Mengenal Kartini Lebih Dekat di Museum RA Kartini Rembang

Rabu, 16 Apr 2025, 15:00 WIB

REMBANG – Menjelang peringatan Hari Kartini, Museum RA Kartini di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, ramai dikunjungi masyarakat maupun pelajar dari berbagai daerah.

Suasana di museum ini berbeda dari hari-hari biasanya. Terlihat antrean anak-anak sekolah berjajar rapi, ditemani guru dan orang tua mereka, memasuki gedung yang menyimpan jejak perjuangan tokoh emansipasi perempuan Indonesia, Raden Ayu Kartini.

Ket. Foto: Sejumlah anak-anak sekolah dasar mengunjungi museum RA Kartini di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. — Sumber: koran jakarta/henri pelupessy

Bukan sekadar liburan, bagi mereka kunjungan ini adalah pelajaran sejarah yang hidup.

Setiap tahun, tanggal 21 April menjadi momentum penting untuk mengenang sosok Kartini. Namun di museum ini, semangat Kartini seakan-akan hadir setiap hari, terutama menjelang peringatan kelahirannya yang ke-146 pada tahun ini.

Sejak hari kedua Lebaran, lonjakan pengunjung sudah terlihat. Tak hanya warga lokal, tapi juga pemudik dan wisatawan dari luar kota ikut memadati museum yang terletak di pusat kota Rembang ini.

Tahun ini, pengunjung mendapat pengalaman yang lebih nyaman dan menyenangkan. Museum menambahkan empat unit pendingin ruangan berkapasitas 3 PK agar ruangan lebih sejuk. Ini menjawab keluhan pengunjung yang sering merasa kepanasan saat berkeliling ruangan.

“Biasanya ibu-ibu kepanasan dalam 15 menit, sekarang satu jam pun mereka betah. Pencahayaannya juga jadi lebih fokus, suasana ruangan lebih hidup,” ujar Subkoordinator Sejarah, Museum, dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang, Retna Diah Radityawati di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Selasa (15/4) kemarin.

Tak hanya itu, sebuah film animasi terbaru berjudul Trinil kini turut ditayangkan. Film ini menjadi pelengkap dari animasi tentang RA Kartini yang sudah lebih dulu ada.

Harapannya, pengalaman visual seperti ini mampu menarik minat generasi muda yang lebih terbiasa dengan teknologi dan cerita bergambar.

Museum ini tak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, tapi juga ruang belajar yang menyenangkan.

Mulai dari PAUD hingga SMA, siswa datang dalam rombongan untuk menyaksikan langsung peninggalan Kartini—dari tempat tidur, pakaian, hingga surat-surat yang menjadi simbol perjuangannya.

Salah satu orang tua siswa, Inka (35), yang mendampingi anaknya, mengaku antusias. “Menurut saya, penting sekali anak-anak tahu sejarah sejak dini. Di sini mereka bisa melihat langsung, tidak hanya dengar dari buku atau cerita guru. Apalagi ada film animasi, anak-anak jadi lebih paham,” tuturnya.

Raden Ayu Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, dari keluarga bangsawan Jawa. Ia adalah anak dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M.A. Ngasirah.

Sebagai perempuan Jawa, Kartini sempat merasakan pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS), namun kemudian harus dipingit sesuai adat.

Dalam masa pingitannya, Kartini tetap belajar secara mandiri dan menulis surat kepada sahabat-sahabat penanya di Belanda, mengungkapkan keprihatinannya terhadap nasib perempuan pribumi.

Surat-surat inilah yang kemudian diterbitkan dalam buku Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang), yang menjadi simbol perjuangannya.

Kartini wafat di usia muda, 25 tahun, pada 17 September 1904 setelah melahirkan anak pertamanya. Kartini bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Ia adalah pelopor kebangkitan perempuan Indonesia.

Ia menunjukkan bahwa keterbatasan tak menghalangi semangat untuk memperjuangkan keadilan dan pendidikan.

Melalui pemikirannya, ia menginspirasi bangsa untuk memajukan kaum perempuan, bukan hanya sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga sebagai pendidik, pemimpin, dan pelaku perubahan sosial.

Wisata Edukatif

Kunjungan ke Museum Kartini kini menjadi alternatif wisata edukatif bagi keluarga. Banyak orang tua memanfaatkan momen libur Lebaran dan Hari Kartini untuk mengajak anak-anak mengenal sejarah secara langsung.

“Kami ingin anak kami mengenal Kartini sebagai tokoh nyata, bukan sekadar gambar di buku. Melihat tempat tidurnya, pakaian aslinya, bahkan menonton kisahnya lewat film, itu sangat berkesan,” ujar seorang pengunjung asal Kudus.

Retna menegaskan, pihak museum terus berupaya melakukan inovasi agar museum tetap relevan dengan perkembangan zaman. “Kami ingin Museum Kartini tidak hanya dikenang saat Hari Kartini, tapi bisa menjadi tempat belajar sepanjang tahun. Kartini itu inspirasi lintas zaman, dan semangatnya harus terus kita nyalakan, khususnya untuk generasi muda,” katanya.

Museum RA Kartini kini bukan hanya tempat mengenang masa lalu, tapi juga jendela untuk melihat masa depan—dengan semangat perempuan hebat yang percaya bahwa pendidikan dan keberanian bisa mengubah dunia.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Henri pelupessy

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.