Segudang Keragaman Budaya dan Hayati
Jumat, 25 Jul 2025, 07:19 WIBGEOPARK Bojonegoro bukan hanya kaya akan warisan geosite atau situs bumi yang jumlahnya sejauh ini mencapai 16 titik. Tempat ini juga kaya akan biosite atau situs keanekaragaman hayati dan juga budaya masyarakat.
Biosite adalah lokasi yang memiliki nilai penting dalam hal flora, fauna, atau ekosistem unik yang mendukung keberagaman hayati. Di Geopark Bojonegoro, terdapat 3 biosite utama yaitu Kebun Belimbing Ngringinrejo, Penangkaran Rusa Malo, dan hutan jati.
Kebun Belimbing Ngringinrejo berada di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu. Luasnya mencapai 19.3 hektar, dikelola oleh 80 pekebun. Kepemilikan pohon belimbing masing-masing orang pun berbeda, namun di desa ini, hampir seluruh warganya berprofesi sebagai petani belimbing.
Buah belimbing yang ada di kebun ini memiliki ukuran besar. Hal ini menjadikan buah belimbing ini sebagai salah satu produk andalan dan menjadi ikon agrowisata Kabupaten Bojonegoro. Di sini pengunjung dibolehkan memetik buah belimbing dan mencicipinya langsung dari pohon, serta menyajikan fasilitas seperti tur kebun, area edukasi anak, dan toko produk olahan belimbing secara gratis.
Varietas belimbing yang dikembangkan adalah belimbing madu. Untuk harga perkilonya berkisar 3.000 sampai 4.000 rupiah, untuk ukuran kecil, dan 5.000 sampai 8.000 rupiah  untuk ukuran besar atau jumbo.
Selain wisata petik buah, Kebun Belimbing Ngringinrejo menjadi tempat edukasi pertanian, konservasi tanaman buah asli. Selain buah belimbing, pengunjung juga dapat menikmati oleh-oleh kerupuk belimbing dan aneka olahan berbahan dasar belimbing.
Biosite selanjutnya adalah Penangkaran Rusa Malo (Cervus timorensis). Penangkaran rusa ini ada di kawasan Perhutani BKPH Kecamatan Malo, dan telah ada sejak 2014, yang berawal dari dana hibah antara pihak EP Asset 4 Cepu dengan KPH Parengan.
Pihak perusahaan tersebut menyerahkan rusa jawa dari Blitar sebanyak 13 ekor. Selain itu, pihak penangkaran rusa ini juga bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan UGM. Selanjutnya penangkaran rusa ini dijadikan wisata edukasi.
Penangkaran rusa ini cukup luas, yaitu sekitar 4.800 meter persegi. Bentuk kandangnya berupa kandang jepit, yang dapat digunakan sebagai kandang persalinan dan penyapihan bagi indukan yang akan melahirkan. Fasilitas ini bertujuan untuk menekan angka kematian anak rusa yang baru lahir, akibat gangguan dari rusa dewasa.
Awalnya ada 13 ekor rusa jawa yang diperoleh dari Blitar. Pada 2023, ada 48 ekor rusa jawa jantan dan betina. Tujuh ekor rusa jawa di antaranya ditempatkan di objek wisata Prataan, di Desa Wukirharjo, Parengan, Tuban.
Sesuai dengan ketentuan, rusa yang ditangkap beberapa di antaranya harus dilepas di alam liar. Beberapa yang telah dilepas liarkan adalah empat ekor rusa Jawa yang terdiri dari satu jantan dan tiga betina, dilepas di Hutan Tahura Raden Soeryo Malang. hay
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.