• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Geopark Bojonegoro, Labora...

Geopark Bojonegoro, Laboratorium Alam yang Kaya Warisan

Jumat, 25 Jul 2025, 07:17 WIB

INDONESIA saat ini memiliki sebanyak 12 UNESCO Global Geopark (UGGp), menyusul ditetapkannya Geopark Kebumen, di Jawa Tengah dan Meratus, di Kalimantan Selatan. Angka ini kemungkinan akan bertambah dengan usulan Geopark Nasional Bojonegoro, yang kini tengah berproses menuju pengakuan status tersebut.

Pada tahun 2025, Geopark Bojonegoro masuk dalam dua besar Aspiring UNESCO Global Geopark, meraih skor 81,30 dari 100 dan terpilih bersama Geopark Ranah Minang Silokek. Proses penyusunan dan pengajuan ke UNESCO ditargetkan selesai paling lambat 30 November 2025.

Ket. Foto: Kawasan wisata Teksas Wonocolo. — Sumber: Foto Diskominfo Pemprov Jatim

Geopark Bojonegoro secara resmi ditetapkan sebagai Geopark Nasional pada 20 November 2017. Selanjutnya melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik indonesia Nomor : 55.K/HK.P2/MEM.G/2021 ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Alam Geologi Kabupaten Bojonegoro.

Melalui surat tersebut ditetapkan lima objek lokasi yaitu Petroleum System Wonocolo, Struktur Antiklin Kawengan, Kayangan Api, Kedung Lantung, dan Fosil Purba Gigi Hiu. Namun demikian masih ada situs tambahan yang saat mencapai 16 geosite dan 3 biosite atau situs keanekaragaman hayati.

Geosite atau situs geologi dapat diartikan sebagai warisan geologi (geoheritage) dengan ciri khas tertentu baik individual maupun multi objek yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari sebuah cerita evolusi pembentukan suatu daerah. Sedangkan biosite merupakan situs keanekaragaman hayati adalah objek biodiversity yang menjadi bagian taman bumi (geopark).

Dengan luas keseluruhan mencapai 28,12 hektar, Geopark Bojonegoro mengusung tema yang cukup unik yaitu Petroleum Geoheritage berupa minyak bumi dan gas yang merupakan taman bumi satu-satunya di Indonesia.

Tema petroleum dan gas yang diangkat sejalan dengan potensi utama Bojonegoro sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi. Warisan geologi berbasis energi fosil sebagai identitas utama dari Geopark Bojonegoro.

Beragam Geosite

Ada 16 geosite yang bisa didata saat ini. Teksas Wonocolo di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan merupakan geosite unggulan di Geopark Bojonegoro. Situs ini memiliki sumur minyak tua yang dieksploitasi secara tradisional sejak zaman Belanda, dikenal sebagai “Little Texas” Nusantara.”

Geosite ini berupa lembah dan perbukitan yang di bawahnya terkandung banyak minyak bumi. Minyak buminya sudah ditambang sejak akhir abad 18 oleh perusahaan minyak bumi asal Belanda. Pasca Indonesia merdeka pada tahun 1945, pertambangan minyak bumi dilanjutkan warga sekitar secara tradisional.

Di Teksas Wonocolo, para pengunjung dapat melihat banyak sumur minyak bumi berikut menara tajak atau rig kayu yang digunakan untuk mengebor minyak bumi. Secara ringkas para pengunjung geosite ini dapat menyaksikan pengeboran minyak bumi secara tradisional.

Reservoirnya atau area di bawah tanah yang di dalamnya terdapat kandungan minyak bumi sangat dangkal kurang dari 100?meter, menjadikannya salah satu yang terdangkal di dunia dengan ratusan sumur minyak tradisional yang masih beroperasi.

Lainnya adalah Antiklin Kawengan merupakan geosite yang berada di Desa Kawengan, Kecamatan Kedewan. Situs ini berupa struktur geologi yang menampilkan singkapan lipatan batuan dengan karakteristik lipatan batuan yang membentuk perbukitan memanjang dari barat-timur.

Tempat ini juga menjadi lokasi eksploitasi minyak tradisional dan studi geologi lapangan. Oleh pemerintah setempat situs Antiklin Kawengan berperan sebagai salah satu geosite utama dalam Geopark Bojonegoro.

Lapisan batuan di Antiklin Kawengan mengandung minyak bumi yang dieksploitasi secara tradisional dan modern. Selama ini desa Kawengan menjadi kawasan untuk pendidikan geologi, perminyakan, dan geofisika bagi mahasiswa dan peneliti.

Antiklin sendiri merupakan istilah untuk struktur geologi berupa lipatan lapisan batuan sedimen atau batuan metamorfosis yang cembung ke atas. Antiklin yang berada di di bawah permukaan tanah merupakan objek pencarian karena sering kali merupakan perangkap minyak dan gas bumi

Geosite Kayangan Api berada Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, berupa fenomena api abadi yang muncul akibat gas alam bocor yang keluar dari dalam tanah melalui zona lemah (rekahan). Di dekat titik semburan gas, terdapat mata air yang menghasilkan bau menyengat karena mengandung belerang.

Dengan kondisi tersebut, api yang menyala di Kayangan Api hingga kini masih belum bisa padam karena masih tingginya semburan gas. Situs ini bukan hanya sebagai situs geologi namun juga menjadi pusat wisata dan lokasi festival budaya yang terkenal di Bojonegoro

Negeri Atas Angin merupakan geosite yang berada di Desa Deling, Kecamatan Sekar. Pemandangannya berupa perbukitan dengan struktur antiklin. Situs ini menjadi lokasi ini menjadi favorit wisatawan karena banyaknya spot indah menawarkan panorama bentang alam Bojonegoro.

Karena banyaknya panorama indah di tempat ini seringkali menjadi lokasi pemotretan terutama untuk fotografi prewedding. Selain itu, banyak pengunjung yang memilih berkemah di atas bukit yang disebut bukit cinta, untuk dapat menyaksikan keindahan sunrise.

Banyu Kuning yang berada di Desa Krondonan, Kecamatan Gondang merupakan geosit berupa mata air yang mengeluarkan air hangat. Fenomena ini terjadi karena melewati bagian batuan yang panas di dalam tanah. Bebatuan di sini berwarna kuning keemasan sebagai dampak dari tingginya kandungan mineral seperti besi, dan belerang yang dibawa oleh air.

Sejauh ini, Banyu Kuning belum dideklarasikan sebagai objek wisata. Bahkan belum ada kegiatan dan juga pembangunan untuk memanfaatkan potensi alam ini, terutama panas bumi (geothermal) yang terkandung di bawah tanah. Oleh masyarakat setempt sejauh ini biasanya digunakan untuk relaksasi dan edukasi geologi.

Selo Gajah merupakan geosite Geopark Bojonegoro yang berada di Desa Jari, Kecamatan Gondang, Bojonegoro. Geosite ini berupa batu besar, mendongak seperti mulut buaya yang terbuka. Sama sekali tidak menyerupai bentuk gajah, geosite ini berada di tepi sungai kecil yang memiliki sumber air panas. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.