• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Kekurangan Zat Besi Sebabk...

Kekurangan Zat Besi Sebabkan Gangguan Penglihatan dan Memori

Senin, 28 Jul 2025, 17:45 WIB

JAKARTA–  Anemia dan gangguan penglihatan pada anak menjadi tantangan dalam kesehatan anak di Indonesia. Keduanya tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga menghambat fungsi kognitif penting seperti memori kerja, yang berperan besar dalam proses belajar dan berpikir.

Menurut laporan WHO, sekitar 25% anak usia sekolah di seluruh dunia mengalami anemia. Dalam Jurnal Plos One 2023 disebutkan bahwa hampir 50% kasus anemia disebabkan oleh defisiensi zat besi, yang terbukti berkorelasi negatif dengan perkembangan kognitif anak.

Ket. Foto: Medical & Scientific Affairs Director Nutricia Sarihusada, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, dalam acara INA Nutri Symposium 2025, beberapa waktu lalu. — Sumber: Danone

Melihat urgensi isu tersebut, Study & Symposium Supported by Danone yang merupakan bagian dari rangkaian INA Nutri Symposium 2025 yang diselenggarakan oleh Indonesia Nutrition Association (INA), menghadirkan pemaparan dua studi terbaru dari Indonesian Health Development Center (IHDC).  Studi ini mengungkap keterkaitan antara anemia defisiensi zat besi dan gangguan penglihatan dengan gangguan fungsi memori kerja serta penurunan kemampuan akademik pada anak.

Medical & Scientific Affairs Director Nutricia Sarihusada, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menjelaskan hasil studi yang memperlihatkan bagaimana anemia akibat defisiensi zat besi berdampak langsung pada fungsi kognitif anak.  Studi yang melibatkan 335 anak usia sekolah dasar di Jakarta, ditemukan bahwa sekitar 19,7% anak mengalami anemia dan 22,1% memiliki gangguan kerja memori.

“Anak dengan kadar hemoglobin yang lebih rendah secara signifikan menunjukkan performa memori kerja yang lebih buruk. Ini menunjukkan bahwa anemia bukan hanya masalah fisik, tetapi juga berdampak nyata pada fungsi kognitif dan kemampuan belajar anak,” ujar dr Ray melalui keterangannya pada hari Minggu (28/7).

Lebih lanjut, Dr. Ray menjelaskan bahwa studi menunjukkan anak-anak dengan gangguan memori kerja memiliki kadar hemoglobin yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan anak dengan fungsi memori kerja normal. Hal ini memperkuat kaitan antara anemia, khususnya akibat defisiensi zat besi, dengan terganggunya kemampuan belajar dan berpikir anak.

Selain itu, anak yang mengalami stunting (tinggi badan di bawah standar) tercatat memiliki risiko tiga kali lebih tinggi mengalami gangguan memori kerja, yang mengindikasikan dampak jangka panjang dari malnutrisi terhadap perkembangan otak.

Rendahnya asupan protein dan lemak pada anak usia sekolah dapat memperparah dampak anemia terhadap fungsi kognitif. Oleh karena itu, dibutuhkan program nutrisi berbasis sekolah yang fokus pada pemenuhan zat besi dan protein untuk membantu meningkatkan kemampuan belajar dan fungsi memori anak secara menyeluruh.

Sementara itu, Direktur Kemitraan dari Indonesian Health Development Center (IHDC), Dr. Kianti R. Darusman, M.Sc., PhD, menyampaikan bahwa gangguan penglihatan seperti refractive error (rabun jauh, rabun dekat, dan astigmatisme) yang tidak ditangani dengan tepat dapat mengganggu proses belajar anak.

“Sebab sebagian besar aktivitas belajar di sekolah bersifat visual, anak dengan penglihatan terganggu perlu berusaha lebih keras untuk memahami informasi. Hal ini dapat menurunkan efisiensi memori kerja dan berdampak pada kemampuan belajar secara keseluruhan,” jelas Dr. Kianti.

Hasil studi IHDC mencatat bahwa meskipun hubungan antara gangguan penglihatan dan penurunan memori kerja belum signifikan secara statistik, namun secara klinis sekitar 19,5% anak dengan gangguan penglihatan juga mengalami gangguan memori kerja.

“Gangguan penglihatan juga ditemukan cukup umum terjadi pada anak usia sekolah, yang merupakan fase penting dalam perkembangan kognitif dan akademik,” terang dia.

Bahkan, anak-anak dengan gangguan penglihatan ini tercatat memiliki nilai akademik lebih rendah yang signifikan dibandingkan dengan yang memiliki penglihatan normal. Temuan ini menekankan pentingnya pemeriksaan mata secara rutin dan penanganan yang tepat untuk mendukung kemampuan belajar anak secara optimal.

Berdasarkan kedua studi ini, terlihat bahwa gangguan kesehatan seperti anemia dan gangguan penglihatan berdampak cukup signifikan terhadap fungsi kognitif anak, khususnya memori kerja yang memegang peranan penting dalam proses belajar.

Ini memperkuat pentingnya intervensi nutrisi yang tepat, khususnya dalam memenuhi kebutuhan zat besi, protein, dan lemak untuk mendukung perkembangan otak anak. Zat besi berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan sel, termasuk sel-sel otak yang mempengaruhi kognitif dan kemampuan belajar anak.

“Kekurangan zat besi tidak hanya berdampak fisik, tetapi juga kognitif, dan dapat memperbesar risiko

gangguan belajar jika tidak ditangani sejak dini,” kata dia.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.