Tigst Assefa Pecahkan Rekor Dunia di London Marathon, Sabastian Sawe Menang di Kategori Putra

Senin, 28 Apr 2025, 07:50 WIB

LONDON, INGGRIS – Tigst Assefa dari Ethiopia mencetak rekor dunia baru kategoriwanita dengan catatan waktu 2 jam 15 menit 50 detik saat menjuarai London Marathon 2025, Minggu (27/4) waktu setempat. Sementara itu, Sabastian Sawe dari Kenya tampil dominan dan menaklukkan deretan pelari elit di sektor putra.

Bagi Assefa (28 tahun), kemenangan ini menjadi penebusan manis setelah tahun lalu hanya finis sebagai runner-up di London dan Olimpiade Paris — terlebih dengan keberhasilannya mengungguli rival beratnya, Sifan Hassan, yang finis ketiga.

Ket. Foto: Tigst Assefa dari Ethiopia mengangkat tangan usai melintasi garis finis dengan catatan waktu 2 jam 15 menit 50 detik dan menjuarai London Marathon 2025, Minggu (27/4) waktu setempat. — Sumber: AFP

Assefa mulai meninggalkan Joyciline Jepkosgei asal Kenya di saat perlombaan memasuki fase penentuan, dalam cuaca cerah yang disaksikan ribuan penonton sepanjang rute.

Assefa akhirnya menyentuh garis finis hampir tiga menit lebih cepat dibandingkan Jepkosgei. Sementara Hassan, yang sempat mengalahkannya di final kontroversial Olimpiade tahun lalu, kali ini tertinggal cukup jauh.

“Saya hanya bisa bersyukur. Tahun lalu saya kedua, dan sekarang bisa menang di London sangatlah spesial,” ujar Assefa kepada BBC melalui penerjemah. “Tahun lalu saya kesulitan dengan cuaca dingin dan cedera hamstring. Tahun ini cuaca lebih bersahabat dan saya merasa jauh lebih nyaman.”

Di kategori putra, Sabastian Sawe membuat pergerakan kunci di area minum saat lomba memasuki menit ke-90 dan tak terkejar hingga finis, mencatatkan waktu 2 jam 2 menit 27 detik. Ini menjadi kemenangan keempat berturut-turut bagi Kenya di sektor putra London Marathon.

Sawe (29 tahun), yang juga juara Valencia Marathon 2024, mengungguli Jacob Kiplimo dari Uganda, pemegang rekor dunia half marathon.

Juara bertahan Alexander Mutiso Munyao meraih tempat ketiga lewat foto finis, mengalahkan Abdi Nageeye. Legenda Eliud Kipchoge, juara empat kali London Marathon, harus puas finis keenam.

Debutan asal Inggris, Alex Yee, yang merupakan juara triathlon Olimpiade, mencatat hasil membanggakan dengan finis di urutan ke-14.

“Saya sangat senang bisa memenangkan major marathon pertama saya,” ujar Sawe. “Saya merasa sangat siap, itu sebabnya saya tenang dan percaya diri. Ini memberi saya harapan untuk sukses lebih besar di masa depan.”

Di kategori kursi roda, Marcel Hug dan Catherine Debrunner dari Swiss tampil dominan. Hug (39 tahun) meraih gelar London Marathon ketujuhnya, sekaligus kemenangan kelima beruntun. Debrunner (30 tahun) mempertahankan gelar dan mencatatkan kemenangan ketiga sepanjang kariernya di London.

London Marathon bukan hanya tentang elit dunia. Sebagai ajang lari terbesar dalam penggalangan dana, event ini telah mengumpulkan lebih dari 1,3 miliar pound (sekitar 8 triliun rupiah) untuk berbagai amal sejak 1981.

Ayah dari Alice da Silva (9) dan Elsie Dot Stancombe (7) — dua dari tiga gadis kecil yang menjadi korban pembunuhan di Southport tahun lalu — ikut berlari untuk mengenang putri mereka. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer bahkan mengirimkan pesan dukungan kepada mereka.

“Elsie adalah sahabatku. Dia sempurna. Ini seperti terapi, lebih dari sekadar lomba,” ujar David Stancombe.

Sementara itu, Sergio Aguiar, ayah Alice, menambahkan, "Saya ingin melakukan sesuatu untuk mengenangnya."

Isla, putri dari tiga kali juara London Marathon Paula Radcliffe, juga debut di event ini, berlari untuk Children with Cancer UK setelah melawan kanker sejak usia 13 tahun.

Tahun ini, penyelenggara menargetkan rekor jumlah peserta dengan lebih dari 56.000 pelari — mulai dari atlet elit hingga peserta berkostum unik seperti Sarah Louise Haddock yang mengenakan kostum ikan.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.