Rupiah Loyo Lagi, Terombang-Ambing Drama Tarif AS!

Senin, 21 Jul 2025, 18:06 WIB

JAKARTA - Rupiah kembali tertekan pada awal pekan saat kondisi perekonomian global diwarnai ketidakpastian.

Investor masih cemas dengan perkembangan kebijakan tarif dagang dari pemerintah Amerika Serikat (AS). 

Ket. Foto: Petugas perbankan menunjukan uang pecahan rupiah dan dolar AS. — Sumber: ANTARA/Muhammad Adimaja

Dalam perkembangannya, tarif tinggi yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump memicu respons negatif dari sejumah negara mitra dagang. 

Bahkan, beberapa negara mengancam menerapkan tarif tinggi terhadap barang-barang dari Negeri Paman Sam. 

Mempertimbangkan kondisi tersebut, investor cenderung melepas aset berisikonya dan beralih ke safe haven, terutama aset dollar AS. Hal itu menyebabkan rupiah kembali melemah. 

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Senin (21/7), di Jakarta, melemah sebesar 26 poin atau 0,16 persen menjadi Rp16.323 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.297 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, Senin (21/7), juga melemah ke level Rp16.330 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.301 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi peningkatan ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat (AS).

“Meningkatnya ketidakpastian tarif AS terus trending di kalangan para investor, setelah Wall Street Journal (WSJ) melaporkan pada hari Minggu (20/7) bahwa Uni Eropa (UE) sedang mempersiapkan tindakan balasan atas tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (21/7).

Tindakan balasan dari UE merupakan tanggapan atas tuntutan pejabat AS yang merasa permintaan untuk kesepakatan perdagangan, sekaligus menerapkan tarif dasar sebesar 15 persen.

Dalam waktu dekat, yakni 1 Agustus, AS disebut akan segera memberlakukan tarif antara 20-50 persen terhadap sejumlah negara. Hal ini membuat investor bersikap hati-hati.

Selain itu, Presiden AS Donald Trump juga mengancam bakal memberikan sanksi kepada pembeli ekspor Rusia kecuali Moskow menyetujui kesepakatan damai dengan Ukraina dalam 50 hari.

Di Asia, sentimen pelemahan rupiah berasal dari hasil pemilihan majelis tinggi Jepang yang menunjukkan Partai Demokrat Liberal yang berkuasa kehilangan mayoritas suara, karena hanya mampu mengamankan 47 kursi dari 248 kursi yang tersedia, sehingga menimbulkan keraguan atas masa depan Pemerintahan Jepang.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.