Utang dan Perubahan Iklim, Tantangan Negara Berkembang 25 Tahun ke Depan

Rabu, 22 Jan 2025, 01:15 WIB

JAKARTA- Bank Dunia memperkirakan negara-negara berkembang akan menghadapi tantangan berat pada 25 tahun mendatang terutama karena beban utang dan dampak perubahan iklim. Kekuatan yang pernah membantu kebangkitan mereka telah menghilang dan berganti dengan hambatan yang menakutkan yaitu beban utang yang tinggi, pertumbuhan investasi dan produktivitas yang lemah, serta meningkatnya biaya perubahan iklim. 

Kepala Ekonom dan Wakil Presiden Senior untuk Ekonomi Pembangunan Grup Bank Dunia, Indermit Gill dalam keterangannya Minggu (19/1) mengatakan beberapa tahun mendatang, negara-negara berkembang akan membutuhkan 'buku pedoman baru' yang menekankan reformasi domestik untuk mempercepat investasi swasta, memperdalam hubungan perdagangan, dan mempromosikan penggunaan modal, bakat, dan energi yang lebih efisien.

Ket. Foto: Bank Dunia memperkirakan negara-negara berkembang akan menghadapi tantangan berat pada 25 tahun mendatang terutama karena beban utang dan dampak perubahan iklim. — Sumber: antara

Meski demikian, Bank Dunia menegaskan negara-negara berkembang lebih penting bagi ekonomi global dibandingkan pada awal abad ini. “Mereka menyumbang sekitar 45 persen dari PDB global, naik dari 25 persen pada 2000. Saling kebergantungan mereka juga telah tumbuh, di mana lebih dari 40 persen ekspor barang mereka ditujukan ke negara-negara berkembang lainnya, dua kali lipat dari porsi pada tahun 2000,” ungkap Gill.

Wakil Kepala Ekonom Bank Dunia dan Direktur Prospects Group, M. Ayhan Kose, mengatakan di dunia yang dibentuk oleh ketidakpastian kebijakan dan ketegangan perdagangan, maka negara berkembang akan membutuhkan kebijakan yang berani dan luas untuk memanfaatkan peluang yang belum dimanfaatkan terutama kerja sama lintas batas.

“Kebijakan ekonomi makro yang baik di dalam negeri akan memperkuat kapasitas mereka untuk menavigasi ketidakpastian prospek global,” ungkapnya.

Ekonomi Berkelanjutan

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) DIY, Tim Apriyanto yang diminta pendapatnya mengatakan negara berkembang, termasuk Indonesia, harus berani meninggalkan fokus pada bisnis jangka pendek dan mengutamakan kebijakan ekonomi yang berkelanjutan.

“Kita perlu melihat ekonomi secara lebih holistik. Pendekatan yang terlalu fokus pada bisnis jangka pendek hanya akan memperburuk tantangan global. Reformasi ekonomi yang berfokus pada keberlanjutan dan efisiensi adalah jalan terbaik,” ujar Tim saat dihubungi kemarin.

Dia juga menyoroti masih tingginya kebergantungan pada konsumsi domestik dan belanja pemerintah. “Negara berkembang perlu mendorong investasi yang berkualitas, bukan sekadar meningkatkan belanja tanpa arah yang jelas. Reformasi fiskal menjadi kunci dalam memastikan anggaran publik harus diarahkan pada sektor-sektor produktif,” jelasnya.

Dalam menghadapi perubahan iklim, Tim menggarisbawahi pentingnya langkah konkret untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. “Investasi dalam energi terbarukan harus menjadi prioritas. Ini tidak hanya mendukung keberlanjutan tetapi juga membantu menekan ketergantungan pada impor energi yang membebani ekonomi,” tambahnya.

Tak lupa pula, dia menekankan pentingnya diversifikasi ekonomi dan perdagangan. “Negara berkembang harus fokus pada pengembangan produk bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing di pasar global. Hal ini tidak hanya meningkatkan devisa tetapi juga menciptakan lapangan kerja yang lebih luas,” paparnya.

Sebab itu, dia menyerukan kolaborasi antara sektor publik dan swasta untuk menciptakan sinergi yang mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang. “Hanya dengan meninggalkan pola pikir bisnis jangka pendek, kita bisa menciptakan ekonomi yang inklusif dan berdaya saing,” pungkasnya.

Ruang Fiskal Terbatas

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Atma Jaya YB. Suhartoko mengatakan, saat ini negara-negara sedang berkembang (NSB) berusaha mengejar kemajuan yang sudah dicapai negara-negara maju. Karena keterbatasan pendanaan, maka NSB banyak melakukan pendanaan utang, baik domestik maupun luar negeri.

Konsekuensinya cicilan dan biaya bunga akan menjadi beban di masa mendatang. Akibatnya, ruang fiskal produktif untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi menjadi terbatas. “Maka harus kurangi kebergantungan utang,”tegasnya.

Tantangan besar lainnya kata Suhartoko seperti disebutkan Survai World Economy Forum adalah perubahan iklim yang menyebabkan pengeluaran bengkak. Untuk konteks tersebut, transisi energi menjadi kuncinya.

  • tantangan perekonomian

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Perang Dagang AS-Kanada Memanas: Mark Carney Siapkan Bea Masuk Produk Washington

Xabi Alonso Yakin Cole Palmer Tampil Menawan Bersama Chelsea Jelang Laga Lawan Fulham

Karya Tangan Badui Unjuk Gigi di Bazar Harkop Harnas 2026

Jelang Laga Kontra Liverpool, Newcastle United Resmi Perluas Kapasitas St James' Park

Musim Durian Tiba, Kantong Warga Lebak Ikut Berbuah

3 Tantangan Berat Trent Alexander-Arnold Usai Putuskan Hengkang dari Liverpool

Virus Zika Jadi Sorotan, Dispar Bali Minta Wisman Tetap Santai Berwisata

PLN dan YBM PLN Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Promo Tambah Daya untuk Warga Lenteng Agung.

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.