Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

WTA Wimbledon Berjalan, Putri Ini Satu-satunya Petenis Indonesia yang Pernah Menggemparkan dengan Menjadi Juara

📅 Selasa, 01 Jul 2025, 13:19 WIB | Oleh:
WTA Wimbledon Berjalan, Putri Ini Satu-satunya Petenis Indonesia yang Pernah Menggemparkan dengan Menjadi Juara Doc: ist
Ket. Angelique Widjaja

JAKARTA – Sejak kemarin (30/6) turnamen tenis WTA Wimbledon mulai, dan akan berakhir 13 Juli. Wembli selalu angker buat berbagai turnamen olahraga, termasuk tenis. Namun, begitu ingatkah bahwa ada petenis putri Indonesia yang pernah menggemparkan jagad dengan menjuarai tenis Wembli?

Meski juara Wembli di level Junior, Angelique Widjaja, untuk saat itu, merupakan prestasi luar biasa untuk Indonesia, bahkan Asean, dan Asia. Angelique Widjaja, yang akrab disapa Angie, berhasil menjuarai Wimbledon Junior 2001.

Perlu melihat sejarah ke belakang. Begitu banyak petenis Indonesia yang melaju cukup jauh di Grand Slam sekelas WTA Wimbledon. Wimbledon bukan sekadar Grand Slam. Ia merupakan simbol tradisi, elegansi, dan salah satu seleksi alam paling ketat dalam dunia tenis. Tidak semua petenis, apalagi dari Asia Tenggara, mampu menembusnya. Namun, para petenis Indonesia banyak yang mengukir langkah jauh di Wembli.

Lita dan Lany: kenanga pembuka jalan

Pada tahun 1971, dua perempuan Indonesia melangkah di rumput Wimbledon. Mereka adalah Lita Liem Sugiarto dan Lany Kaligis. Nama-nama yang kini nyaris tenggelam di antara sejarah panjang olahraga tanah air, tapi semestinya layak dikenang setara legenda.

Di sektor ganda putri, Lita dan Lany mampu mencapai perempat final Wimbledon. Sebuah pencapaian luar biasa, mengingat saat itu Indonesia belum punya fasilitas tenis layak, apalagi pelatih asing atau pusat Pelatnas berstandar internasional.

Tahun berikutnya, Lita bahkan menembus putaran ketiga tunggal putri, rekor yang baru bisa disamai beberapa dekade kemudian. Seperti kenanga yang tumbuh tanpa pamrih di pekarangan rumah nenek, keduanya hadir tanpa gegap gempita dan kehebohan. Tapi merekalah para pembuka jalan.

Yayuk Basuki: Saat wangi Itu menjadi tajam

Dua puluh tahun berselang dari pencapaian Lita dan Lany, Indonesia kembali menebar harum. Kali ini lewat Nany Rahayu Basuki, atau yang lebih familiar dengan sapaan akrab Yayuk Basuki, petenis asal Yogyakarta yang tampil berani di panggung dunia.

Pada tahun 1997, Yayuk mencapai perempat final tunggal putri Wimbledon, sebuah pencapaian yang hingga kini belum bisa disamai oleh petenis Asia Tenggara lainnya. Di antara barisan petenis dari Amerika Serikat, Prancis, dan Jerman, Yayuk berdiri tegak dengan servis kuat dan permainan net yang efisien.

Ia menjadi semacam The Smiling Assassin dari Timur. Tidak dengan teriakan keras, tapi dengan pukulan terukur dan mimik tenang. Seperti kenanga yang tampak tenang namun kuat bertahan di panas dan hujan tropis, Yayuk menghadapi tekanan dengan keanggunan kelas wahid.

Kenanga yang tak mekar: Angelique dan Wynne

Memasuk era 2000-an, harapan Indonesia kembali tumbuh. Angelique Widjaja, yang akrab disapa Angie, berhasil menjuarai Wimbledon Junior 2001. Kemenangan itu menjadikannya sorotan dunia tenis. Indonesia kembali diajak bermimpi: mungkinkah juara Grand Slam itu berasal dari Nusantara?

Meski kemudian cedera dan tekanan membuat langkah Angie terganjal, ia tetap mencatatkan hasil mengesankan di Wimbledon: dua kali mencapai babak kedua tunggal, dan dua kali pula perempat final ganda putri pada 2003 dan 2004.

Pada saat bersamaan, Wynne Prakusya juga konsisten tampil. Ia sempat melaju hingga babak ketiga ganda putri dan juga membela Indonesia Olimpiade 2004 Athena. Bersama Angie, mereka menorehkan jejak harum, meski tidak panjang. Seperti kenanga yang tidak mekar setiap saat, tapi selalu dikenang aromanya.

Aldila Sutjiadi: harum yang bertahan

Hari ini, satu nama masih terus menjaga kehadiran Indonesia di Wimbledon: Aldila Sutjiadi. Ia tak datang dengan hype besar, tapi dengan kerja keras dan konsistensi. Sejak 2022, Aldila rutin tampil di kompetisi level Grand Slam.

Wimbledon menjadi salah satu panggung terbaiknya. Pada tahun 2023, Aldila mencetak sejarah: menembus semifinal ganda campuran, prestasi tertinggi Indonesia di nomor itu sepanjang masa. Bersama Matwe Middelkoop, ia mengalahkan pasangan-pasangan unggulan dan menunjukkan bahwa petenis Indonesia tak hanya hadir untuk melengkapi undian.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
  • Kemenperin Pacu Industri Halal Tembus Pasar Global Lewat Halal Indo 2026
    Langkah mendorong penyerapan 60 persen vendor lokal di ...
  • Bukan Sekadar Ekspor, Industri Pangan Indonesia Kejar Posisi di Rantai Nilai Global
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai posisi manufaktur Indonesia ...
  • Industri Besar di Kaltim Didorong Wajib Serap 60 Persen Vendor dan UMKM Lokal.
    Langkah Komisi VII DPR RI dalam mendorong regulasi ...
Advertisement
Art Jakarta Detail Sidebar
Nasional
Asosiasi Ojol Tolak Status ...
Advertisement
Puncak Peringatan HUT Ke-81 TNI di Monas Dibatalkan

Puncak Peringatan HUT Ke-81 TNI di Monas Dibatalkan

22 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.