- Home
-
- Luar Negeri
-
- AS Hantam Fasilitas Nuklir...
AS Hantam Fasilitas Nuklir Iran, Korban Rusia di Ukraina Tembus Satu Juta Jiwa
Minggu, 22 Jun 2025, 16:47 WIBJakarta â Ketegangan geopolitik global meningkat tajam setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran. Serangan ini diklaim menghancurkan tiga lokasi strategis, termasuk situs utama Fordow, dan memicu respons internasional yang beragam.
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan melalui media sosial bahwa "muatan penuh bom dijatuhkan di situs utama, Fordow. Semua pesawat dengan selamat kembali ke pangkalan." Serangan ini dilaporkan terjadi menyusul balasan rudal Iran terhadap Israel.
Analis menilai bahwa lingkaran dalam pemerintahan Trump kini mendukung serangan terbatas dan bersifat satu kali terhadap aset nuklir Iran. Dukungan terhadap langkah AS juga datang dari pemimpin oposisi Inggris, Keir Starmer, yang menyerukan Teheran untuk kembali ke meja perundingan. Namun di dalam negeri AS, langkah ini menuai pro dan kontra di kalangan parlemen.
Iran sendiri memiliki opsi terbatas untuk membalas, mulai dari peran milisi proksi hingga potensi serangan terhadap pangkalan militer AS. Di pihak lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut telah lama menempatkan Iran sebagai ancaman utama. Banyak warga Israel dilaporkan mendukung operasi militer terhadap Iran.
Ketegangan makin meningkat setelah AS memindahkan pesawat pembom strategis B-2 ke Guam, sebuah langkah yang dinilai sebagai persiapan bila konfrontasi bereskalasi. Sementara itu, laporan menyebutkan bahwa koalisi politik di sekitar Trump mulai mengalami tekanan akibat dinamika perang ini.
Di medan konflik lain, laporan dari Ukraina mengungkap jumlah korban jiwa di pihak Rusia telah mencapai satu juta sejak invasi dilancarkan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa Rusia baru-baru ini memulangkan 20 jenazah tentaranya dalam pertukaran tahanan. Meski jumlah korban terus bertambah, propaganda dan tunjangan negara dinilai berhasil meredam gejolak di dalam negeri Rusia.
Selain itu, deportasi warga Ukraina oleh Rusia juga dilaporkan masih berlangsung, yang dinilai sebagai bagian dari upaya "pembersihan" wilayah.
Dalam perkembangan lainnya, pemimpin oposisi Belarus, Syarhei Tsikhanouski, akhirnya dibebaskan setelah hampir lima tahun ditahan. Di bidang keamanan digital, otoritas global mengimbau masyarakat untuk segera mengganti kata sandi menyusul terkuaknya 16 miliar data login dalam serangan siber berskala besar.
Redaktur: Eko S
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Presiden Tegaskan MBG Bisa Jadi Penopang Ekonomi Masyarakat Bawah
-
Sedikitnya 254 Tewas setelah Israel Kembali Menyerang Lebanon
-
Temani Momen Buka Puasa, Joyday Luncurkan Varian Es Krim Baru di Ramadan 2026
-
KKP Mulai Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu NTT, Siapkan Investasi Rp7,2 Triliun
-
Teheran Incar Gempur Pusat Data di Negara Arab
-
573 Rumah di Kota Serang Terendam Banjir, Dua Bangunan Roboh
-
Proses Pembuatan Lemang Bambu
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.