Deflasi Mei 2025: Stabilitas Harga atau Alarm Ekonomi?
Senin, 02 Jun 2025, 13:23 WIBJAKARTA â Deflasi, penurunan harga secara umum dalam perekonomian, memiliki dampak negatif yang signifikan, termasuk penurunan pendapatan perusahaan, peningkatan beban utang, dan potensi resesi.
Deflasi juga dapat menyebabkan penundaan konsumsi dan investasi, karena konsumen menunggu harga barang dan jasa turun lebih jauh lagi. Selain itu, deflasi dapat menyebabkan penurunan daya beli konsumen dan penurunan pertumbuhan ekonomi.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi faktor penyebab deflasi sebesar 0,37 persen secara bulanan (month-to-month/ mtm) pada Mei 2025.
Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/6), menjelaskan kelompok tersebut mencatatkan deflasi sebesar 1,40 persen (mtm) dengan andil terhadap deflasi umum sebesar 0,41 persen.
Komoditas utama yang berkontribusi terhadap deflasi Mei di antaranya cabai merah dan cabai rawit (masing-masing andil 0,12 persen), bawang merah (0,09 persen), ikan segar (0,05 persen), bawang putih (0,04 persen), daging ayam ras, kentang, dan wortel (masing-masing 0,01 persen).
Sejalan dengan itu, komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami deflasi sebesar 2,48 persen (mtm) dengan andil 0,41 persen.
Data deflasi oleh BPS selaras dengan proyeksi Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede bahwa normalisasi harga pangan pasca Idul Fitri akan memicu deflasi bulanan pada Mei, utamanya dari komoditas seperti cabai merah dan cabai rawit.
Sementara komoditas pangan utama seperti beras dan produk unggas diperkirakan masih mencatatkan inflasi, namun dalam skala moderat. Analisis ini pun sejalan dengan data BPS, di mana beras, ketimun, dan kopi bubuk masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,01 persen (mtm).
Menurut Pudji, deflasi pada Mei 2025 sejalan dengan dengan tren data historis sejak 2021. Pada Mei 2021 hingga 2023, perekonomian mencetak inflasi lantaran bulan ini bertepatan dengan momen Lebaran dan pasca Lebaran. Sedangkan pada Mei 2024 dan 2025 mengalami deflasi seiring dengan penyesuaian harga.
Komponen harga diatur pemerintah (administered price) juga mencatatkan deflasi, namun pada level moderat 0,02 persen dan andil terhadap deflasi umum sebesar 0,01 persen. Komoditas penyumbang deflasi yaitu tarif angkutan antar kota dan bensin masing-masing andil sebesar 0,01 persen.
Di sisi lain, komponen inflasi inti (core inflation) mengalami inflasi sebesar 0,08 persen (mtm) dengan andil inflasi 0,05 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen ini di antaranya tarif pulsa ponsel, emas perhiasan, dan kopi bubuk.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Evakuasi Selesai: Wanita yang Hilang dari KMP Wira Artha Ditemukan
-
Tradisi ritual Kahiyaa Suku Buton
-
Panglima TNI Dampingi Presiden RI Pada Akad Massal 26.000 KPR FLPP
-
Paripurna DPR Setujui 10 RUU Kabupaten/Kota Jadi Usul DPR
-
MUI Keluarkan Fatwa Program JKK dan JKM dari BPJS Ketenagakerjaan Sesuai Prinsip Syariah
-
Beras sumbang deflasi di 23 provinsi
-
Cabai rawit picu deflasi Jawa Timur
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.