Angka Kelaparan Global Menurun

Rabu, 30 Jul 2025, 02:30 WIB

ADDIS ABABA - Jumlah orang yang kelaparan di seluruh dunia turun untuk tahun ketiga berturut-turut pada tahun 2024, mundur dari saat lonjakan era Covid, bahkan ketika konflik dan guncangan iklim memperparah kekurangan gizi di sebagian besar Afrika dan Asia barat, kata laporan PBB pada Senin (28/7).

“Sekitar 673 juta orang, atau 8,2 persen dari populasi dunia, mengalami kelaparan pada tahun 2024, turun dari 8,5 persen pada tahun 2023”, menurut laporan Keadaan Keamanan Pangan dan Gizi di Dunia yang disiapkan bersama oleh lima badan PBB.

Ket. Foto: Maximo Torero — Sumber: Istimewa

Mereka mengatakan laporan tersebut berfokus pada masalah kronis dan jangka panjang dan tidak sepenuhnya mencerminkan dampak krisis akut yang disebabkan oleh peristiwa tertentu dan perang.

Maximo Torero, kepala ekonom untuk Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, mengatakan bahwa peningkatan akses terhadap pangan di Amerika Selatan dan India telah mendorong penurunan secara keseluruhan, tetapi memperingatkan bahwa konflik dan faktor-faktor lain di tempat-tempat seperti Afrika dan Timur Tengah berisiko menggagalkan keuntungan tersebut.

"Jika konflik terus berkobar, tentu saja, jika kerentanan terus berkobar, dan tekanan utang terus meningkat, jumlahnya akan meningkat lagi," ujar Torero di sela-sela pertemuan puncak pangan PBB di Ethiopia.

“Konflik terus memicu kelaparan dari Gaza hingga Sudan dan sekitarnya,” kata Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, dalam sambutan yang disampaikan melalui tautan video di KTT tersebut. “Kelaparan semakin memperburuk ketidakstabilan di masa depan dan merusak perdamaian,” imbuh dia.

Pada tahun 2024, kemajuan paling signifikan tercatat di Amerika Selatan dan Asia Selatan, kata laporan PBB. Di Amerika Selatan, tingkat kelaparan turun menjadi 3,8 persen pada tahun 2024 dari 4,2 persen pada tahun 2023. Sedangkan di Asia Selatan, turun menjadi 11 persen dari 12,2 persen.

Kemajuan di Amerika Selatan didukung oleh produktivitas pertanian yang lebih baik dan program-program sosial seperti program makan di sekolah, ungkap Torero. Di Asia Selatan, kemajuan ini terutama disebabkan oleh data baru dari India yang menunjukkan lebih banyak orang memiliki akses terhadap pola makan sehat.

Angka kelaparan keseluruhan tahun 2024 masih lebih tinggi dari 7,5 persen yang tercatat pada tahun 2019 sebelum pandemi Covid-19.

Gambarannya sangat berbeda terdapat di Afrika di mana peningkatan produktivitas tidak mampu mengimbangi pertumbuhan populasi yang tinggi dan dampak konflik, cuaca ekstrem, dan inflasi.

Pada tahun 2024, lebih dari satu dari lima orang di benua itu (307 juta orang), mengalami kekurangan gizi kronis, yang berarti kelaparan lebih lazim daripada 20 tahun yang lalu.

 Angka kelaparan di Afrika dapat meningkat hingga 500 juta pada tahun 2030, yang mewakili hampir 60 persen dari jumlah penduduk dunia yang kelaparan, kata laporan itu.

Kesenjangan antara inflasi harga pangan global dan inflasi keseluruhan mencapai puncaknya pada Januari 2023, yang meningkatkan biaya makanan dan berdampak paling parah pada negara-negara berpenghasilan rendah, kata laporan itu.

Jumlah orang yang tidak mampu membeli makanan sehat pun secara global turun dalam lima tahun terakhir menjadi 2,6 miliar pada tahun 2024 dari 2,76 miliar pada tahun 2019, menurut laporan tersebut. ST/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.