Sungguh Disayangkan, Pemerintah Tunda Penghapusan Batu Bara dalam Pasokan Listrik Baru Tahun 2034

Selasa, 27 Mei 2025, 16:21 WIB

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral  (ESDM) pada Selasa (26/5), mengatakan, pemerintah berencana menambah kapasitas listrik sebesar 69,5 gigawatt (GW) pada akhir tahun 2034, sebagian besar berasal dari sumber terbarukan, namun masih berharap menambah pembangkit listrik berbahan bakar batubara baru.

Dikutip dari The Straits Times, penambahan tersebut akan membutuhkan investasi lebih dari 2.967 triliun rupiah dalam rencana pasokan listrik baru untuk tahun 2025 hingga 2034, yang lebih ambisius daripada rencana sebelumnya untuk menambah sekitar 40GW dari tahun 2021 hingga 2030.

Ket. Foto: Pemerintah sebelumnya mengatakan, rencana tersebut akan menjadi yang paling ramah lingkungan, membantu mencapai target nol emisi gas rumah kaca pada tahun 2060 namun kini menarik kembali komitmen untuk menghentikan aset batubara. — Sumber: Istimewa

Meskipun pemerintah sebelumnya mengatakan bahwa rencana baru tersebut akan menjadi yang paling ramah lingkungan, membantu mencapai target nol emisi gas rumah kaca pada tahun 2060, pemerintah menarik kembali komitmen untuk menghentikan aset batubara.

“Batubara tidak boleh dianggap sebagai komoditas terlarang,” kata Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers.

“Tidak apa-apa untuk digunakan jika kita membutuhkannya.”

Beberapa pembangkit listrik tenaga batu bara baru diperkirakan masih akan beroperasi secara komersial paling lambat pada tahun 2033.

Pada tahun 2021, ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu berjanji untuk menutup pembangkit listrik tenaga batu bara secara bertahap, dan berjanji hanya akan menyelesaikan proyek-proyek yang sudah berjalan.

Saat itu, itu berarti pembangkit listrik tenaga batu bara terakhirnya akan beroperasi pada tahun 2027, sedangkan pembangkit listrik terakhir akan ditutup pada tahun 2056.

"Kalau ada donatur yang memberi dana, bunga rendah, saya akan izinkan untuk pensiun," kata Bahlil menanggapi pertanyaan mengenai rencana pensiun dini PLTU batubara sebelumnya.

Batubara merupakan sumber daya listrik beban dasar yang dapat diandalkan, kata Bapak Bahlil, seraya menambahkan bahwa teknologi penangkapan karbon harus digunakan untuk mengurangi emisi.

Rencana baru tersebut memperhitungkan prediksi pemerintah mengenai permintaan energi yang mengasumsikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai target Presiden Prabowo Subianto sebesar 8 persen pada tahun 2029, dibandingkan sekitar 5 persen saat ini.

PLTN pertama

Rencananya, Perusahaan Listrik Negara akan berinvestasi 568 triliun rupiah di pembangkit listrik baru, sementara pemerintah akan menawarkan peluang lebih dari 1.566 triliun rupiah kepada investor.

Rencana tersebut menyerukan pembangkit listrik berkapasitas 42,6 GW dengan sumber terbarukan seperti 17,1 GW dari tenaga surya, 11,7 GW dari tenaga air, dan 7,2 GW dari tenaga angin, serta 5,2 GW dari tenaga panas bumi. Rencana tersebut juga mencakup penyimpanan energi sebesar 10,3 GW.

Pemerintah memperkenalkan rencana pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sebesar 0,5GW yang akan dibangun di wilayah Sumatera dan Kalimantan, dengan pembangkit pertama akan mulai beroperasi pada tahun 2032.

Direncanakan pembangkit listrik berbahan bakar gas dengan total kapasitas 10,3 GW, dan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara sebesar 6,3 GW.

Indonesia juga akan menambah jaringan transmisi sepanjang 47.758 km untuk memasok listrik terbarukan ke wilayah-wilayah dengan permintaan energi tinggi. SB/

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.