saat beraktivitas di luar ruangan," kata Asep di Jakarta, Senin (21/7).
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara, Lili Lestari
Berita Terkait:
-
GoPay Luncurkan Fitur Transfer Luar Negeri, Kirim Uang ke 7 Negara Langsung dari Aplikasi
-
Viral Minuman Kolesom Jumbo, LPPOM: Alkohol 19,7 Persen Tergolong Khamr, Haram!
-
OJK Yakin Kredit UMKM Terus Meningkat hingga Pengujung 2026
-
Kamis Pagi, Kualitas Udara Jakarta Ketiga Terburuk di Dunia pada Kamis pagi
-
IQAir: Kualitas Udara Jakarta Tidak Sehat Pagi Ini, Kelima Terburuk di Dunia
-
IQAir: Kualitas Udara Jakarta Masuk 10 Besar Terburuk di Dunia Pagi Ini
-
Pemprov Kaltara Usulkan Percepatan Pembangunan Jalan Perbatasan Krayan ke Kementerian PU
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.