• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Fenomena 'Passenger Parent...

Fenomena 'Passenger Parenting': Gaya Asuh Kekinian yang Katanya Bikin Anak Mandiri

Selasa, 24 Jun 2025, 17:00 WIB

JAKARTA - Di banyak keluarga masa kini, terutama di kota besar dan lingkungan digital, muncul perubahan halus namun signifikan dalam cara orang tua membesarkan anak.

Bukan lagi jadi pengemudi utama dalam hidup anak, kini banyak orang tua memilih duduk di kursi penumpang. Mereka tetap hadir, tetap peduli, tapi tak lagi terlalu mengatur. Fenomena ini dikenal sebagai Passenger Parenting.

Ket. Foto: — Sumber: ABC News

Sekilas, gaya asuh ini terkesan progresif. Memberikan anak kebebasan, memberi ruang untuk tumbuh dan belajar sendiri. Tapi pertanyaannya, apakah ini benar-benar ideal untuk perkembangan emosi, kognisi, dan sosial anak? Atau cuma cara parenting instan yang dibalut dengan kata “modern”?

Apa Itu Passenger Parenting?

Bayangkan seorang penumpang dalam mobil. Dia mempercayai si pengemudi, tidak ikut campur kecuali dalam kondisi darurat.

Begitu juga Passenger Parenting—orang tua lebih banyak mengamati dari kejauhan, membiarkan anak mengambil keputusan sendiri, dan hanya turun tangan saat benar-benar dibutuhkan, seperti dilansir dari Times of India. 

Bukan berarti cuek atau nggak peduli, ya. Justru banyak orang tua yang memaknai gaya ini sebagai bentuk menghargai kebebasan dan ritme tumbuh kembang anak.

Dalam praktiknya, anak dibiarkan memilih sendiri apa yang mau dimakan, kapan mau belajar, atau bagaimana cara mengatur waktunya, sementara orang tua hanya berperan sebagai emotional support system.

Makin Tren, Tapi Apakah Aman?

Data dari survei parenting di AS, Inggris, dan kota-kota besar di India menunjukkan peningkatan tren parenting non-intervensi ini. Banyak orang tua milenial dan Gen Z yang mengaku lelah dengan pola asuh terlalu mengontrol, sehingga memilih mundur ke belakang dan membiarkan anak take the wheel.

Memang masuk akal, zaman sekarang orang tua juga berjibaku dengan karier, burnout, dan banjir informasi. Memberi anak “ruang” terdengar seperti bentuk kasih sayang modern.

Tapi hati-hati. Yang populer belum tentu yang paling sehat. Passenger Parenting bisa saja tergelincir menjadi gaya asuh yang pasif jika tidak dibarengi kesadaran penuh.

Dalam dunia psikologi perkembangan, anak-anak butuh batasan yang jelas. Butuh rutinitas. Butuh kehadiran yang konsisten. Meski sering kali mereka terlihat menolak aturan, justru dari batas-batas itulah mereka membangun rasa aman secara emosional.

Kalau orang tua terlalu pasif, anak bisa kehilangan momen belajar penting. Misalnya, saat gagal ujian karena tidak belajar, tanpa arahan atau refleksi dari orang tua, anak bisa saja tidak belajar apa pun dari situasi itu. Padahal, keterampilan seperti manajemen emosi, empati, atau kemampuan menghadapi kegagalan, dibentuk justru dari momen-momen keseharian yang sederhana.

Jadi, Harus Gimana?

Nggak ada pola asuh yang 100% salah atau benar. Passenger Parenting bisa jadi cocok, tapi dengan syarat: anak sudah punya fondasi kuat, biasanya di usia praremaja atau remaja, saat mereka sedang belajar ambil keputusan sendiri.

Tapi buat anak usia dini, kehadiran aktif dari orang tua tetap krusial. Anak-anak belajar lewat modelling—mengamati bagaimana orang dewasa mengelola stres, menyelesaikan konflik, atau bangkit dari kegagalan. Tanpa arahan dan keterlibatan emosional, mereka bisa tumbuh dengan peta emosi yang belum lengkap.

Mungkin yang paling ideal adalah model co-pilot parenting. Orang tua tetap jadi bagian dari perjalanan, ikut mengarahkan, memberi dukungan, dan tahu kapan harus mengambil alih kemudi tanpa merampas kendali sepenuhnya.

Karena pada akhirnya, parenting bukan tentang siapa yang paling dominan, tapi tentang menemani tumbuh, bersama-sama.

Redaktur: Nayla Shabrina

Penulis: Nayla Shabrina, Nayla Shabrina

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.