Tantangan Pembangunan Makin Kompleks, Pengelolaan Anggaran Harus Lebih Transparan Lagi

Sabtu, 01 Mar 2025, 00:00 WIB

JAKARTA - Tata kelola anggaran yang mumpuni bisa mencegah kebocoran uang negara, mengingat pengelolaannya selama ini kurang transparan dan belum berdampak luas. Karenanya, pengelolaan keuangan negara harus transparan dan akuntabel serta memberi manfaat kepada masyarakat.

Manajer Riset Seknas Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Badiul Hadi mengatakan transparansi dan akuntabel ini sangat penting karena tantangan penyelenggaraan pembangunan semakin kompleks, termasuk terkait anggaran yang sering kali dikorupsi. "Sehingga serupiah uang negara harus dipertanggungjawabkan dan dikelola secara transparan," tegas Badiul di Jakarta, Jumat (28/2).

Ket. Foto: Manajer Riset Seknas Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Badiul Hadi mengatakan transparansi dan akuntabel ini sangat penting karena tantangan penyelenggaraan pembangunan semakin kompleks — Sumber: istimewa

Badiul merespons pernyataan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Muhammad Yusuf Ateh terkait pengelolaan anggaran. Menurut Badiul, diperlukan pengawasan dari publik, baik masyarakat maupun media agar lebih tepat sasaran.

Uang rakyat yang dikelola dan dibelanjakan pemerintah harus berdampak luas pada masyarakat. Jika pengelolaan anggaran tak berdampak, berarti ada yang salah dalam proses perencanaan dan realisasinya.

"Karenanya diperlukan perencanaan berbasis kinerja, dimana setiap belanja negara harus rencanakandengan ukuran keberhasilan yang jelas, tidak hanya sebatas serapan anggaran," ucapnya.

Menurut Badiul, diperlukan pengawasan secara ketat, baik dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), BPKP, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Penguatan tersebut dimaksudkan agar lebih efektif dalam mendeteksi dan mencegah kebocoran keuangan negara.

Selain itu, pemerintah harus memperbaiki proses perencanaan berbasis data dan kebutuhan masyarakat, sehingga ketidakefektifan belanja bisa dicegah.

Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB Suhartoko mengatakan perencanaan pembangunan selalu bermuara kepada outcome atau hasil sebagai indikator keberhasilannya. Penetapan outcome tentu berkaitan dengan kebutuhan pembangunan yang ingin dicapai, misalnya pengurangan pengangguran, peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Untuk mencapai hal itu, tentu saja dikaitkan dengan sasaran antara ketersediaan fasilitas jalan dan transportasi lain, fasilitas pendidikan, kesehatan, komunikasi.

Dalam kaitannya dengan perencanaan pembangunan seringkali ada tahapan pencapaiannya. Untuk itu, suatu tingkat capaian harus terukur.

Selain berkaitan dengan ketersediaan anggaran juga berkaitan dengan monitoring dan evaluasi pencapaian perencanaan. Monitoring mencakup hasil fisik, koordinasi kerja pusat daerah, penggunaan anggaran.

"Monitoring dan evaluasi ini jika dilakukan dengan serius maka akan meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran," tandasnya.

Cegah Kebocoran

Sebelumnya, Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Muhammad Yusuf Ateh mengatakan tata kelola yang mumpuni dapat mencegah kebocoran keuangan negara. Menurutnya, tantangan penyelenggaraan pembangunan nasional tidaklah mudah.

"Untuk itu, diperlukan tata kelola yang mumpuni dalam pencegahan kebocoran keuangan negara,” katanya dalam Pertemuan Koordinasi Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Kamis (27/2).

Dia menyampaikan, belanja pemerintah yang terserap tak selalu diikuti dampak nyata. Hal ini mencerminkan kualitas belanja yang rendah. Menurut Ateh, kegagalan perencanaan menjadi pemicu utama belanja pemerintah tak efektif.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

Manggala Agni Sumatra Berjibaku Padamkan Karhutla di 17 Desa

Polda Banten Ungkap Sindikat Curanmor Spesialis Pick-up di 14 Lokasi

Tetap Tunjukkan Dedikasi dan Keberanian, Perwira polisi Terluka Kena Pecahan Kaca saat Gerebek Gudang Uang Palsu di Tangsel

93.782 Ton Beras Siaga! BULOG Antisipasi Bencana NTT Hingga 10x Masa Darurat

Gubernur Bali Minta Peradi Siapkan Pendampingan Hukum Perkuat Desa Adat

Wagub Rano Buka Jakarta Beat Society 2026: Komitmen Perluas Ruang Kreatif Musisi Lokal

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.