Permintaan Minyak Meningkat, Namun Armada Terbatas. Begini Langkah PTK
Rabu, 28 Mei 2025, 16:42 WIBJAKARTA-Pertumbuhan armada nasional tidak sebanding dengan permintaan minyak dari dalam negeri. Pertamina Trans Kontinental (PTK) terus melakukan berbagai upaya mengatasi masalah ini.
Dirut Pertamina Trans Kontinental (PTK), I Ketut Laba optimistis permintaan minyak dari dalam negeri akan terus meningkat mengingat pertumbuhan Ekonomi Indonesia sekitar 5%. Lalu, pertumbuhan permintaan minyak domestik sekitar 4,5%, volume pengangkutan minyak melalui laut tumbuh sekitar 5% setiap tahunnya.
Kendati semuanya tumbuh di sisi lain pertumbuhan armada Asia sekitar 2,5%. "Saya yakin pertumbuhan Armada Bendera Indonesia kurang dari 2,5%. Kecepatan pertumbuhan armada berada di bawah pertumbuhan permintaan minyak dan pertumbuhan volume kargo yang diangkut melalui laut,"ucapnya dalam acara International Maritime Week 2025 bertajuk Market Outlook for Shipping di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Rabu (28/5).
Dalam jangka panjang terang Ketut, Indonesia akan menghadapi dua tantangan, yaitu ketersediaan armada dan keandalan armada. Tantangan ketersediaan disebabkan oleh penuaan armada. Kedua adalah kecepatan peningkatan permintaan lebih lambat daripada perluasan armada, akan ada potensi kekurangan armada muda yang andal di masa mendatang.
Pertamina ujarnya, mengembangkan strategi untuk memperluas armada dan mengurangi usia rata-rata armada kapal tanker minyak dan kimia, dengan target pada tahun 2028 usia rata-rata armada kapal tanker minyak dan kimia adalah di bawah 25 tahun. "Strategi ekspansi ini tidak hanya untuk memenuhi permintaan domestik yang terus meningkat, tetapi juga untuk menangkap peluang bisnis internasional dengan menyediakan armada yang andal dan mematuhi ketentuan yang berlaku,"ungkap I Ketut
Untuk mendukung dan mencapai aspirasi pemerintah dan visi Pertamina dalam membangun ketahanan energi ucapnya, kita harus meningkatkan integritas dan keandalan armada melalui pemeliharaan yang lebih baik dan berkelanjutan, standar operasional, dan penerapan teknologi terkini atau peningkatan teknologi dan kesiapan ESG.
PTK juga mendorong pemilik kapal Indonesia untuk mempertimbangkan pembaruan armada secara bertahap. Secara bertahap mengganti kapal lama dengan kapal baru melalui perluasan dan modernisasi armada.Â
Selain itu, PTK membutuhkan dukungan dari lembaga dan industri terkait lainnya untuk membangun ekosistem industri pelayaran seperti galangan kapal, galangan perbaikan, adopsi teknologi, dan kemampuan sumber daya manusia (SDM),"ungkapnya
Karena visi Pertamina adalah menjadi perusahaan energi yang mengutamakan ketahanan, ketersediaan, dan keberlanjutan energi, kami memiliki beberapa tantangan, yaitu armada yang menua dan potensi kekurangan armada dalam jangka panjang.
Untuk menjaga daya saing armada milik Pertamina, PTK mengutamakan beberapa key enabler guna meningkatkan efisiensi armada di tengah dinamika pasar global, seperti Optimalisasi Operasional dan Digitalisasi. "Ini berupa penerapan teknologi digital untuk optimalisasi pelayaran dan efisiensi operasional, manajemen perawatan, penerapan teknologi hemat energi termasuk pembersihan lambung kapal, speed nozzle dan duct, kemudi dan propeller yang canggih, pemasangan panel surya, hybrid dan shore connection untuk kapal kecil dan kapal pendukung,"papar Ketut
Terkait bahan bakar ramah lingkungan, keberlanjutan dan kesiapan ESG, Pertamina menjajaki penggunaan bahan bakar alternatif seperti biofuel, metanol, hidrogen, dan amonia untuk mengurangi emisi dan mendukung target dekarbonisasi industri pelayaran.
Menyangkut kemitraan Strategis, Pertamina telah menjalin kemitraan dengan perusahaan pelayaran global, pemilik kapal, pengelola kapal, dan pengelola awak kapal. Lalu menyangkut pengembangan SDM dan tenaga kerja itu melalui pelatihan dan pengembangan kompetensi merupakan salah satu pilar dalam strategi efisiensi dan pertumbuhan perusahaan.
Ekosistem industri pelayaran yang menyediakan sistem pendukung guna mengurangi waktu tunggu di pelabuhan, waktu perbaikan, dan biaya.
Dengan memanfaatkan posisi geografis Indonesia, kita melihat bahwa pelayaran Indonesia harus memainkan peran vital dalam industri maritim dunia. Indonesia akan menjadi Pusat Maritim Terpadu, rumah bagi perusahaan pelayaran terkemuka yang kapalnya diterima dan berlayar di seluruh dunia dan pelabuhan berstandar internasional yang menghubungkan negara dengan dunia, didukung sepenuhnya dengan ekosistem terpadu.
Karena itu, tindakan penting yang harus diambil ialah mengembangkan cetak biru dan peta jalan, menetapkan target yang jelas, mendefinisikan peran dan tanggung jawab yang jelas untuk semua pihak (regulator, asosiasi dan badan milik negara dan swasta).
Langkah penting lainnya yakni membangun kemampuan domestik dalam pelayaran, pembuatan kapal, perbaikan kapal dan sistem pendukung terintegrasi dengan menyediakan sumber daya manusia (SDM) dan teknologi.
Kemudian, meningkatkan integritas kapal dan fasilitas pelabuhan, keberlanjutan dengan sistem operasi digital serta bekerja sama dengan pelaku industri global terkait untuk pengembangan ekosistem kompetitif yang berkelanjutan, melalui kemitraan dan kolaborasi strategis.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa: Masyarakat Tak Perlu Khawatir Harga BBM, Anggaran Subsidi Aman
-
Selamat Tinggal BBM! BBG Digadang Jadi Energi Masa Depan, PGN Jamin Performa Nggak Kaleng-Kaleng
-
ASN WFH: DPR Minta Pemerintah Hitung Potensi Penghematan BBM
-
Pemerintah Jamin Cadangan Solar Aman di tengah Ketegangan Global
-
Jepang Akhirnya Ketuk Palu: Cadangan Minyak Strategis Dilepas ke Pasar
-
IHSG Diprediksi Melemah Dipicu Sentimen Lonjakan Harga Minyak Dunia
-
Dubes Sergei Tolchenov Sampaikan Moskow Terbuka Jika Pertamina Mau Beli Minyak dari Russia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.