Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pembantu Presiden Harus Jujur dan Lengkap Sampaikan Data Pangan

📅 Jumat, 24 Jan 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pembantu Presiden Harus Jujur dan Lengkap Sampaikan Data Pangan Doc: antara
Ket. Pangan Nasional - Pentingnya Kejujuran Agar Masalah Pangan Bisa Dicarikan Solusi.

JAKARTA - Para pembantu Presiden khususnya menteri yang berkaitan dengan pangan mulai dari Menko Pangan, Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan dan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) harus jujur menyampaikan informasi kepada Presiden dan publik. Pentingnya kejujuran para menteri itu agar masalah kekurangan pangan selama ini bisa dicarikan solusi dan segera ditagani dengan baik dan tepat. 

Guru Besar Ekonomi Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwijono Hadi Darwanto yang diminta pendapatnya dari Jakarta, Kamis (23/1) menyatakan bahwa target swasembada pangan dalam waktu tiga tahun seperti disampaikan Menteri Pertanian dinilai tidak realistis yang menyebabkan masyarakat memperoleh informasi yang kurang tepat.

Sebab, upaya menuju swasembada pangan memerlukan waktu lebih dari sepuluh tahun dengan berbagai tantangan yang kompleks, terutama terkait luas lahan, cuaca, dan kebijakan yang mendukung.

“Swasembada beras saja membutuhkan tambahan areal sekitar 600 ribu hingga 1 juta hektar dengan asumsi kondisi iklim dan cuaca normal. Jika tidak normal, kebutuhan lahan bisa lebih luas lagi,” kata Dwijono kepada Koran Jakarta.

Alokasi lahan untuk padi jelasnya secara otomatis akan mengurangi ruang untuk tanaman lain seperti jagung dan kedelai, kecuali jika dilakukan pembukaan hutan. Namun, ia mengingatkan bahwa pengalaman sebelumnya menunjukkan kegagalan food estate, sehingga membuka hutan belum tentu menghasilkan produktivitas yang optimal.

Lebih jauh, Dwijono menyoroti peningkatan kebutuhan impor gandum, termasuk untuk pakan ternak. Ia menilai pengalihan dari jagung ke gandum untuk pakan ternak bukanlah keberhasilan, melainkan pengalihan masalah.

“Ini bukan swasembada, tapi pengalihan masalah. Jagung masih bisa ditanam di Indonesia, sementara gandum tidak,” tegasnya.

Dwijono juga mengkritisi kebergantungan Indonesia pada impor gandum dan garam. Menurutnya, impor garam tambang dari luar negeri yang lebih murah membuat petani garam lokal sulit bersaing.

“Garam tambang jauh lebih murah dibanding garam rakyat. Bagaimana kita mau mandiri jika tidak ada perlindungan terhadap petani lokal?” katanya.

Dia pun menekankan pentingnya perbaikan teknologi proses garam, terutama terkait impor bahan baku seperti air infus garam. “Kalau hulu tidak diperbaiki, bagaimana bisa memperbaiki hilirnya? Ini bukan persaingan yang adil,” tambahnya.

Perbaikan Sistem Irigasi

Untuk memacu produksi beras, Dwijono pun menyoroti pentingnya perbaikan sistem irigasi tersier dan kuarter yang selama ini kurang mendapatkan perhatian. Pembangunan waduk saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan perbaikan jaringan irigasi yang langsung menjangkau petani.

“Sejak reformasi, irigasi tersier dan kuarter ditelantarkan. Kalau hanya bicara waduk tanpa memperhatikan irigasi hingga ke petani, percuma. Selain itu, konsultasi dengan ahli air dari perguruan tinggi juga tidak pernah dilakukan,” ujarnya.

Masalah lain yang disoroti adalah distribusi pupuk bersubsidi yang dinilai tidak efektif. “Pupuk sulit didapat, subsidi tidak sampai, dan sering kali pupuk datang di musim tanam yang salah. Hal ini merugikan petani dan menghambat produksi,” kata Dwijono.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.