Belanja Pemerintah Jadi Sorotan, Rupiah Bakal Ikut Goyang

Kamis, 31 Jul 2025, 00:55 WIB

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berpotensi melemah di pengujung Juli. Pergerakan rupiah bakal dipengaruhi sentimen domestik, seperti percepatan belanja pemerintah untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi tahun ini yang dipatok sebesar 5,2 persen.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi melihat semester II-2025 akan menjadi penentu tercapainya target pertumbuhan ekonomi. Karenanya, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terhadap rupiah dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Kamis (31/7) bergerak melemah di kisaran 16.390 - 16.450 rupiah per dollar AS.

Ket. Foto: Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta. — Sumber: ANTARA/ Muhammad Adimaja

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Rabu (30/7), di Jakarta menguat sebesar 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.405 per dollar AS dari sebelumnya Rp16.409 per dollar AS. “Penguatan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi “gencatan senjata” pengenaan tarif selama 90 hari antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok,” ujar Ibrahim.

Dia menambahkan para pejabat AS dan Tiongkok sepakat memperpanjang gencatan senjata tarif 90 hari mereka pada Selasa (29/7), setelah dua hari perundingan yang digambarkan kedua belah pihak sebagai perundingan konstruktif di Stockholm (Swedia). Perundingan itu bertujuan meredakan perang dagang yang semakin memanas antara dua negara dengan ekonomi terbesar dunia yang mengancam pertumbuhan global.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent meredam ekspektasi Presiden AS Donald Trump akan menolak perpanjangan tersebut, karena pertemuan dengan Tiongkok sangat konstruktif. Alhasil, keputusan untuk memperpanjang gencatan tarif perdagangan yang berakhir pada 12 Agustus atau membiarkan tarif melonjak kembali ke angka tiga digit, berada di tangan Trump.

Di sisi lain, sentimen terhadap rupiah juga berasal dari keyakinan pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuan. The Fed tak berkomitmen untuk pelonggaran lebih lanjut, meskipun ada tekanan dari Presiden AS untuk memangkas suku bunga. Tekanan dari Trump disebut dapat menimbulkan perselisihan di antara para pembuat kebijakan The Fed.

“Gubernur Christopher Waller dan Michelle Bowman kemungkinan akan memberikan suara menentang keputusan Powell untuk mempertahankan suku bunga acuan. Namun beberapa tanda meredanya kondisi di pasar tenaga kerja, ditambah dengan kejelasan yang lebih lanjut tentang tarif Trump, juga dapat membuat The Fed lebih terbuka untuk akhirnya memangkas suku bunga acuan,” ungkap Ibrahim. mad/Ant/E-10

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.