Bintang yang Lewat Sebabkan Bumi Menghangat
Senin, 23 Jun 2025, 07:13 WIBJIKA Tata Surya kita tampak stabil, itu karena rentang hidup kita yang pendek membuatnya tampak demikian. Bumi berputar, malam mengikuti siang, Bulan bergerak melalui cahaya dan bayangan, dan Matahari tergantung di langit.
Namun pada kenyataannya, semuanya bergerak dan mempengaruhi segalanya, dan keseimbangan halus yang kita amati dapat dengan mudah terganggu. Mungkinkah bintang yang lewat (passing star)Â mengganggu orbit Bumi dan mengantar perubahan iklim yang dramatis di masa lalu planet kita?
Sekitar 70.000 tahun yang lalu, komet ini melewati Awan Oort, tempat penyimpanan komet berperiode panjang dan planetesimal es di Tata Surya. Komet ini mungkin telah mengganggu beberapa komet dari Awan Oort. Tetapi jika memang demikian, orang baru akan mengetahuinya dalam beberapa juta tahun. Itulah lamanya waktu yang dibutuhkan komet untuk mencapai Tata Surya bagian dalam.
Bintang Scholz menggambarkan risiko terbang lintasi bintang. Para ilmuwan bertanya-tanya apakah terbang lintas ini telah mempengaruhi iklim Bumi di masa lalu dengan mengubah orbit planet.
Penelitian baru yang akan dimuat dalam The Astrophysical Journal meneliti terbang lintas bintang untuk melihat apakah hal ini benar. Judulnya adalah âTidak Ada Pengaruh Bintang yang Lewat pada Rekonstruksi Paleoklimat Selama 56 Juta Tahun Terakhir.â
Penulisnya adalah Richard Zeebe dan David Hernandez. Zeebe sendiri berasal dari School of Ocean & Earth Science & Technology di University of Hawaii, sedangkan Hernandez berasal dari Department of Astronomy di Yale University.
âBintang-bintang yang lewat (juga disebut stellar flybys) memiliki efek penting pada evolusi dinamis jangka panjang Tata Surya, penyuntikan komet awan Oort ke dalam tata surya, sifat-sifat objek trans-Neptunus, dan banyak lagi,â tulis para penulis dikutip dari Science Alert.
âBerdasarkan model Tata Surya yang disederhanakan, ⦠baru-baru ini telah disarankan bahwa bintang-bintang yang lewat juga merupakan pendorong penting paleoklimat sebelum 50 juta tahun lalu, termasuk peristiwa iklim yang disebut Paleocene-Eocene Thermal Maximum (PETM) (56 juta tahun lalu).â
PETM menyaksikan kenaikan suhu global sebesar 5â8 derajat Celcius (9â14 derajat Fahrenheit) dan masuknya karbon dalam jumlah besar ke atmosfer dan lautan. Butuh waktu 10.000 atau 20.000 tahun bagi suhu untuk naik dan berlangsung selama sekitar 100.000 atau 200.000 tahun.
Dampaknya terhadap biosfer sangat besar. Banyak organisme laut punah, wilayah tropis dan subtropis meluas ke arah kutub, dan primata serta mamalia lainnya muncul. Penyebabnya masih diperdebatkan, dan ada beberapa hipotesis. Hipotesis tersebut meliputi letusan gunung berapi, dampak komet, pelepasan klatrat metana, dan gaya orbital.
Peneliti berpendapat bahwa planet-planet raksasa memainkan peran penting selama lintasan bintang. Ketika bintang yang bergerak melintas, medan gravitasi planet-planet raksasa dapat memperkuat dampak lintasan tersebut dan kemudian mengubah orbit planet-planet yang lebih kecil.
Untuk mengetahui apakah lintasan bintang dapat menyebabkan PETM dan perubahan iklim lainnya, para peneliti menggunakan model terkini Tata Surya dan parameter bintang acak dalam 400 simulasi. Jumlah total lintasan bintang adalah 1.800.
Peneliti lain yang meneliti masalah yang sama menemukan bahwa lintasan bintang dapat mengubah paleoklimat Bumi. Dalam makalah yang diterbitkan tahun lalu, ilmuwan Nathan Kaib dan Sean Raymond berkata sebagai berikut.
âDi sini kami menyajikan simulasi yang mencakup populasi bintang terdekat Matahari, dan kami menemukan bahwa bintang medan yang melintas dekat mengubah seluruh evolusi orbit sistem planet kita melalui gangguan gravitasinya pada planet-planet raksasa.â
Namun, Zeebe dan Hernandez mencapai kesimpulan yang berbeda. âBerbeda dengan Kaib dan Raymond, kami tidak menemukan pengaruh bintang yang lewat pada rekonstruksi paleoklimat selama 56 juta tahun terakhir,â tulis mereka.
Salah satu alasan untuk hasil yang berbeda adalah kelengkapan model yang digunakan untuk memahami lintasan tersebut. Beberapa model Tata Surya, misalnya, tidak menyertakan Bulan.
Mungkinkah penerbangan lintas ini memicu perubahan dramatis dalam iklim Bumi? Ada banyak ketidakpastian, dan pemahaman tentang masa lalu dan masa depan lintasan bintang dan bagaimana lintasan tersebut dapat mempengaruhi iklim Bumi bergantung pada seberapa rinci model ilmiah kita. hay
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.