- Home
-
- Luar Negeri
-
- Apple dan Perang Dagang Tr...
Apple dan Perang Dagang Trump: iPhone di Tengah Pusaran Tarif dan Geopolitik
Minggu, 13 Apr 2025, 15:55 WIBDi tengah memanasnya kembali perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, Apple kembali terjebak dalam posisi sulit. Meskipun sempat ada jeda pada sejumlah tarif, kebijakan baru yang digagas Donald Trump dengan menaikkan tarif impor terhadap Tiongkok hingga 145%, telah mengancam rantai pasokan global Appleâkhususnya untuk iPhone yang sebagian besar masih diproduksi di Tiongkok.
Meski India kini menjadi lokasi alternatif produksi iPhone, para analis sepakat bahwa dalam jangka pendek tidak ada solusi instan untuk menghindari dampak tarif tersebut. Bahkan jika Trump memberikan pengecualian tarif seperti sebelumnya, Apple tetap bisa terpaksa menaikkan harga iPhone secara global, bukan hanya di pasar AS. Hal ini disampaikan oleh analis Bank of America, Wamsi Mohan, yang menyebut bahwa Apple kemungkinan akan menyesuaikan harga di semua wilayah guna menghindari arbitrase.
Apple telah berkomitmen untuk investasi sebesar $500 miliar di AS dalam empat tahun ke depan, termasuk membangun pusat data untuk AI, fasilitas produksi Apple TV, dan menciptakan sekitar 20.000 pekerjaan baru dalam riset dan pengembangan. Namun, komitmen ini tidak termasuk produksi iPhone, meskipun pemerintah ASâmelalui Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavittâmengklaim investasi ini sebagai bukti bahwa Apple serius memindahkan sebagian besar operasinya ke AS.
Padahal, membangun fasilitas manufaktur iPhone di AS memerlukan waktu bertahun-tahun, dan tantangan logistik serta kekurangan tenaga kerja terampil menjadi hambatan utama. Matthew Moore, mantan insinyur Apple, menegaskan bahwa hanya kota besar seperti Boston yang sepenuhnya beralih ke manufaktur iPhone yang bisa menyaingi kapasitas di Tiongkokâsebuah skenario yang jelas tidak realistis.
Meski begitu, Tim Cook, CEO Apple yang dikenal sebagai "arsitek rantai pasokan global", dinilai sebagai figur paling tepat untuk mengarungi badai ini. Cook telah terbukti mampu melakukan manuver penting selama masa jabatan Trump sebelumnya, termasuk mengamankan pengecualian tarif dan merancang ulang rantai pasok global Apple.
Meskipun wacana iPhone "Made in USA" kembali muncul, lebih dari 80% produksi iPhone dan komponen utamanya masih berada di Tiongkok. Bahkan jika Apple memindahkan sebagian produksi ke AS, perusahaan tetap harus membayar tarif atas komponen yang diimpor dari Asia. Analis memperkirakan, jika iPhone benar-benar dirakit di AS, harga jualnya bisa naik 25â100%, mencapai $1.500 hingga $3.500 per unit.
Apple sendiri telah menghabiskan lebih dari satu dekade membangun fasilitas di India, yang kini memproduksi model iPhone Pro dan Pro Max. Analis memperkirakan Apple akan lebih memilih memperluas ekspor dari India dibanding memindahkan produksi besar-besaran ke AS, setidaknya dalam jangka menengah.
Saat ini, sekitar 35 juta iPhone per tahun diproduksi di India, yang diharapkan dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan pasar AS. Namun, untuk memenuhi permintaan global yang mencapai lebih dari 220 juta unit iPhone per tahun, ketergantungan pada Tiongkok masih tak tergantikan, terutama karena jumlah tenaga kerja dan keahlian manufaktur yang besar di negara tersebut.
Jika kebijakan Trump tetap keras dan tidak ada solusi diplomatik yang tercapai, Apple akan terus menghadapi tekanan biaya dan tantangan logistik yang dapat mengganggu dominasinya di pasar smartphone global. Namun, para analis yakin bahwa Tim Cook akan memainkan peran penting sebagai "perantara" dalam konflik ini, seperti yang ia lakukan di masa lalu.
Seiring berjalannya waktu dan negosiasi antara AS dan Tiongkok berlanjut, masa depan Appleâdan harga iPhoneâakan sangat bergantung pada bagaimana keseimbangan politik dan strategi rantai pasokan global ini dimainkan. Untuk saat ini, iPhone buatan AS tetap menjadi impian mahal dan penuh tantangan, bukan kenyataan dalam waktu dekat.
- Donald Trump
- iPhone
- Kebijakan Tarif Timbal Balik AS
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Trump Ancam Naikkan Tarif Jika Inggris Tak Hapus Pajak Layanan Digital
-
Trump dan Xi Jinping Gelar Pertemuan di Beijing
-
Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka Tanpa Pungutan
-
Trump Ingin Tiongkok Belanja Lebih Banyak Energi dari AS
-
Trump akan Tampil di Paspor Edisi Terbatas Ulang Tahun AS ke-250
-
Trump Minta Juru Runding AS Tidak Terburu-buru Capai Kesepakatan dengan Iran
-
Trump akan Bicara dengan Pemimpin Taiwan Pasca Kunjungan ke Beijing
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.